Menjadi tidak populer
ebonk opini 28 February 2005 11:42 pmwenn ich ein Präsident war
Presiden SBY dengan yakinnya mengatakan bahwa “…saya siap untuk tidak populer.” Bahwa untuk kepentingan yang lebih besar, demi keadilan, dirinya harus meletakkan popularitas pribadi di urutan belakang. Mungkin, tidak banyak yang menyangka kalau SBY akan mengatakan demikian ketika menghadapi tekanan publik dan juga DPR karena harus menaikkan harga BBM. Pertanyaannya adalah, apakah popularitas begitu penting bagi seorang presiden pada umumnya, dan bagi SBY pada khususnya?
Saya ingin mengorek kembali ingatan kita tentang sebuah film kepahlawanan karya Steven Spielberg bersama David H. Franzoni dan Douglas Wick. Ya, The Gladiator! Tokoh utama, General Maximus (yang diperankan oleh Russell Crowe) pada cerita tersebut sering disebut-sebut sebagai tokoh yang mampu memenangkan popularitas. Rebut hati rakyat, maka kau jadi raja seribu tahun ! Hmmm….saya lupa nih siapa yang pernah bilang begini kepada saya..ada yang pernah ngomong begitu di PSIK.
Menjadi pahlawan tentu tidaklah mudah. Menjadi pahlawan yang dicintai rakyat tentu jauh lebih sulit lagi. Saya yakin kita semua sepakat dengan pendapat saya tersebut. Popularitas bagaikan musafir. Hari ini dia datang, besok dia bisa saja sudah pergi. Popularitas juga bagaikan pedang Azazil. Hari ini dia membela nyawa kita di peperangan, besok mungkin dia datang mendahului Izrail. Popularitas bahkan seperti uang atau harta, dia harus diperjuangkan setiap hari dan dicari setiap hari. Sebab popularitas di hari ini sudah berbeda dengan hari kemarin dan hari esok.
Tapi bagi saya, popularitas hanya menjadi konsumsi orang-orang bodoh yang menginginkan kenyamanan fisik dan fanatik. Popularitas pun kadangkala menjadi candu bagi mereka yang pikirannya dirusak oleh media di jaman orde baru. Popularitas bahkan juga pernah menjadi tuhan bagi pemimpin yang tolol dan sangat rapuh.
Kendati demikian, saya bisa mengerti dan menerima sikap sebagian besar orang terhadap fenomena “turunnya popularitas” tersebut. Terlepas dari kecondongan mendukung atau tidak mendukung. Saya melihat ada 3 golongan besar yang bermain dalam hal ini. Golongan pertama adalah orang-orang yang ikut kena “getahnya” karena terkait dan terlibat secara langsung dengan SBY, misalnya orang-orang dekat, sebagian tim ahli, sebagian fraksi di DPR, dll. Golongan kedua adalah orang-orang yang memanfaatkan kepanikan publik untuk mendapatkan keuntungan (bargain kekuasaan politik) kepada kelompok yang mendukung SBY, misalnya sebagian fraksi di DPR, kelompok penggerak massa, sebagian mahasiswa, kelompok anti militerisme, dll. Golongan ketiga adalah orang-orang yang mudah lupa dan emosional dalam menjalani perannya, misalnya orang-orang seperti kita yang langsung memuntahkan sumpah serapah dan caci maki kepada pemerintah atau siapapun yang tidak kita senangi karena mood kita jadi butek karena harga BBM naik. Waktu harga gas Elpiji naik beberapa waktu yang lalu, itu salah satu mood terburuk saya sepanjang akhir tahun kemarin.
Kemudian saya ingat, sejak masa Soeharto lengser, kebijakan menaikkan harga BBM sebetulnya sudah akrab bagi kita. Masih ingatkah anda waktu itu satu persatu semua naik, yang saya rasakan mulai harga kertas HVS naik, terus sampai harga rokok naik (wah ini sih sudah keterlaluan). Namun, saya yakin tidak ada yang menyambutnya dengan sukacita. Pasti disambut dengan kutukan, sumpah serapah dan hujatan yang sama tidak populernya. Saya juga bingung, kenapa ngga ada yang marah kalau inflasi juga naik? Suku bunga bank naik? Pajak impor komputer naik? Atau harga kondom naik? Ah, yang benar saja kamu Bung Ebonk!!! Tapi saya masih tidak bisa terima dengan absurditas sebagian besar rakyat di republik ini.
Geser sedikit ya. Saya ingat bahwa kebanyakan presiden yang kekuasaannya “tergulingkan” juga bukan disebabkan oleh kehilangan popularitas. Richard Nixon misalnya justru karena terlibat skandal Watergate. Chiang Kai Sek jatuh karena tidak bisa menjadi orang yang dihormati di China, dia tidak memberantas korupsi yang merajalela di Kuomintang. Soekarno jatuh karena tidak mempertaruhkan semua kekuatannya menghadapi kudeta. Soeharto, ah anda tau sendiri lah, kalau dibahas ngga ada habisnya.
Jelas, bagi seorang pemimpin politik, hal yang perlu diutamakan adalah reputasi dan kredibilitas. Bagi saya, kedua hal tersebut yang menjadi senjata efektif dalam menghadapi situasi apapun. Jika dia mampu memainkan permainan tanpa harus banyak kehilangan reputasi dan kredibilitasnya, istilah kerennya disebut punya integritas. Tentu kemungkinan apapun akan dihitung, jalan apapun akan ditempuh, target sebesar lobang semut pun akan diburu. Apapun resikonya.
Kalau boleh saya beri komentar sedikit tentang apa yang dilakukan Gus Dur dan Megawati (ada Hamzah Haz juga) dalam menyikapi tekanan publik akibat ketidakpopulerannya. Gus Dur cenderung tidak peduli dan menanggapi seperlunya saja sehingga terkesan “sedikit menggemaskan”. Megawati memilih untuk diam dan tidak berkomentar, tapi tetap terlihat sebagai keterpaksaan. Hamzah Haz menunjukkan sikap tidak tegas dan melempar tanggung jawab ke Megawati, inipun lebih terlihat sebagai kepanikan politik.
Saya tahu spekulasi yang saya buat perlu waktu untuk mendapatkan sebuah anggukan kepala yang ikhlas dari anda. Saya memang tidak tahu apakah SBY punya pikiran yang sama dengan saya atau tidak. Sekali lagi ini kan kolom “Jika saya menjadi presiden”. Boleh dong!
Kalau begitu kalau saya yang jadi presiden dan Anda bilang: “Kamu akan menjadi tidak populer, Jenderal!”
Setelah saya hembuskan asap rokok untuk menunjukkan keengganan saya melayani pernyataan tersebut, baru saya jawab: “Bodo Amat!”
Bacaan:
- Il Principe (Sang Penguasa) , Niccolo Machiavelli,
- Seni Perang, Sun-Tzu (bab kepemimpinan),
- Para Pakar Seni Komando (Martin Blumenson & James L),
- Kudeta , Edward Luttwak,
- Koran Kompas, Media Indonesia, Majalah Tempo
- dan teks-teks tentang Komunikasi Politik.















2 March 2005 1:51 am
Bonk, Gladiator yang ada Russell Crowe kan sutradaranya Ridley Scott? Lagian judulnya kan “Gladiator” tok bukan “The Gladiator”. Mungkin Spielberg nanti bikin “Gladiator 2″ kali nanti, hehehehehe…