Archives by Subject

Arsip June 2005

Mengapa Kau Diam Saja?

Allah,

aku datang lagi kepadamu
bersamaku kegelisahan
bersamaku kegalauan
denyutan kerancuan dalam otakku
rembesan haru dalam hatiku

otakku berputar cepat
tapi tak tahu kenapa
sketsa waktu yang tak selesai
episode yang terabaikan
jarum-jarum penat menusuk kalbuku

bercampur dan melebur
kurasakan kehadiran kegelapan
mahluk yang kubunuh jutaan tahun yang lalu
mencoba menerobos kesadaranku
menunggangi kantuk
menggoda di perbatasan naluri

bicaralah padaku
sepatah kata kehidupan
walaupun hanya sebentuk bisikan
kenapa kau tinggalkan aku?
tidakkah aku ini hambamu yang setia
kenapa kau berikan perpisahan

datanglah dan tunjukkan wajahmu
terimalah perjamuan ini
terimalah jiwa yang penasaran ini
inilah hidangan terbaikku
penuhilah cangkir kesadaranku yang mulai kosong
yang menggantung di atas sumur kegelapan

seperti di masa lalu
saat kau dan aku adalah satu
ketika jiwa-jiwa belum ada
ketika sorga dan neraka belum berpisah

kubolak-balik buku kehidupan
mencari halaman yang terlupakan
adakah jawaban yang tersisa
mengapa kau terdiam saja?

azazil
15 juni 2005 02:40

Kalau Kau Sibuk

Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat
(A. Mustofa Bisri)

Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau memanfaatkannya?

Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?

Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?

Kalau kau pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang lain saja
Kapan kau menyadari celamu sendiri

Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertikaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan Kau akan menyadari sia-sianya

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenungi arti cinta saja
Kapan kau bercinta

Kalau kau sibuk berkhutbah saja
Kapan kau menyadari kebijakan khutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan khutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?

Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikir?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang dzikiri saja
Kapan kau mengenalnya?

Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?

Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau memuisi?

Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau sibuk memakrifatinya nya-nya saja
Kapan kau bersatu dengan Nya?

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengarkan jawaban”

Logika

Topik yang dipilih dalam tinjauan pustaka ini adalah masalah berpikir dan logika. Walau terkesan sepele namun ternyata hal inilah yang banyak menjadi sumber masalah dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi mahasiswa. Logika dan ilmu menalar membahas sistematika berpikir yang dilandasi rasionalitas. Untuk melengkapi wacana tentang berpikir akan dibahas juga sedikit mengenai kreativitas dan berpikir lateral yang mempunyai hubungan erat dengan cara kerja pikiran.

Sumber - sumber pustaka yang dipilih untuk ditinjau :

  1. Logika, karangan Drs. Mundiri. Diterbitkan oleh Rajawali Press bekerjasama dengan Badan Penerbitan IAIN Walisongo Press Cetakan keempat, Februari 2000.
  2. Logika Ilmu Menalar, karangan Dr. W. Poespoprojo, S.H. Diterbitkan oleh Pustaka Grafika tahun 1999.
  3. Seni Berpikir Kreatif, karangan Jack. W. Olson. Diterbitkan oleh Penerbit Erlangga.

selengkapnya »

Mafia Manager

Diangkat kembali dari:
http://upk.fi.itb.ac.id/~ilham/publication.html

PERINGATAN ! BUKAN UNTUK PEMULA !!!!

Mafia Manager

Judul : Mafia Manager
Judul Asli : The Mafia Manager, A Guide to the Corporate Machiavelli.
Penulis : V
Tebal : 169 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1997

RINGKASAN

“Kamu bisa mendapatkan hasil lebih banyak dengan kata-kata manis dan sepucuk senjata daripada hanya dengan kata-kata manis”

Begitulah si penulis buku ini memulai pembahasannya. Kalimat tersebut merupakan “petuah” terkenal dari seorang mafia Amerika, Al Capone. Rupanya Mr. V, si penulis buku ini, benar-benar serius dan ingin pembaca buku ini menghayati “petuah” tersebut sampai-sampai ia memasukkannya dalam satu halaman khusus. Halaman khusus tersebut tercantum dalam daftar isi sebagai Prinsip Al Capone.

selengkapnya »

Last Chapter

Michael and Kay visit the home of one of his old Sicilian bodyguards from Godfather I.

Kay: “It is dangerous for you. It is Sicily.”

Michael;” I love this country. All through history, terrible things have happened to these people…But they still expect that good will happen to them.”

Kay: “Kind of like you and me.”

Michael: “But with dread.” He asks Kay to forgive him for everything. “I loved my father. I swore I would never be a man like him. But later on he was in danger. What could I do? Then you were in danger, our children were in danger….and now you’re gone. It was all for nothing.I had a whole different destiny planned.”

Kay weeps.

Michael:”I’m not the man that you think I am. I love you Kay. Don’t dread me any more.

Kay: “I always loved you Michael and I always will. . ”

A knock on the door and Michael learns that Don Tomassino has been killed. Old bodyguard yells “Blood calls for blood. I will avenge him;”

Kay: “It never ends.”

….

Michael talking softly to the dead body of Tomassino in his casket.

“Why was I so feared and you so loved? I wanted to do good. What betrayed me? My mind? My heart? I swear on the lives of my children. Give me a chance to redeem myself and I will sin no more.”