Archives by Subject

Arsip June 2005

Fatamorgana

Sang Revolusi bagaikan fatamorgana padang pasir. Selalu tampak indah dari kejauhan, seperti oase. Semakin dikejar, makin menghilang. Atau menjauh. Dahaga, kering, dan panas.

Tapi kita tidak boleh berhenti, kawan. Kita harus tetap berjalan. Jika kita terdiam, tidak ada revolusi. Diam saja adalah kejahatan terhadap revolusi. Diam saja berarti mati.

Akan tiba waktunya bagi kita untuk sampai di istana Sang Revolusi. Dan kitapun menjadi tangannya, menjadi mulutnya, menjadi kakinya, menjadi matanya, menjadi telinganya. Menggantikan musafir-musafir sebelum kita.

Dan itu adalah pasti.

Kepada Revolusi

Wahai Sang Revolusi,

Didik kami lebih keras lagi.
Jari-jari kami masih lemah untuk menggenggam.
Tangan kami masih terlalu kaku untuk memberi.
Lidah kami masih sering memaki, menghujat.

Hati kami belum peka untuk memahami.
Pikiran kami belum jernih untuk menyadari.
Kaki kami belum berani untuk berpijak.

Mata kami masih terlalu silau.
Telinga kami belum mendengar apa-apa.

Ajari kami lagi…
Lebih keras lagi…
Agar kami bisa menendang dunia ini sekuat-kuatnya
Agar kami bisa menjadi…
Manusia yang sejati

Manusia yang selalu ber-revolusi !

Kami sampaikan kepadaMu pemimpin kami, Sang Revolusi.

anak kecil

Anak kecil….

Kalian memang masih anak kecil. Walaupun usia kalian sudah kepala 2. Tetap saja, kalian adalah anak kecil. Tau yang kumaksud? Kalau kalian diberitahu, malah bandel. Tapi, kalau ada masalah, orang tua yang turun tangan karena kalian tidak bisa menghadapinya sendiri.

Entah kuping kalian terbuat dari apa? Agar-agar atau tissue kamar mandi?

Anak kecil…sini kubantu kau.

Tapi….
Jangan bikin kesalahan lagi. Jangan takabur lagi. Jangan bermalas-malasan lagi. Jangan malas mengkaji lagi. Jangan malas bergaul lagi. Jangan abaikan nasihat kami lagi.

Jangan….

Hei…jangan berterima kasih…jangan pula meminta maaf…

Sebab…

Aku ngga ingin ucapan terima kasih apalagi permintaan maaf.

Aku ingin kalian lakukan kata-kataku.

Ngerti ???!!!