Tatoo Singa
Posted on 26th July 2005 by ebonkSeorang pemuda mengunjungi sebuah klinik pembuat tatoo (tato). Dia ingin mentato seluruh punggungnya dengan gambar singa. Di negerinya, singa adalah lambang kejayaan dan kemasyhuran suatu negara.
Maka mulailah tukang tato menyiapkan jarum-jarumnya untuk ditusukkan ke punggung pemuda itu. Tukang tato memulainya dengan menggambar bagian telinga singa. Baru beberapa kali tusukan, pemuda itu mengeluh dan menjerit kesakitan.
P: “Aduh, sakit sekali. Apa yang kau gambar di situ?”
T: “Aku sedang menggambar telinganya”
P: “Sakit sekali. Lupakan telinganya, singaku tak perlu telinga”
T: “Oh, baiklah Tuan”
Kemudian, tukang tato menggambar bagian rambut. Baru beberapa detik, pemuda itu kembali menjerit kesakitan.
P: “Oh, kenapa sakit sekali. Apa yang kau buat di situ?”
T: “Aku sedang menggambar rambutnya”
P: “Sudahlah, tak perlu pakai rambut.”
T: “Oh, baiklah Tuan.”
Kemudian, tukang tato menggambar bagian ekor. Baru beberapa saat, pemuda itu kembali mengeluh.
P: “Aw, sakit sekali. Kau buat apa pula di sana?”
T: “Aku sedang menggambar ekornya”
P: “Sudah lupakan, tak perlu pakai ekor segala”
T: “Mmm baiklah tuan”
Begitu pula seterusnya, bagian kaki, perut, kepala. Sehingga tukang tato itu menjadi marah.
T: “Hey, singa macam mana yang tak punya telinga, rambut, ekor, kaki dan lainnya. Jika kau tak ingin menanggung rasa sakit dari tusukan jarumku, jangan pernah berkeinginan memiliki tato. Dasar manja!”
Moral cerita ini adalah jangan berharap memiliki kejayaan, kebahagiaan jika tak mau merasakan rasa sakit.
(Saduran bebas dari kumpulan kisah “Mengelus Punggung Singa”, Jalalludin Rumi)
Popularity: 9% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!



