Debt Collector
ebonk General 31 August 2005 8:36 am
Berkeliling membawa ransel, map plastik berisi buku-buku tabungan dan kartu ATM (BCA, Mandiri, dan Muamalat), slip tagihan untuk para outlet, kuitansi, dan beberapa ikat uang pecahan 100rb dan 50rb dan botol air minum. Sekali-sekali bawa USB flashdisk yang dikalungkan dileher. Itulah kesibukan akhir-akhir ini.
Oh, buat yang belum tau, sekedar info saja bahwa saya kini merangkap jabatan lain yang tidak pernah terpikirkan sama sekali sebelumnya, yaitu jadi DEBT COLLECTOR ! Haha… not bad! Siapa juga yang menyangka kalau salah seorang manajer di Biner Indonesia juga bisa jadi debt collector. Tidak sesulit yang pernah dibayangkan, tapi juga tidak semulus yang dibayangkan. Kirain harus bawa bodyguard, mantel terusan, sepucuk smith & wesson, dan tentu saja anak buah yang selalu setia mengawal. Ooo no..no..no… jauh sekali dari hal-hal itu.
Btw, sepertinya di Indonesia pekerjaan ini mestinya cukup banyak. Bayangkan saja, hutang luar negeri dibagi jumlah per kapita, nah hasilnya adalah utang per kapita. Kalau begitu, lembaga donor harus punya debt collector berapa?
Kebiasaan suka menunggak ini rupanya sudah mendarah daging. Orang tidak suka menyetor sendiri tagihannya. Ini bisa diamati dari cara orang bayar listrik atau telepon. Ternyata cukup banyak yang memilih untuk telat bayar dan kena denda daripada harus menyetor tepat waktu. Lha, bagaimana orang senang bayar tepat waktu kalau harus ngantri kayak ular naga. Lihat saja tempat pembayaran listrik PLN, pembayaran telepon, atau daftar ulang …
Bukankah sangat tidak menyenangkan harus antri berjam-jam hanya untuk melakukan satu transaksi? Bahkan kalau sedang ramai, orang ambil nomor antrian jam 8 baru transaksi jam 1 siang. Bah, kayak mau ngantri beras waktu jaman PKI aja.
Akhirnya banyak yang lebih memilih untuk bayar telat. Walaupun kena denda, tapi ngga harus antri lagi. Lagipula denda Rp. 5000 apalah pusingnya? Akhirnya, nunggak lebih enak daripada tepat waktu. Wow…. ini Indonesia bung ! Public service bagus masih sepeti barang mewah. Jangan salahkan konsumen yang nunggak. Sebab tidak ada manfaatnya dan tidak sepenuhnya kesalahan konsumen. ![]()
Okay, back to topik debt collector.
Nah, mayoritas konsumen-konsumen saya itu juga termasuk dalam kelompok orang yang segan kalau harus menyetor. Atau paling tidak, urusan setoran masih belum mendapat tempat yang mulia dalam pikirannya. Jadi, ya harus disamperin, ditagih. Kalau tidak, cashflow bisa kacaw balaw….
Overall jadi debt collector itu … CUAPEEEEKKK !!!! Terutama capek mental. Bayangkan saja, kita ini mau nagih tunggakan dari orang lain. Tapi diperlakukan layaknya mau minta sedekah. Do you know what i mean? Kayak mau minta sumbangan aja, banyak alasan ga penting. Lha, saya ini bukan mau minta sedekah. Saya mau ambil you punya tagihan. Tapi kok you punya attitude kayak juragan dermawan yang harus dijilat-jilat dulu baru you mau kasih you punya uang. Bah!
Menyebalkan? Ya! Tapi yang jelas, ini memberikan pengalaman baru dalam rangka gerilya di tengah the imperfect world. If you know what i mean, call 911!











