Image 01 Image 02

19
Posted on 31st August 2005 by ebonk

28277.gif Berkeliling membawa ransel, map plastik berisi buku-buku tabungan dan kartu ATM (BCA, Mandiri, dan Muamalat), slip tagihan untuk para outlet, kuitansi, dan beberapa ikat uang pecahan 100rb dan 50rb dan botol air minum. Sekali-sekali bawa USB flashdisk yang dikalungkan dileher. Itulah kesibukan akhir-akhir ini.

Oh, buat yang belum tau, sekedar info saja bahwa saya kini merangkap jabatan lain yang tidak pernah terpikirkan sama sekali sebelumnya, yaitu jadi DEBT COLLECTOR ! Haha… not bad! Siapa juga yang menyangka kalau salah seorang manajer di Biner Indonesia juga bisa jadi debt collector. Tidak sesulit yang pernah dibayangkan, tapi juga tidak semulus yang dibayangkan. Kirain harus bawa bodyguard, mantel terusan, sepucuk smith & wesson, dan tentu saja anak buah yang selalu setia mengawal. Ooo no..no..no… jauh sekali dari hal-hal itu.

Btw, sepertinya di Indonesia pekerjaan ini mestinya cukup banyak. Bayangkan saja, hutang luar negeri dibagi jumlah per kapita, nah hasilnya adalah utang per kapita. Kalau begitu, lembaga donor harus punya debt collector berapa? :D

Kebiasaan suka menunggak ini rupanya sudah mendarah daging. Orang tidak suka menyetor sendiri tagihannya. Ini bisa diamati dari cara orang bayar listrik atau telepon. Ternyata cukup banyak yang memilih untuk telat bayar dan kena denda daripada harus menyetor tepat waktu. Lha, bagaimana orang senang bayar tepat waktu kalau harus ngantri kayak ular naga. Lihat saja tempat pembayaran listrik PLN, pembayaran telepon, atau daftar ulang … :D Bukankah sangat tidak menyenangkan harus antri berjam-jam hanya untuk melakukan satu transaksi? Bahkan kalau sedang ramai, orang ambil nomor antrian jam 8 baru transaksi jam 1 siang. Bah, kayak mau ngantri beras waktu jaman PKI aja.

Akhirnya banyak yang lebih memilih untuk bayar telat. Walaupun kena denda, tapi ngga harus antri lagi. Lagipula denda Rp. 5000 apalah pusingnya? Akhirnya, nunggak lebih enak daripada tepat waktu. Wow…. ini Indonesia bung ! Public service bagus masih sepeti barang mewah. Jangan salahkan konsumen yang nunggak. Sebab tidak ada manfaatnya dan tidak sepenuhnya kesalahan konsumen. emoticon

20378.gif

Okay, back to topik debt collector.

Nah, mayoritas konsumen-konsumen saya itu juga termasuk dalam kelompok orang yang segan kalau harus menyetor. Atau paling tidak, urusan setoran masih belum mendapat tempat yang mulia dalam pikirannya. Jadi, ya harus disamperin, ditagih. Kalau tidak, cashflow bisa kacaw balaw….emoticon

Overall jadi debt collector itu … CUAPEEEEKKK !!!! Terutama capek mental. Bayangkan saja, kita ini mau nagih tunggakan dari orang lain. Tapi diperlakukan layaknya mau minta sedekah. Do you know what i mean? Kayak mau minta sumbangan aja, banyak alasan ga penting. Lha, saya ini bukan mau minta sedekah. Saya mau ambil you punya tagihan. Tapi kok you punya attitude kayak juragan dermawan yang harus dijilat-jilat dulu baru you mau kasih you punya uang. Bah!

Menyebalkan? Ya! Tapi yang jelas, ini memberikan pengalaman baru dalam rangka gerilya di tengah the imperfect world. If you know what i mean, call 911! emoticon

Popularity: 20% [?]

2
Posted on 26th August 2005 by ebonk

Population:
241,973,879 (July 2005 est.)
Population growth rate:
1.45% (2005 est.)
Birth rate:
20.71 births/1,000 population (2005 est.)
Death rate:
6.25 deaths/1,000 population (2005 est.)
HIV/AIDS – adult prevalence rate:
0.1% (2003 est.)
HIV/AIDS – people living with HIV/AIDS:
110,000 (2003 est.)
HIV/AIDS – deaths:
2,400 (2003 est.)
Major infectious diseases:
degree of risk: high
food or waterborne diseases: bacterial and protozoal diarrhea, hepatitis A and E, and typhoid fever
vectorborne diseases: dengue fever, malaria, and chikungunya are high risks in some locations (2004)

Unemployment rate:
9.2% (2004 est.)
Population below poverty line:
27% (1999)
Public debt:
56.2% of GDP (2004 est.)
Debt – external:
$141.5 billion (2004 est.)

Economic aid – recipient:
$43 billion
note: Indonesia finished its IMF program in December 2003 but still receives bilateral aid through the Consultative Group on Indonesia (CGI), which pledged $2.8 billion in grants and loans for 2004 and again in 2005; nearly $4 billion in aid money pledged by a variety of foreign governments and other groups following the 2004 tsunami; money is slated for use in relief and rebuilding efforts in Aceh.

Pertanyaannya: Lalu kita merdeka dari apa?
Lalu kita merdeka untuk apa?

Yang jelas, kerja lebih keras, bangun lebih pagi, dan belajar lebih banyak supaya tahun depan kita masih bisa teriak pekik MERDEKA !!!!

Popularity: 27% [?]

4
Posted on 17th August 2005 by ebonk

Hey, Republik…

Bagaimana rasanya kalau jadi kamu?
Bagaimana rasanya 60 tahun berdiri?
Bagaimana rasanya memiliki 250 juta rakyat?
Bagaimana rasanya punya hutang luar negeri?
Bagaimana rasanya dikorupsi oleh rakyatmu sendiri?
Bagaimana rasanya berganti orde?

Hey, Republik

Bagaimana kamu menyaksikan aku anak-anakmu lahir dari tanahmu, airnya kuminum, udaranya kuhirup, tanahnya kuinjak, isi perutnya kukorek-korek. Bagaimana kamu menyaksikan leluhurku, bapak moyangku, pergi mengembuskan nafas di pangkuanmu. Bagaimana kamu menyaksikan sodara-sodaraku yang lapar perutnya, bertelanjang kaki, tidak tamat sekolah tapi pakai kaos bola Portugal ?? Bagaimana kamu menyaksikan guru-guru kita yang suka menjual kursi sekolah? Bagaimana kamu menyaksikan orang yang kecanduan penjajahan lagi atas diri mereka?? Bagaimana kamu menyaksikan kawan-kawanku yang akal pikirannya masih terbelenggu?

Hey hey hey, Republik…

Here we are again! Kita ketemu lagi di sini. Setahun kami meninggalkanmu. Kamu punya cerita apa? Ayoh buruan cakap! Kisah dramatis, kisah garing, kisah romantis, kisah apa saja. Oh, kalau mau nyanyi juga boleh. Balada atau hymne? Rokenrol atau Indonesia Raya? Hohoho… laguku? that old fashioned song? Okay…go on! Lagukan saja….. Aha, suara kamu masih cukup merdu… tapi itu sekali lagi … pitch control … :D Semangat kalipun !

Hey, Republik. Sebentar dulu…

Kamu mau kemana? Jarang-jarang kita bisa bercakap-cakap seperti ini. Aku tahu waktuku tak banyak untuk memikirkanmu. Maklumlah, kamu kan tahu sendiri. Aku ini masih bocah kalau dibandingkan dengan usiamu. Ya, masih bocah yang sama seperti tahun kemarin. Apalah artinya awak ini dibandingkan dirimu. HAH ! Ngga lah, siapa yang merajuk ???

Hey, Republik…

Bagaimana kalau sekarang kita gantian, aku jadi kamu, kamu gantian jadi aku. Untuk sehari saja. Sekali-kali boleh dong merasakan kalau jadi kamu. Seperti apa sih memangnya? Aku pernah minta seperti ini kepada Tuhan, tapi dia tidak mau. Kamu kan tidak sesombong Tuhan.

Ayolah Republik,

Republik…. Hey…. Kok kamu diam saja?

Yah, kok malah tidur?

Phew, kamu bosan ya? Wah, kamu kelihatan capai sekali rupanya. Pastilah hari-hari bagimu lebih berat dariku. Kamu butuh liburan. Well, take your time…

(sambil berbisik)
Selamat Ulang Tahun. Dirgahayu Republikku. Merdeka !

(lalu kukecup kening Sang Republik yang sedang mendengkur)

Popularity: 10% [?]

4
Posted on 3rd August 2005 by ebonk

Baru saja baca ulasan khusus dari The Economist, Chasing the dream

As video gaming spreads, the debate about its social impact is intensifying

IS IT a new medium on a par with film and music, a valuable educational tool, a form of harmless fun or a digital menace that turns children into violent zombies? Video gaming is all these things, depending on whom you ask.

Game telah berevolusi dengan sangat pesat, dari hanya sekedar aktivitas iseng-iseng belaka kini menjadi salah satu pilar dalam dunia hiburan. Bahkan untuk di Indonesia, saat ini banyak sekali yang menawarkan pekerjaan sebagai Game Master. Artinya, untuk saat ini, game juga sudah dipandang sebagai suatu pekerjaan profesional. Namun demikian, masih banyak perdebatan mengenai dampak sosial game. Bagaimanakah sebuah game dapat mempengaruhi perkembangan jiwa, karakter, dan psikologi pemainnya?

Di Amerika, game ‘Grand Theft Auto: San Andreas’ sempat menjadi pembahasan serius oleh mantan first lady Hillary Clinton yang juga seorang senator. Pasalnya game tersebut mengandung sebuah adegan sex tersembunyi, karena game tersebut mengambil tema kehidupan gangster. Hal ini meresahkan karena game ini dimainkan oleh hampir semua kelompok umur. Saking seriusnya, Nyonya Clinton mengatakannya “stealing the innocence of our children” and “making the difficult job of being a parent even harder”. Setelah kejadian tersebut, Grand Theft Auto diganti ratingnya dari M (Mature) menjadi AO (Adult Only) oleh industry’s rating board.

1913 1914 1915

Karena hal ini menyulitkan pembuatnya, di mana banyak retailer besar yang menolak game dengan rating AO, maka kemudian pembuat Grand Theft Auto kembali merilis versi M yang tidak mengandung adegan sex tersembunyi. Hal ini kembali menyulut perdebatan ramai. Di satu sisi industri game ingin meningkatkan penjualan dan menarik konsumen sebanyak mungkin. Di sisi lain, game telah merusak perilaku ‘pecandunya’. Argumen-argumennya adalah the minutiae of rating systems, the unlocking of hidden content, and the stealing of children’s innocence, 3 faktor penting yang dilihat secara general yaitu bahwasanya perilaku game ditentukan berdasarkan faktor usia. Namun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa game membuat orang menyukai kekerasan, atau game dapat membantu pendidikan.

Menurut Nielsen, kebanyakan usia pemain game di bawah umur 40 tahun. Rata-rata usia pemain adalah 30 tahun. Kebanyakan dari mereka adalah generasi yang mengenal teknologi. Nah, kalau begini apakah game masih bisa dibilang barang anak-anak?

Kids stuff? Not anymore.

Kembali lagi kepada pertanyaan awalnya, bagaimana dampak game kepada ‘pecandunya’? Apakah game dapat meningkatkan agresifitas seseorang untuk melakukan kekerasan? Steven Johnson, seorang kritikus budaya, mengatakan bahwa tingkat kekerasan di Amerika menurun sejak tahun 1990-an di mana pada tahun tersebut game telah berkembang luas. Artinya game tidak membuat Amerika menjadi tempat penuh kekerasan.

What Link?

Begitu kompleks, karena beberapa game tertentu memang mempertunjukkan sex dan kekerasan. Memainkan peran sebagai polisi, ‘penjahat’, ‘dark forces’, maupun alien mambutuhkan empati untuk memahami posisi seorang penjahat. Jadi seorang pemain dihadapkan pada pilihan moral untuk memerankan ‘kebaikan’ atau ‘kejahatan’. Ini adalah hal yang menarik.

Di tempat lain, game juga digunakan sebagai alat bantu belajar. Memahami model sebuah sistem dapat menggunakan game sebagai simulatornya. Game juga dapat digunakan dalam pelatihan perusahaan.

Jadi, game sama halnya dengan film, musik, dan jenis hiburan lainnya. Bisa digunakan untuk mempertunjukkan kekerasan dan sex, dan juga bisa digunakan sebagai alat pendidikan, menyampaikan pesan-pesan moral. Masuknya sex dan kekerasan dalam game dipandang sebagai simbol kedewasaan, karena sudah hampir sama halnya dengan film.

Analogi lainnya dengan musik, seolah-olah muncul pola “Old stuff is respected, and new stuff is junk.” kata Mr Williams dari University of Illinois. Seperti pada kemunculan rock’n roll pada era 1950-an, saat itu musik tersebut dipandang sebagai pengaruh buruk terhadap generasi muda. Namun saat ini, rock’n roll sudah tidak dipandang sebagai sesuatu yang buruk dan pantas dihindari. Justru yang dipandang buruk adalah jenis musik baru seperti rap.

Like rock and roll in the 1950s, games have been accepted by the young and largely rejected by the old. Once the young are old, and the old are dead, games will be regarded as just another medium and the debate will have moved on. Critics of gaming do not just have the facts against them; they have history against them, too. “Thirty years from now, we’ll be arguing about holograms, or something,” says Mr Williams.

Oh, jadi generasi setelah saya nanti akan kecanduan hologram ya? :)

Popularity: 20% [?]

0
Posted on 3rd August 2005 by ebonk

Dikutip dari website Blog Business Summit 2005

About the Blog Business Summit 2005
18 Oct 04 by Steve Broback

In 1994, the Web began its transformation from an architecture for sharing physics papers into a critical platform for journalism, business, and commerce.

In 2004, Blogging and syndication have begun their migration from an architecture for sharing personal diaries into a powerful platform for journalism, business and commerce.

We’re creating an event that’s about how businesses can leverage current real-world blogging techniques, tools and platforms to promote and enhance their ventures.

Bagi yang berminat, silahkan daftar di websitenya. Lumayan murah, cuma $895 saja kok :D . Sudah termasuk biaya menginap di The Palace Hotel yang terkenal di San Francisco tea. Tapi, khusus bagi pengguna WordPress dapat potongan harga menjadi $300 saja. Infonya di sini -> $300 off registration just for being a WordPress user and using this link

Ada yang mau mensponsori saya ? hehe… :D

Untuk ikut meramaikan, pasang badges ini di website. (Dari Blog Business Summit Badges)

BBS<br />
05 Badge 1 BBS<br />
05 Badge 2 BBS<br />
05 Badge 3

Popularity: 9% [?]

4
Posted on 1st August 2005 by ebonk

Apa yang akan terjadi jika anda pernah menghadapi situasi seperti ini:

  1. Mau merokok, punya rokok tapi tak punya korek api.
  2. Mau minum sebotol coke, punya coke tapi tak punya pembuka botolnya
  3. Mau makan semangkuk es krim, punya es krim tapi tak punya sendok kayunya
  4. Mau nonton acara tv, punya tivi tapi tombok powernya tidak bekerja
  5. Mau putar kaset di compo, punya kaset dan compo tapi tak ada tombol play nya
  6. dan situasi-situasi seperti itu lainnya…

Tentu kita akan menjadi kesal, menggerundel ngga jelas, dan akhirnya otak akan mengaktifkan simpul-simpul saraf motorik ke mulut kita dan memberinya instruksi sehingga mulut kita akan dengan setia mengeksekusinya yaitu … MANYUN !!! Ya, MANYUN LAGI AJA !!!

Ini adalah hal-hal yang sering diabaikan. Mungkin karena kita sudah terbiasa melakukan hal-hal semacam itu karena rutinitas. Sehingga detail-detail kecil yang sebenarnya merupakan kunci paling pentingnya terlupakan atau tak mendapat fokus yang seharusnya.

Karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk melupakan yang kecil-kecil. Sehingga selalu ada mekanisme di alam bawah sadar untuk mengandalkan hal-hal kecil itu ke luar kemampuan kita. Menyerahkannya begitu saja kepada KEBERUNTUNGAN. Sementara pada hakikatnya tidak ada yang disebut dengan KEBERUNTUNGAN. Sebab, hubungan kausalitas selama manusia hidup selalu berlaku. Jika anda punya korek, maka anda akan punya api.

Ini semua adalah tentang hakikat kekuasaan. POWER ! Kekuasaan bukanlah dilihat karena kita bisa memindahkan Gunung Sinai, atau menggiring yahudi untuk exodus, atau menenggelamkan seluruh negeri Sodom-Gomorah ke laut hitam, atau membelah laut merah menjadi dua, ataupun menghujani pasukan gajah dengan batu panas dari neraka. Kekuasaan juga tidak bisa dilihat semena-mena dari bagaimana menggerakkan puluhan ribu orang turun ke jalan, atau menjatuhkan rejim yang berkuasa, atau mengusir bala tentara romawi dari tanah Carthago, atau mengkudeta presiden Franco the Generalisimo dari kursinya…

Kekuasaan juga berlaku saat kita akan merokok, memakan es krim, memutar kaset, menyalakan tv. TEKAN TOMBOL POWERNYA!!

Jika tidak ada, silahkan MANYUN LAGI AJA !!!

Dan kekuasaan menurut saya adalah melakukan sesuatu yang sederhana untuk orang yang kita cintai, orang yang kita hormati, orang yang sangat berarti dalam hidup kita, ataupun orang-orang yang kita inginkan untuk menerimanya. Dari manakah sumber dari kekuasaan semacam ini? Dari generator macam apakah yang mampu membangkitkan kekuatannya?

Ampun seribu ampun Yang Mulia, bukan niat hamba untuk menggoda, menurut hamba hanya satu penyebab manusia bisa melakukan semua itu dengan komitmen yang tak ada tandingnya, yaitu … CINTA ! (Go Awwwwwww…….!!!!)

Hmm..baiklah. Sekarang kamu manyun lagi aja deh ! Manyun saja dirimu, manyun your self…
Hehehe… :D

Popularity: 10% [?]