Dampak Sosial Game
Posted on 3rd August 2005 by ebonkBaru saja baca ulasan khusus dari The Economist, Chasing the dream

IS IT a new medium on a par with film and music, a valuable educational tool, a form of harmless fun or a digital menace that turns children into violent zombies? Video gaming is all these things, depending on whom you ask.
Game telah berevolusi dengan sangat pesat, dari hanya sekedar aktivitas iseng-iseng belaka kini menjadi salah satu pilar dalam dunia hiburan. Bahkan untuk di Indonesia, saat ini banyak sekali yang menawarkan pekerjaan sebagai Game Master. Artinya, untuk saat ini, game juga sudah dipandang sebagai suatu pekerjaan profesional. Namun demikian, masih banyak perdebatan mengenai dampak sosial game. Bagaimanakah sebuah game dapat mempengaruhi perkembangan jiwa, karakter, dan psikologi pemainnya?
Di Amerika, game ‘Grand Theft Auto: San Andreas’ sempat menjadi pembahasan serius oleh mantan first lady Hillary Clinton yang juga seorang senator. Pasalnya game tersebut mengandung sebuah adegan sex tersembunyi, karena game tersebut mengambil tema kehidupan gangster. Hal ini meresahkan karena game ini dimainkan oleh hampir semua kelompok umur. Saking seriusnya, Nyonya Clinton mengatakannya “stealing the innocence of our children†and “making the difficult job of being a parent even harderâ€. Setelah kejadian tersebut, Grand Theft Auto diganti ratingnya dari M (Mature) menjadi AO (Adult Only) oleh industry’s rating board.
Karena hal ini menyulitkan pembuatnya, di mana banyak retailer besar yang menolak game dengan rating AO, maka kemudian pembuat Grand Theft Auto kembali merilis versi M yang tidak mengandung adegan sex tersembunyi. Hal ini kembali menyulut perdebatan ramai. Di satu sisi industri game ingin meningkatkan penjualan dan menarik konsumen sebanyak mungkin. Di sisi lain, game telah merusak perilaku ‘pecandunya’. Argumen-argumennya adalah the minutiae of rating systems, the unlocking of hidden content, and the stealing of children’s innocence, 3 faktor penting yang dilihat secara general yaitu bahwasanya perilaku game ditentukan berdasarkan faktor usia. Namun tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa game membuat orang menyukai kekerasan, atau game dapat membantu pendidikan.
Menurut Nielsen, kebanyakan usia pemain game di bawah umur 40 tahun. Rata-rata usia pemain adalah 30 tahun. Kebanyakan dari mereka adalah generasi yang mengenal teknologi. Nah, kalau begini apakah game masih bisa dibilang barang anak-anak?
Kembali lagi kepada pertanyaan awalnya, bagaimana dampak game kepada ‘pecandunya’? Apakah game dapat meningkatkan agresifitas seseorang untuk melakukan kekerasan? Steven Johnson, seorang kritikus budaya, mengatakan bahwa tingkat kekerasan di Amerika menurun sejak tahun 1990-an di mana pada tahun tersebut game telah berkembang luas. Artinya game tidak membuat Amerika menjadi tempat penuh kekerasan.
Begitu kompleks, karena beberapa game tertentu memang mempertunjukkan sex dan kekerasan. Memainkan peran sebagai polisi, ‘penjahat’, ‘dark forces’, maupun alien mambutuhkan empati untuk memahami posisi seorang penjahat. Jadi seorang pemain dihadapkan pada pilihan moral untuk memerankan ‘kebaikan’ atau ‘kejahatan’. Ini adalah hal yang menarik.
Di tempat lain, game juga digunakan sebagai alat bantu belajar. Memahami model sebuah sistem dapat menggunakan game sebagai simulatornya. Game juga dapat digunakan dalam pelatihan perusahaan.
Jadi, game sama halnya dengan film, musik, dan jenis hiburan lainnya. Bisa digunakan untuk mempertunjukkan kekerasan dan sex, dan juga bisa digunakan sebagai alat pendidikan, menyampaikan pesan-pesan moral. Masuknya sex dan kekerasan dalam game dipandang sebagai simbol kedewasaan, karena sudah hampir sama halnya dengan film.
Analogi lainnya dengan musik, seolah-olah muncul pola “Old stuff is respected, and new stuff is junk.†kata Mr Williams dari University of Illinois. Seperti pada kemunculan rock’n roll pada era 1950-an, saat itu musik tersebut dipandang sebagai pengaruh buruk terhadap generasi muda. Namun saat ini, rock’n roll sudah tidak dipandang sebagai sesuatu yang buruk dan pantas dihindari. Justru yang dipandang buruk adalah jenis musik baru seperti rap.
Like rock and roll in the 1950s, games have been accepted by the young and largely rejected by the old. Once the young are old, and the old are dead, games will be regarded as just another medium and the debate will have moved on. Critics of gaming do not just have the facts against them; they have history against them, too. “Thirty years from now, we’ll be arguing about holograms, or something,†says Mr Williams.
Oh, jadi generasi setelah saya nanti akan kecanduan hologram ya? ![]()
Popularity: 20% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!
Tulisan lainnya
Memang pilihan sulit antara keuntungan dan moral, walaupun saya juga main game ini, tapi saya tidak akan pernah merekomendasikan game ini untuk adik-adik saya yg belum cukup umur. Dan ini akan menjadi PR besar bagi orang tua saat ini untuk mulai mengetahui apa yg sedang dilakukan anak2nya…. Para orang tua sudah diingatkan untuk lebih banyak memberikan waktunya bagi anak-anak.
itu game Bok*p ya…?
lagi rame sekarang…?
*maklum… ga nge Game..*
Heh Ilham rizki
Mau dong game esek2 nya….:P
Heh Ilham rizki
Lu pengedar sekarang yak.:D
Heh Ilham rizki
Berapa nomor hp lu
Heh ilham rizki
Dah kawin yak
Heh Ilham rizki
Kawin sono
Heh ilham rizki
Perasaan gue pernah liat model comment ini, dimana ya?
Heh Ilham rizki
Ini seharusnya comment di Heh republik
Heh ilham rizki
Masih diterusin baca comment gue ini?
Heh Ilham rizki
Elu ebonk bukan?
game boleh2 saja asalkan tdk berlebihan
wah akhirnya ketemu juga disini






