Profesionalisme atau Arogansi
Posted on 21st September 2005 by ebonkSeorang insinyur teknik mesin yang ahli pesawat terbang menjadi presiden, kemudian banyak orang mencibir: "Urus saja sekrup-sekrup pesawat terbang, ngga usah urus negara…"
Seorang dalang wayang golek bicara tentang agama dan ketuhanan, kemudian banyak orang mengejek: "Dalang tugasnya ngurus wayang, bukan ngurusin agama …"
Seorang ahli fisika nuklir bicara tentang pentingnya menghentikan perang, kemudian banyak orang mengolok: "Ahli fisika tau apa tentang politik, urus saja rumus-rumus …"
Seorang mahasiswa bicara tentang pentingnya perubahan dan pergantian kekuasaan, kemudian orang mengejek: "Mahasiswa tau apa soal negara, kuliah aja yang bener…"
Saya jadi berpikir, berimajinasi, dan teringat sebuah tulisan anand krishna. Apa yang akan dikatakan Muhammad jika ia hidup di jaman ini? Tentu ia akan menjawab:
"Mereka akan bilang, urus saja onta-onta dan kambing-kambing pamanmu, tak usah ngomong agama…itu tugas ahli kitab"
Apa yang akan dikatakan Pangeran Sidharta jika ia hidup di jaman ini? Tentu ia akan bilang:
"Mereka akan mengolokku, urus saja administrasi kerajaan. Tak usah ngomong agama. itu tugas para brahmana …"
Apa pula yang akan dikatakan Isa Sang Mesiah yang seorang gembala, Musa yang Jenderal, Yusuf si pelayan, dan nabi-nabi Allah lainnya?
Apakah pada zamannya mereka mempunyai otoritas terhadap kebenaran, sebuah agama, atau sebuah ajaran? Apakah mereka mempunyai gelar keagamaan tertentu? Apakah mereka telah memiliki kekuasaan atas agama atau kebenaran?
TIDAK !!!
Justru merekalah yang menghancurkan tirani jahiliyah, meruntuhkan kekuasaan para ahli kitab, melawan mainstream. Mainstream milik para ahli kitab, para ulama jamannya, para pendeta jamannya. Mainstream menciptakan mindset yang merupakan monopoli golongan elit agama. Mainstream itu hancur atas kehendak Sang Kebenaran itu sendiri.
Bukankah setiap ajaran pertama kali disampaikan dalam bentuk yang ‘aneh’ di jaman itu?
Geli dan menggelikan, melihat kelakuan para ulama dan ‘ahli kitab’ jaman sekarang. Lebih menggelikan lagi, penyakit ini menular luas di kalangan akademisi, politisi, birokrasi, bahkan para saintis. Untuk sebuah alasan yang sangat mengada-ada: profesionalisme.
Huahahaha… f*ckin idiot!
Harkat kemanusiaan mana bisa dibandingkan dengan profesionalisme? Memangnya pencapaian tertinggi kesadaran manusia itu profesionalisme? Apa tahayul bisa dihilangkan dengan profesionalisme? Bodoh! Tolol !![]()
Ini sih masalah ego mengenai siapa yang paling benar, masalah arogansi. Jadi, sebenarnya siapa menipu siapa ?
Dan apakah sejarah lama akan terulang? Apakah ini pertanda akan datangnya nabi? Wallahu a’lam.
Disampaikan dalam rangka Ulang Tahun PSIK – ITB ke 35 di Sunken Court W-09.
Popularity: 14% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!
Tulisan lainnya
Hahaha.. ebonk…. dengan tulisannya yang seger….
Saran gw : urusin proyek lu tuh ! Jangan ngurusin PSIK !!!
)
[kidding]
Well… yap benar. Gw sendiri muak liat tingkah laku orang2 yang sok suci. Beda pandangan religius sedikit, diserbu. Ahmadiyah, Kristen ( di daerah mayoritas Islam di Jawa ), Islam (di daerah mayoritas Kristen di Papua), jadi korban ketololan2 orang2 munafik dan sok suci. Gw jadi berpikir : apakah surga itu isinya orang2 yang suka membenci / membunuh / merusak dsb ??
Lalu apa gunanya gw berbuat baik / amal ?
Ada nabi baru!
Dia bernama “rice cooker”!
Baca buku “Robohnya Surau Kami” aja, karya AA Navis. Karya klasik yang masih seru untuk dibaca terus menerus. Ide tulisannya boleh juga Bonk. Tapi gaya-nya kurang asyik ah.



