Judul di atas adalah tema sebuah diskusi Bandung Business Forum yang diselenggarakan oleh Lorco, sebuah perusahaan tenant Pusat Inkubator Bisnis ITB. Tokoh yang hadir selaku narasumber/pembicara tunggal adalah Perry Tristianto, raja FO (factory outlet) di Bandung. Bertempat di ruangan Ganesha Pusat Inkubator Bisnis ITB dan dimulai pada pukul 15.00 lebih sedikit, ternyata menarik audiens cukup banyak (sekitar 50 orang) yang kebanyakan berasal dari kalangan kampus ITB. Bertindak selaku moderator adalah Mas Widodo (ketua divisi Pendampingan PIB) dan ketua panitia Rezki Agung (alumni Teknik Sipil ITB).

Berikut laporan singkat dan seadanya dari saya selaku salah satu audiens.

Perry Tristianto (35 tahun) mengenakan busana sederhana, kemeja kuning kotak-kotak, celana kasual, sepatu warna coklat gelap dan membawa buku catatan pribadinya. Saya bertanya-tanya, mengapa pemilik sekitar 18 outlet pakaian di Bandung itu memilih penampilan yang seadanya?

Setelah sambutan dari ketua Panitia, Perry memulai pembahasan dengan gaya yang lugas, ceplas-ceplos, dan menggunakan bahasa yang cukup sederhana. Ia tidak menggunakan alat bantu peraga seperti slide presentasi maupun bahan tertulis lainnya. Alur pembahasan tidak runut namun tetap memiliki arah yang jelas dan memiliki penekanan untuk hal-hal tertentu.

Pertama kali terjun di dunia wirausaha setelah berhenti sebagai pegawai sebuah perusahaan rekaman di Bandung. Waktu itu muncul ide untuk membuat kaos dengan tema musik (jazz). Ide tersebut dijalankan dengan persiapan yang seadanya, namun punya target yang jelas dan lokasi yang sudah dipilih. Ia memilih untuk berjualan kaos di pinggir jalan di daerah puncak, dekat restoran Rindu Alam. Menurutnya, pelanggan restoran tersebut adalah pasar yang potensial karena segmennya berasal dari kalangan menengah ke atas. "Karena mereka pasti punya mobil" tukasnya. Ia mengajak pembantu di rumahnya untuk melayani pembeli sementara Ia sendiri mengawasi dari tempat lain.

Dari cerita tersebut Ia menekankan pentingnya unsur KEBERANIAN untuk terjun ke dunia tersebut. Ide dapat muncul dari mana saja kalau sering melakukan pengamatan, bergaul dan "main". Dari ide yang sederhana dan kecil yang justru akan berkembang ketimbang ide yang besar dan rumit, karena sulit dikejar dan dikerjakan. Perry mengeluhkan bahwa generasi muda sekarang yang pernah berkonsultasi dengannya dan berniat menjadi pengusaha lebih menekankan unsur modal (kapital), bukan keberanian. Menurutnya, berdasarkan pengalamannya sendiri, uang akan datang dengan sendirinya kalau kita sudah terjun.

Biasanya orang yang baru mau terjun ke dunia usaha selalu dibuat pusing dengan pikiran bagaimana mencari modal, membuat badan usaha, dan lain sebagainya. Perry memberikan trik agar fokus dulu pada kerjanya, yang lain bisa menyusul. Apalagi jaman sekarang banyak bidang usaha yang dapat dimulai dengan tanpa modal sama sekali.

Sebagai bisnisman, Perry mempunyai gaya tersendiri. Dalam menghadapi kompetitor yang lebih kecil darinya, ia tidak mau berhadapan langsung. Untuk menghadapi kompetitornya, Ia mengibaratkannya seperti main catur. FO-FO yang dimilikinya bagaikan pion-pion untuk menghadapi kompetitor tertentu. Kalau salah satu pionnya jatuh, ia masih punya cadangan pion-pion yang lain.

Walaupun dijuluki raja FO di Bandung atau bigboss, namun Perry tidak malu untuk terjun langsung mengurusi FO-FO nya. Ia sendiri masih menangani pergudangan untuk pekerjaan mendistribusikan pakaian. Ciri khas ini memang banyak dimiliki para pengusaha keturunan Cina. Mereka tidak gengsi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar atau kuli walaupun mereka bigbossnya. Contoh ini sudah sering saya lihat di tempat tinggal saya di Bekasi di mana para tetangga keturunan Cina yang menjadi pengusaha tetap low profile walaupun sudah menjadi bos.

Overall, saya menyimpulkan bahwa apa yang dipaparkan oleh Perry memang sejalan dengan pemahaman saya mengenai mitos-mitos bisnis. Di antara mitos-mitos bisnis yang telah dihancurkan oleh Perry antara lain:

  • Untuk memulai usaha butuh modal besar, ini sudah tidak relevan. Jaman sekarang banyak usaha yang dimulai dengan modal minim bahkan nol.
  • Untuk memulai usaha butuh pengalaman kerja, juga tidak akurat. Justru semakin lama orang bekerja, kecenderungannya akan makin nyaman sebagai pekerja dan semakin jauh dari keberanian memulai usaha.
  • Untuk memulai usaha harus memiliki kematangan usia, ini juga tidak benar. Justru semakin muda memulainya akan semakin baik. Semakin tua makin kurang tenaga dan ketelitian sehingga barrier untuk memulainya makin besar.

Jadi, di manakah letak kegilaannya?  Menjadi pengusaha yang sukses yang karena orang yang "biasa-biasa saja", bukan anak orang kaya, bukan anak pejabat, bukan modal warisan, tentu hanya "orang gila" yang bisa melakukannya.

Namun yang masih disayangkan adalah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada pembicara masih sangat dangkal dan terlihat "mentah". Pertanyaan yang diajukan kebanyakan seputar motivasi, profesionalisme, dan semua yang berhubungan dengan perasaan pribadi. Ini karena arah pertanyaannya bukan membuat eksplorasi makin luas, justru mengajak mundur ke belakang. Patut disayangkan karena harusnya kesempatan baik ini digunakan untuk "mencuri" ilmu dari sumbernya langsung. emoticon

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • description
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists
  • blogmarks
  • Fleck
  • Netscape
  • Reddit
  • Shadows
  • Slashdot
  • StumbleUpon