Nah, saya jalan-jalan di swalayan lagi. Kali ini mata saya menangkap objek yang lain, sebuah minuman kaleng yang sudah akrab buat kita: Green Sands. Minuman ini juga pernah membuat kenangan unik dalam hidup saya. Unik karena terjadi waktu masih balita.
Waktu itu saya masih berumur 2 tahun lebih sedikit. Kedua orang tua saya bekerja dan setiap hari saya dititipkan di rumah kakek (alm) yang jaraknya memang dekat, di samping stasiun kereta api Bekasi. Biasanya selepas maghrib, barulah saya dijemput oleh orang tua setelah mereka pulang. Saya memang jadi sangat dekat dengan kakek. Saya juga memanggil kakek dengan panggilan ‘bapak’ seperti ibu dan bapak saya memanggilnya.
Suatu hari ada seorang yang datang bertamu, rupanya saudara jauh. Dia seumuran kakek juga. Saat itu saya sedang main di teras rumah. Saudara kakek yang satu ini memang suka ‘minum’. Dia memesan sebotol Green Sand di warung sebelah. Saya, yang belum tahu minuman macam apa itu, bertanya dengan lugunya: “Bapak, itu apa?” Rupanya kakek jadi gusar melihat saya yang mupeng sama minuman itu. Dia menjawab: “Eh, ini mah bukan buat anak kecil…ga boleh yah… “. Saya ngga berani membantah, saya memang takut sama kakek walaupun dia jarang marah. Entah kenapa, mungkin karena saya sering tertegun melihat fotonya dengan seragam angkatan udara lengkap dengan pedang jepang yang dipajang di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, mereka berbincang-bincang ke luar. Gelas besar berisi Green Sands yang masih penuh ditinggalkan begitu saja di meja. Dan waktu pun berjalan begitu cepat……
Ketika mereka kembali, tamu kakek hendak mengambil gelas Green Sandsnya. Dia heran, kenapa isinya tinggal sedikit? Padahal dia belum menyentuhnya sama sekali. Siapa yang minum? Tidak ada orang lain di tempat itu kecuali saya. Saya sedang tertidur sambil duduk di kursi. Mulut sedikit terbuka. Tidur dengan begitu damai, bukan itu kebiasaan saya kalau siang hari begini. Kakek curiga dan hidungnya diarahkan, mengendus muka saya. Bau alkohol!
“O ini dia. Si Ilham minum green sands. Pantes mabok!” katanya sambil menggendong saya ke kamar tidur. Mereka tertawa dan menceritakannya ke semua orang, nenek, om dan tante.
Lepas maghrib, orang tua saya datang menjemput. Alangkah herannya ketika mereka mendapati saya masih tertidur pulas dengan damainya. Alhasil tidak ada keluhan apa-apa, ya nakal lah, ya gini lah, ya gitu lah. Kecuali soal 3/4 gelas berisi green sands yang saya habiskan siang itu. Sejak siang itu, sudah lebih dari 8 jam saya tertidur dan belum terbangun bahkan sampai saya dijemput. Minuman yang hebat.
That’s a true story. Moralnya: “jangan bikin gw penasaran”.Â
Popularity: 10% [?]
Apa hubungan tepung maizena dengan pendidikan? Ada hubungannya.
Suatu hari ketika saya sedang belanja sambil jalan-jalan di sebuah swalayan di Jakarta, saya melewati rak yang berisi deretan tepung-tepung dengan berbagai merek. Mata saya pun menangkap sebuah objek yang sangat akrab dalam ingatan saya, kotak Tepung Maizena merek Honig. Lantas ingatan lama saya pun muncul kembali. Berikut ceritanya:
—
Waku itu saya masih kelas 3 SD. Musim ujian pun tiba. Hari itu adalah ujian mata pelajaran IPS. Salah satu soalnya berbunyi “Tepung Maizena terbuat dari:”. Soalnya berbentuk pilihan ganda. Saya percaya semua anak di dunia yang pernah melihat kotak tepung maizena akan menjawabnya dengan yakin, “JAGUNG”.
Waktu itu ada kebiasaan di sekolah saya bahwa anak murid dipekerjakan untuk memerikas berkas jawaban. Setelah ujian, kami dapat “pekerjaan tambahan” itu. Lembar jawaban di tukar-tukar, dan setiap murid memeriksa milik murid lainnya. Tugasnya hanya menandai jawaban yang benar dan salah kemudian menjumlahkan skor/nilainya.
Nah, yang membuat saya terkejut adalah jawaban untuk soal tepung maizena itu. Ternyata jawaban yang “benar” menurut guru saya, TEPUNG MAIZENA TERBUAT DARI RUMPUT LAUT . Ow my God! Tentu saja saya langsung interupsi. “Pak, yang benar tepung maizena itu terbuat dari jagung” Saya pikir, dia pasti salah coret atau lupa atau kekeliruan kecil lainnya. Namun, pak guru wali kelas yang sebetulnya guru agama islam itu menjawab dengan yakinnya. “Ngga, salah. Yang betul itu dari rumput laut!”. Saya hampir tidak percaya dan saya berikan argumen yang lebih mendukung. “Ibu saya punya tepung maizena makanya saya tahu tepung maizena itu dari jagung!”. Rupanya beliau merasa sedikit tersinggung dengan jawaban seperti itu. Tak mau kalah dia menjawab. “Bapak dapat jawabannya dari buku ini, kalau dari buku ini yang benar jawabannya dari rumput laut”. Katanya sambil mata lebih melotot.
Sungguh tidak bisa dipercaya. Saya tahu dia berbohong. Saya tahu jawaban dia salah. Saya tahu saya yang benar. Tapi dia guru, dan saya murid. Yang lebih menyedihkan, teman-teman saya yang lain tidak membantu. Mungkin tidak berani membantah. Mungkin juga karena memang tidak tahu tepung maizena. Merasa sendirian, saya hampir mau menangis. Akhirnya saya pun terdiam. Saya tersinggung. Saya marah karena jawaban saya (yang benar) disalahkan. Saya benci guru itu. Hilang sudah rasa hormat saya kepadanya. Bagi saya dia tidak bisa saya anggap sebagai guru. Saya tidak percaya guru. Saya tidak percaya ujian, karena ujian saya yang lain pun pasti dikerjakan dengan cara seperti itu.
Akhirnya, ketika pulang ke rumah saya mengadukan kejadian tersebut kepada ibu saya. Alangkah kagetnya beliau ketika mendengarnya. Beliau pun berkata: “Nanti waktu ambil rapor, kamu bawa aja kotak tepung maizena. Trus, tunjukin ke Pak nana. Bilang sama dia, pak ini buktinya kalau tepung maizena itu dari jagung!” Saya setuju, saya merasa cukup terhibur karena saya tidak lagi memikirkan satu poin soal yang terkorbankan. Tapi, sekarang saya memikirkan untuk menunjukkan yang benar dengan bukti sebuah kotak tepung maizena.”
Hari pengambilan rapor pun tiba. Berbeda dengan teman-teman yang lain, saya tidak diantar oleh orang tua. Jadi saya harus menghadapi beliau dan melakukannya sendiri. Saya menunggu kesempatan yang ditunggu-tunggu. Saya menunggu sampai nama saya dipanggil. Sambil menunggu, saya menunjukkan kotak tepung maizena merek honig dari ibu saya kepada teman-teman. Kebanyakan mereka cuma tertawa, karena mereka sudah melupakan soal itu. Akhirnya nama saya pun dipanggil. Rapor saya terima dan saya lihat nilai-nilai saya memang tidak mengecewakan. Rangking satu pun masih saya pegang. Tapi urusan maizena itu masih membakar perasaan saya. Akhirnya, setelah beliau selesai dengan kata-katanya, giliran saya yang bicara. Saya mengeluarkan kotak tepung maizena honig dari dalam baju sekolah saya dan saya bilang: “Pak, saya mau tunjukin kalau tepung maizena itu dari jagung bukan dari rumput laut” dan kotak itu pun saya tunjukkan ke depan pak guru.
Beliau menjawab, “Ooo iya iya. Maksudnya tepung merek Maizena bukan tepung maizena…” Ooooww… sungguh dagelan yang menyedihkan. Saya tidak mau berdebat lagi. Bagi saya sudah cukup jelas dan saya sudah punya alasan untuk tidak sepenuhnya percaya kepada guru sekolah. Ternyata guru sekolah juga ada yang bodoh dan salah. Ilmu yang disampaikan pun jadi salah. Artinya saya tidak bisa lagi percaya seratus persen terhadap pelajaran yang saya terima.
Jika saya seorang presiden, mungkin saya akan meregistrasi ulang semua guru di negara ini. Memberikan ujian tertulis untuk mengetahui apakah ilmu mereka up-to-date atau sudah kadaluwarsa. Dan untuk memperbaruinya, membuatnya up-to-date, saya wajibkan mereka berlangganan majalah atau koran yang bermutu, jurnal-jurnal pengetahuan. Supaya mereka tidak bikin malu negara yang menggaji mereka untuk mendidik anak Indonesia.
—
Sekarang setiap saya melihat tepung maizena honig itu saya jadi suka tersenyum sendiri. Mudah-mudahan cuma saya di dunia ini yang pernah mendapatkan pengalaman seperti itu.
Untuk anak-anak Indonesia di manapun berada, jangan percaya gurumu (sepenuhnya)! Belajar sendiri!
Popularity: 21% [?]
Hari ini menjelang pukul 9.00 pagi saat sedang meeting, saya ditelpon dari nomor tidak dikenal, 08881790378 ke pesawat Mobile-8 saya. Terdengar suara lelaki dengan logat melayu menyapa dari seberang, kemudian terjadi percakapan berikut:
He : “Halo, mohon maaf menggangu .. ini dari Mobile-8 Pak”
Me : (Curiga, tidak mungkin Mobile-8 menghubungi saya pakai nomor konsumen) “Ya ..???”
He : “Betul nomor bapak 0888*******?”
Me : “Ya betul”
He : “O ok, kalau begitu maaf ini dengan Pak siapa ya?”
Me : (Kalau dia memang benar dari Mobile-8, dia harusnya tau dengan siapa, sebab saya sudah mendaftarkan nomor saya ke Mobile-8 lewat 4444) “Harusnya bapak tahu nama saya, sebab saya sudah daftarkan nomor saya ke Mobile-8.”
He : “O, dengan pak Fadli bukan?”
Me : “Bukan”
He : “Andi?”
Me : “Bukan”
He : “Anjing?”
Me : “Bukan” (mulai kesal dia)
He : “Setan juga bukan”
Me : “Bukan”
Tak mau buang-buang waktu, saya putuskan pembicaraan. Walaupun kesal karena terganggu dan sikap tidak sopannya, saya merasa senang dan beruntung. Kejadian ini pernah terjadi sekali, dia minta nomor ATM. Saya sudah tau akan ditipu, makanya saya ngga saya ladeni.
Buat anda, orang pemalas yang mencoba menipu saya dengan trik murahan dan amatiran begitu, sebaiknya segera mencari pekerjaan lain yang lebih nyata dan jelas. Get a real life …. you morron!
Popularity: 11% [?]



