Apa hubungan tepung maizena dengan pendidikan? Ada hubungannya.

Suatu hari ketika saya sedang belanja sambil jalan-jalan di sebuah swalayan di Jakarta, saya melewati rak yang berisi deretan tepung-tepung dengan berbagai merek. Mata saya pun menangkap sebuah objek yang sangat akrab dalam ingatan saya, kotak Tepung Maizena merek Honig. Lantas ingatan lama saya pun muncul kembali. Berikut ceritanya:

Waku itu saya masih kelas 3 SD. Musim ujian pun tiba. Hari itu adalah ujian mata pelajaran IPS. Salah satu soalnya berbunyi “Tepung Maizena terbuat dari:”. Soalnya berbentuk pilihan ganda. Saya percaya semua anak di dunia yang pernah melihat kotak tepung maizena akan menjawabnya dengan yakin, “JAGUNG”.

Waktu itu ada kebiasaan di sekolah saya bahwa anak murid dipekerjakan untuk memerikas berkas jawaban. Setelah ujian, kami dapat “pekerjaan tambahan” itu. Lembar jawaban di tukar-tukar, dan setiap murid memeriksa milik murid lainnya. Tugasnya hanya menandai jawaban yang benar dan salah kemudian menjumlahkan skor/nilainya.

Nah, yang membuat saya terkejut adalah jawaban untuk soal tepung maizena itu. Ternyata jawaban yang “benar” menurut guru saya, TEPUNG MAIZENA TERBUAT DARI RUMPUT LAUT . Ow my God! Tentu saja saya langsung interupsi. “Pak, yang benar tepung maizena itu terbuat dari jagung” Saya pikir, dia pasti salah coret atau lupa atau kekeliruan kecil lainnya. Namun, pak guru wali kelas yang sebetulnya guru agama islam itu menjawab dengan yakinnya. “Ngga, salah. Yang betul itu dari rumput laut!”. Saya hampir tidak percaya dan saya berikan argumen yang lebih mendukung. “Ibu saya punya tepung maizena makanya saya tahu tepung maizena itu dari jagung!”. Rupanya beliau merasa sedikit tersinggung dengan jawaban seperti itu. Tak mau kalah dia menjawab. “Bapak dapat jawabannya dari buku ini, kalau dari buku ini yang benar jawabannya dari rumput laut”. Katanya sambil mata lebih melotot.

Sungguh tidak bisa dipercaya. Saya tahu dia berbohong. Saya tahu jawaban dia salah. Saya tahu saya yang benar. Tapi dia guru, dan saya murid. Yang lebih menyedihkan, teman-teman saya yang lain tidak membantu. Mungkin tidak berani membantah. Mungkin juga karena memang tidak tahu tepung maizena. Merasa sendirian, saya hampir mau menangis. Akhirnya saya pun terdiam. Saya tersinggung. Saya marah karena jawaban saya (yang benar) disalahkan. Saya benci guru itu. Hilang sudah rasa hormat saya kepadanya. Bagi saya dia tidak bisa saya anggap sebagai guru. Saya tidak percaya guru. Saya tidak percaya ujian, karena ujian saya yang lain pun pasti dikerjakan dengan cara seperti itu.

Akhirnya, ketika pulang ke rumah saya mengadukan kejadian tersebut kepada ibu saya. Alangkah kagetnya beliau ketika mendengarnya. Beliau pun berkata: “Nanti waktu ambil rapor, kamu bawa aja kotak tepung maizena. Trus, tunjukin ke Pak nana. Bilang sama dia, pak ini buktinya kalau tepung maizena itu dari jagung!” Saya setuju, saya merasa cukup terhibur karena saya tidak lagi memikirkan satu poin soal yang terkorbankan. Tapi, sekarang saya memikirkan untuk menunjukkan yang benar dengan bukti sebuah kotak tepung maizena.”

Hari pengambilan rapor pun tiba. Berbeda dengan teman-teman yang lain, saya tidak diantar oleh orang tua. Jadi saya harus menghadapi beliau dan melakukannya sendiri. Saya menunggu kesempatan yang ditunggu-tunggu. Saya menunggu sampai nama saya dipanggil. Sambil menunggu, saya menunjukkan kotak tepung maizena merek honig dari ibu saya kepada teman-teman. Kebanyakan mereka cuma tertawa, karena mereka sudah melupakan soal itu. Akhirnya nama saya pun dipanggil. Rapor saya terima dan saya lihat nilai-nilai saya memang tidak mengecewakan. Rangking satu pun masih saya pegang. Tapi urusan maizena itu masih membakar perasaan saya. Akhirnya, setelah beliau selesai dengan kata-katanya, giliran saya yang bicara. Saya mengeluarkan kotak tepung maizena honig dari dalam baju sekolah saya dan saya bilang: “Pak, saya mau tunjukin kalau tepung maizena itu dari jagung bukan dari rumput laut” dan kotak itu pun saya tunjukkan ke depan pak guru.

Beliau menjawab, “Ooo iya iya. Maksudnya tepung merek Maizena bukan tepung maizena…” Ooooww… sungguh dagelan yang menyedihkan. Saya tidak mau berdebat lagi. Bagi saya sudah cukup jelas dan saya sudah punya alasan untuk tidak sepenuhnya percaya kepada guru sekolah. Ternyata guru sekolah juga ada yang bodoh dan salah. Ilmu yang disampaikan pun jadi salah. Artinya saya tidak bisa lagi percaya seratus persen terhadap pelajaran yang saya terima.

Jika saya seorang presiden, mungkin saya akan meregistrasi ulang semua guru di negara ini. Memberikan ujian tertulis untuk mengetahui apakah ilmu mereka up-to-date atau sudah kadaluwarsa. Dan untuk memperbaruinya, membuatnya up-to-date, saya wajibkan mereka berlangganan majalah atau koran yang bermutu, jurnal-jurnal pengetahuan. Supaya mereka tidak bikin malu negara yang menggaji mereka untuk mendidik anak Indonesia.

Sekarang setiap saya melihat tepung maizena honig itu saya jadi suka tersenyum sendiri. Mudah-mudahan cuma saya di dunia ini yang pernah mendapatkan pengalaman seperti itu.

Untuk anak-anak Indonesia di manapun berada, jangan percaya gurumu (sepenuhnya)! Belajar sendiri!

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • bodytext
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • description
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists
  • blogmarks
  • Fleck
  • Netscape
  • Reddit
  • Shadows
  • Slashdot
  • StumbleUpon