Siang hari di Pamulang, 20 Maret 2006.
Drrrrrttttt….Drrrrrrtttt… (begitu bunyinya)
Ada SMS masuk. Rupanya dari Doddi. “Udah ke Grogol, blom?”
Hah? Siapa pula yang ngajak janjian ke Grogol?
Reply: “Emang ada apaan, Dod?” Send…
Drrrrrrtttt… (begitu bunyinya)
Dari Doddi lagi.”Kata anak-anak kamu disuruh periksa…”
WTF!!!
Reply: “Ngga usah. Kalian aja yang ke sini biar jadi kaya….” Send.
Hahah. Mereka pikir saya gila….
Popularity: 12% [?]
Beberapa hari ini gw makin sadar bahwa tidak satupun kesulitan yang menjadi sia-sia. Semua itu akan terbayar. Keputusan-keputusan gw sudah benar.
Keputusan gw untuk berbisnis dan menolak (secara halus) tawaran-tawaran menjadi buruh dengan gaji tinggi. Keputusan gw untuk mandiri dan memilih untuk mempunyai orok sendiri. Keputusan gw hijrah ke Jakarta dan menjadi double agent. Sudah benar. Memang ini jalannya.
Padahal seringkali gw menemukan diri gw di sebuah situasi di mana gw merasa asing, kenapa gw harus menceburkan diri dalam zona tidak aman dan beresiko bukannya mencari jalur yang aman, dengan uang tak seberapa, padahal gw lulusan departemen bergengsi dari kampus ternama pula. Ya..kenapa harus seperti itu? Bukankah harusnya gw layak duduk di posisi yang empuk, ruangan ber-AC, gaji tinggi, fasilitas dan tunjangan yang mewah? Kenapa harus memilih berteman dengan para begundal begajulan, kantor ngontrak, pulang-pergi naik angkot, bergelantungan di bus atau KRL, memanggang tubuh di metromini atau bajaj, dan segudang petualangan lainnya.
Mungkin terdengar sedikit konyol, firasat gw sedang bermain. Kata orang, “Tuhan sedang berfirman”. Kata Alga, “ada blackbox di kepala lu”. Tapi atmosfer yang mengelilingi gw seperti medan magnet dengan pusat medan yang letaknya terasa makin dekat. An action at a distance. Sesuatu sedang memaksa gw keluar dari gravitasi diri atau self-inertia dan mengajak gw untuk berdansa.
Apapun itu, gw terima sebagai jalan gw. Semua akan kembali untuk gw sendiri. Semua kesulitan dan kerugian, itu harga yang harus dibayar. Karena Gusti Allah tidak tidur. Karena Sri Paduka tak pernah ingkar janji.
Kini cuma masalah jenis tariannya saja. Cha-cha-cha, tango, atau justru Rock and Roll? Karena selebihnya hanyalah, a small person with gigantic dream.
Popularity: 10% [?]
Tulisan ini hanya ingin menjelaskan bagaimana pentingnya mengontrol input apa saja yang boleh dimasukkan ke dalam pikiran kita supaya pikiran kita terjaga dari hal yang sia-sia. Jaga pikiran anda karena akan menjadi ucapan. Jaga ucapan anda karena akan menjadi sikap dan perbuatan. Jaga perbuatan anda karena setiap tindakan anda adalah trigger yang menyebabkan efek tertentu. Sebab kita akan menuai apa yang kita tanam. Sebab efek dari amal perbuatan kita akan kembali pada diri kita. Begitulah hukum dasar kehidupan, hukum sebab akibat.
Coba JANGAN PIKIRKAN sebuah minuman yang bernama es jeruk yang warnanya kuning, gelasnya silinder bening tinggi, dengan sendok kecil panjang, sedotan dengan irisan buah jeruk, tetesan embun di permukaan luarnya, dan bunyinya : “klinting klinting klinting” . Nah, siapa di antara anda yang benar-benar TIDAK memikirkannya sehingga tidak muncul gambaran mengenai es jeruk itu? Hahaha…
Suka atau tidak suka, informasi apapun akan diterima oleh pikiran bawah sadar yang memang tidak pernah menolak informasi apapun. Pikiran bawah sadar itu bekerja dengan caranya sendiri sehingga apa yang anda pikirkan di alam sadar akan dijalankan oleh alam bawah sadar.
Beberapa contoh sumber informasi yang patut dihindari:
- Tayangan televisi: gossip infotainment, sinetron hantu “hidayah”, acara dangdut
- Siaran radio: gossip selebritis, talk-show remang-remang
- Koran/Majalah: berita kriminal, esek-esek, dan sejenisnya.
Masih banyak lagi sumber berita yang harus dihindari agar pikiran anda sehat. Karena begitu banyak, saya tidak mungkin menulis nama-namanya satu per-satu. Mengapa patut dihindari? Karena informasi yang disajikan adalah sampah, relakah otak anda diberi makan sampah?
Selain menghindarinya, kita bisa mengimbanginya dengan sumber yang positif. Misalnya membaca buku-buku bermutu. Buku-buku sangat bagus bagi pikiran kita karena punya kekuatan edukasi, merangsang kemampuan bersintesa dan mengaktifkan sel-sel otak yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas pikiran.
Namun begitu, membaca buku memang tidak mudah bagi sebagian orang karena banyak faktor pribadi misalnya: kebiasaan. Mengubah kebiasaan memang berat, tapi hasilnya setimpal. Selain itu membaca buku tertentu juga perlu mentor. Bagi anda yang memasuki wilayah filsafat, tasawuf, dan sejenisnya, sebaiknya cari mentor yang bisa membimbing.
Baju yang bersih bukan baju yang tidak pernah dipakai, namun karena sering dicuci. Cermin yang bersih bukan cermin yang tidak pernah kena debu, tapi karena sering dibersihkan. Otak dan hati adalah cermin jiwa anda, jika ia tidak pernah dibersihkan, bagaimana anda menemukan gambaran yang jelas?
Link terkait:
Popularity: 14% [?]
I’ve found this picture on bekka’s blog. You can see the original post here.

Popularity: 15% [?]
- Abbess, or Lady Abbess: a bawd, or mistress of a brothel.
- Athanasian Wench: A forward girl, ready to oblige every man that shall ask her.
- Aunt: Mine aunt; a bawd or procuress; a title of eminence for the senior dells. See DELLS.
- Balcum Rancum: a hop or dance, where the women are all prostitutes.
- Bat: A low whore: so called from moving out like bats in the dusk of evening.
- Biter: A wench whose quim is ready to bite her arse: a lascivious, rampant wench.
- Blowen: A mistress or whore of a gentleman of the scamp. “The blowen kidded the swell into a snoozing ken, and shook him of his dummee and thimble.” transl: the girl inveigled the gentleman into a brothel and robbed him of his pocket book and watch.
- Bunter: A low dirty prostitute, half whore and half beggar.
- Buttock: a whore.
- Buttock Broker: A bawd, or a matchmaker.
- Buttock and File: A common whore and a pickpocket.
- Buttock and Twang, or Down Buttock and Sham-File: A common whore but no pickpocket.
- Cat: Common Prostitute
- Cattle: Whores or gypsies.
- Coffee House: A necessary house. To make a coffee house of a woman’s quim; to go in and out and spend nothing.
- Commodity: A woman’s commodity: the private parts of a modest woman, and the public parts of a prostitute.
- Convenient: A Mistress.
- Covent Garden Nun: A Prostitute.
- Covey: a collection of whores. “What a find covey hereis, if the devil would but throw his net!”
- Crack: A Whore.
- Crackish: Whorish.
- Crinkum Crankum: A woman’s commoditiy. See SPECTATOR (Which they have failed to make an entry for. Use your imagination, kids.)
- Curtizan [sic]: A Prostitute.
- Custom House Goods: The stock in trade of a prostitute, because fairly entered.
- Cyprian: A Prostitute.
- Dells: Young buxom wenches, ripe and prone to venery, but who have not lost their virginity, which the “upright” man claims by virtue of his perogative: After which they become free for any of the fraternity. Also a common strumpet.
- Demimondaine: a kept woman; a mistress.
- Dishclout: A dirty, greasy woman. See WHORE.
- Doxies: She-beggars, wenches, whores.
- Drap: A nasty sluttish whore.
- Drury Lane Vestal: A woman of the town, or a Prostitute.
- Easy Virtue: An impure woman; a Prostitute.
- Fen: A bawd or common prostitute.
- Fusty Luggs: A beastly, sluttish woman.
- Hedgewhore: An itinerent harlot who bilks the bagnios and bawdyhouses by disposing of her favours on the wayside under a hedge. A low, beggerly prostitute.
- Hoyden: A romping girl. See WHORE.
- Laced Mutton: See WHORE.
- Madame Ran: A Whore.
- Miss: A kept mistress. A Harlot.
- Mob, or Mab: A Wench or a Harlot.
- Monosyllable: A woman’s commodity.
- Moon-Eyed Hen: A squinting whore.
- Mother: A bawd.
- Mrs. Warren: see WHORE
- Public Ledger: A prostitute, because like that paper, she is open to all parties.
- Queer Mort: A diseased strumpet.
- Rantipole: A rude romping boy or girl; also a gadabout, dissipated woman. To ride rantipole; the same as riding St. George. See RIDING St. GEORGE. Also see WHORE.
- Receiver General: A Prostitute.
- Relish: Carnal connexion with a woman.
- Riding St. George: The Woman uppermost in the amourous congress, that is, the dragon upon St. George. This is said to be the way to get a bishop.
- Roger: To bull or lie with a woman; from the name of Roger being frequently given to a bull.
- Romp: A forward wanton girl; a tomrig. See HOYDEN.
- Scab: A worthless man or woman. Also see WHORE.
- Scotch Warming Pan: A Wench; also a Fart.
- To Screw: To copulate. A Female Screw: A common Prostitute.
- Slattern: A woman sluttishly negligent in her dress.
- Slut: A lewd or dissolute woman; a Prostitute.
- Strumpet: A harlot.
- Tart: pie, pastry, turnover, puff, Danish Pastry, French Pastry, Patisserie; Quiche, strudel, baklava, blintz, éclaire. Also a saucy whore.
- Tomboy: A romping girl, who prefers the amusements used by boys to those of her own sex.
- Town: A woman of the town: a prostitute.
- Trapes: A slatternly woman, a careless sluttish woman.
- Trollop: An unkempt, slovenly, low whore.
- Trull: A ghostly monster, boor, lout, blockhead. A prostitute or mistress.
- Trumpery: An old whore; or goods of no value.
- Unfortunate Women: Prostitutes: so termed by the virtuous and compassionate of their own sex.
- Wasp: An infected prostitute, who like a wasp carries a sting in her tail.
- Well-hung: “The blowen was nutts upon the kiddey because he is well-hung.” i.e.; the girl is pleased with the youth because his genitals are large.
- Whore!: like they’d actually make an entry for this one, go figure …
Popularity: 21% [?]

Go up north and find a frozen lake or pond.
Cut a large hole in the ice.
Open a can of green peas, and place the peas around the edge of the hole single file.
Hide behind a nearby rock.
When the bear comes up to take a pea, kick him in the ice-hole!
Popularity: 14% [?]
Dikutip dari http://www.psik-itb.org/forum/showthread.php?t=55
Telah meninggal dunia salah seorang tokoh astronomi Indonesia dan dunia Dr. Winardi pada hari jumat tanggal 10 Maret 2006 pukul 21.30 WIB. Semoga arwah dan amal beliau terhadap ilmu pengetahuan diterima di sisiNya.amin.
Dari debu menjadi debu.
Dari tanah menjadi tanah.
Semoga beliau selalu menjadi debu-debu terbaik di jagat raya yang mengisi ruang-ruang hampa dalam pikiran murid-muridnya, termasuk kita.
Selamat Jalan Pak Winardi.
Popularity: 10% [?]
Tanpa makan, manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari.
Tanpa minum, manusia bisa bertahan hidup selama 4 hari.
Tanpa bernafas, manusia bisa bertahan hidup selama 4 menit.
Tanpa harapan, manusia hanya bertahan hidup selama 4 detik.
Karena 4 detik kemudian adalah … BANG !!!
Jika kamu menemukan orang yang sedang kesusahan, isilah waktu empat detik pertama itu dan kamu menyelamatkan satu nyawa.
Popularity: 10% [?]
Seringkali saya mendengar orang mengeluh tentang keadaan negara sekarang dan membandingkan dengan keadaan waktu Orde Baru dan Soeharto berkuasa. Biasanya berkaitan dengan kondisi sekarang seperti kenaikan BBM, harga-harga yang mahal, dll.
- Jaman Pak Harto, harga-harga ngga mahal. Jaman sekarang harga BBM mahal, listrik mahal, sekolah mahal.
- Sekarang liat berita, banyak orang bunuh-bunuhan. Jaman dulu ngga ada yang kayak gitu.
- Jaman Pak Harto, ngga ada kasus pemboman, separatis.
- Lebih enak jaman dulu (orde baru), kerjaan banyak. Ngga kayak sekarang.
- dll.
Sekilas keluhan seperti itu nampak ada benarnya. Siapapun tahu kalau sekarang memang kondisi serba sulit. Efek yang terasa langsung bagi kita memang seperti kata-kata di atas.
Namun, coba pikir masak-masak. Apakah memang betul? Berikut pendapat saya:
- Harga-harga bisa murah di jaman orde baru karena subsidi pemerintah untuk BBM, listrik, air, dll memang banyak. Subsidi itu kan pakai uang. Uangnya dari mana? Di era 1970-an waktu booming minyak, itu memang masuk akal. Tapi sejak 1990-an, pemerintah banyak ngutang. Orang yang terbiasa dengan harga murah jadi terbuai, malah cenderung tidak siap dengan kondisi yang sebenarnya jika tidak ada subsidi.
- Sejak Repoblik Indonesia berdiri, banyak yang tidak puas dengan pemerintah. Kebanyakan memang diam. Tapi ada juga yang “edan”. Ada seorang tokoh yang cukup ditakuti pemerintah pernah merakit bom plastik dan meledakkannya di kantor sebuah bank. Dirinya ikut terluka dan tertangkap. Semua orang tahu siapa dan mengapa. Namun tidak satupun media apalagi media pemerintah yang mengangkatnya. Kasus tanjung priok, kasus Tasikmalaya, dan banyak kasus-kasus lain yang tidak pernah terungkap. Korbannya tergeletak di depan mata, mayatnya tercecer di depan rumah-rumah penduduk. Rumah sakit yang menampungnya juga masih ada. Dokter dan susternya juga masih hidup. Ulama dan tokoh masyarakat yang ketiban pulungnya juga masih segar bugar. Apakah itu semua tidak nyata? Jelas nyata. Tapi media kan dibungkam! Jadi banyak orang lain yang tidak tahu dan merasa fine-fine saja. Sekarang media tidak seperti dulu. Kejadian kecil di pelosok bisa kita tahu dengan cepat. Ada internet, TV kabel, dan segudang media global lain yang bisa diakses dengan mudah. Lalu barulah kita kaget. Ternyata dunia tak seindah yang kita kira dulu.
- Jaman orde baru rata-rata lulusan SMA sudah bisa kerja karena kebutuhannya memang tidak terlalu tinggi. Jaman sekarang, lulusan SMA berlimpah sementara lapangannya membutuhkan tenaga yang kualitasnya lebih tinggi dari lulusan SMA. Pertumbuhan ekonomi jauh lebih kecil dibanding pertumbuhan tenaga kerja, jadi angka pengangguran terus membesar.
Pertanyaan saya, sampai kapan kita mau hidup di masa lalu? Sekarang sudah tahun 2006, brur! Orde baru sudah jadi masa lalu. Kita punya tantangan bukan di masa lalu, tapi di masa depan. Hari ini akan segera jadi masa lalu, masa depan akan menjadi hari ini. Jadi janganlah hidup untuk hari ini, apalagi hidup untuk masa lalu.
Sebagai orang Indonesia, dibutuhkan sikap ksatria. Kenapa kalau negara susah kita menyalahkan kondisi, menyalahkan pemerintah, memuja masa lalu dan menyalahkan hari ini? Sementara di waktu aman/damai/jaya, kita lengah terbuai dengan stabilitas, harga murah, dan semua yang memanjakan. Sadarkah bahwa itu semua menuntut harga yang harus dibayar mahal? Harga itu adalah nilai kemanusiaan. Berapa juta nyawa manusia yang jadi korban stabilitas? Sementara kita lebih membela beberapa puluh ribu rupiah subsidi ketimbang jutaaan nyawa manusia dan puluhan juta harga diri manusia yang harus dikorbankan.
Bayangkan kalau nyawa manusia itu adalah bapak kita, ibu kita, kakak/adik kita, putra/putri kita yang harus jadi korban kekuasaan yang korup hanya karena mereka (mati) lebih membela kepala mereka ketimbang membela isi perut mereka. Siapkah kita menyaksikan mereka dibantai, diseret dari tempat tidur jam 3 pagi kemudian dibunuh di depan keluarganya, mayat-mayat mereka menjadi pupuk tanaman rawa-rawa. Dengan memakan subsidi ala orde baru, sama saja kita menjalankan pesugihan, pengorbanan manusia demi kekayaan. Sebuah perjanjian dengan setan.
Pilihannya, silahkan terus mengeluh, hidup di masa lalu dan bermimpi, dan jadi sekutu setan. Atau hidup untuk Indonesia di masa depan, menghadapi realita, jangan mengeluh, dan membela jati diri kita sebagai manusia.
Emansipate yourself from mental slavery
Technorati Tags: orde baru
Popularity: 11% [?]
Malam itu sekitar pukul 2.00 dini hari, saya terganggu oleh suara-suara berisik di luar kamar. Bunyi kantung plastik yang seperti diremas-remas membuat saya terbangun dan kesal karena terganggu.
Mata saya masih lima watt dan otak saya belum selesai loading ketika menangkap sebuah objek berekor dan memiliki panjang sekitar 20cm di balik kantung plastik. Tanpa pembuktian lebih lanjut, tangan kiri saya segera mencengkeram objek bergerak tersebut. Dengan hati kesal dan kesadaran yang belum selesai diload ke dalam memori otak saya, tangan saya makin kuat menggenggam mahluk itu. Suaranya mendecit seperti minta dilepaskan dan badannya terus berontak sekuat tenaga namun tangan saya justru makin bernafsu untuk meremukkan seluruh tulang-tulangnya.
Mulutnya penuh dengan sisa-sisa makanan (entah apa) dan dia tidak bisa bernafas karena belum selesai menelan semua makanan di mulutnya. Sekitar 2 menit kejadian itu berlangsung. Saya mulai sadar, kesadaran saya sudah selesai loading, dan mata saya mulai serius memperhatikan kedua mata kecil hitam yang menampilkan ekspresi tersiksa. Moncongnya tidak bisa menutup, dan mulai mengendorkan perlawanannya. Saya mulai iba. Mungkin dia lapar sekali hingga harus mencuri ke tempat ini.
Baiklah, mahluk kecil, saya lepaskan kamu tapi jangan kemari lagi ya. Akhirnya saya lepaskan dengan melemparnya dengan pelan ke lantai. Bluk! Dia tidak bergerak. Tapi kelihatan masih bernafas. Saya towel-towel perut dan kakinya, tetap tidak mau lari. Matanya sudah pasrah. Mulutnya masih menganga.
Ah, masak sih ! Kok segitu aja udah lemes? Eh, ayo lari! Mau gua panggil kucing gw nih?
Tidak ada gerakan lagi. Dia sudah tidak bernafas. Saya perhatikan sekali lagi. Ya, mahluk itu sudah tidak bernyawa lagi. Ow my God! Saya telah membunuhnya. Dan konyolnya, muncul perasaan bersalah. Ayolah, itu kan cuma seekor tikus. Ah, tidak…. bagaimanapun tangan saya sudah dikotori….
Oh Tuhan, ampunilah hambaMu ini… Jangan sampai dia menuntut balas di akhirat…
Popularity: 9% [?]



