Seringkali saya mendengar orang mengeluh tentang keadaan negara sekarang dan membandingkan dengan keadaan waktu Orde Baru dan Soeharto berkuasa. Biasanya berkaitan dengan kondisi sekarang seperti kenaikan BBM, harga-harga yang mahal, dll.
- Jaman Pak Harto, harga-harga ngga mahal. Jaman sekarang harga BBM mahal, listrik mahal, sekolah mahal.
- Sekarang liat berita, banyak orang bunuh-bunuhan. Jaman dulu ngga ada yang kayak gitu.
- Jaman Pak Harto, ngga ada kasus pemboman, separatis.
- Lebih enak jaman dulu (orde baru), kerjaan banyak. Ngga kayak sekarang.
- dll.
Sekilas keluhan seperti itu nampak ada benarnya. Siapapun tahu kalau sekarang memang kondisi serba sulit. Efek yang terasa langsung bagi kita memang seperti kata-kata di atas.
Namun, coba pikir masak-masak. Apakah memang betul? Berikut pendapat saya:
- Harga-harga bisa murah di jaman orde baru karena subsidi pemerintah untuk BBM, listrik, air, dll memang banyak. Subsidi itu kan pakai uang. Uangnya dari mana? Di era 1970-an waktu booming minyak, itu memang masuk akal. Tapi sejak 1990-an, pemerintah banyak ngutang. Orang yang terbiasa dengan harga murah jadi terbuai, malah cenderung tidak siap dengan kondisi yang sebenarnya jika tidak ada subsidi.
- Sejak Repoblik Indonesia berdiri, banyak yang tidak puas dengan pemerintah. Kebanyakan memang diam. Tapi ada juga yang “edan”. Ada seorang tokoh yang cukup ditakuti pemerintah pernah merakit bom plastik dan meledakkannya di kantor sebuah bank. Dirinya ikut terluka dan tertangkap. Semua orang tahu siapa dan mengapa. Namun tidak satupun media apalagi media pemerintah yang mengangkatnya. Kasus tanjung priok, kasus Tasikmalaya, dan banyak kasus-kasus lain yang tidak pernah terungkap. Korbannya tergeletak di depan mata, mayatnya tercecer di depan rumah-rumah penduduk. Rumah sakit yang menampungnya juga masih ada. Dokter dan susternya juga masih hidup. Ulama dan tokoh masyarakat yang ketiban pulungnya juga masih segar bugar. Apakah itu semua tidak nyata? Jelas nyata. Tapi media kan dibungkam! Jadi banyak orang lain yang tidak tahu dan merasa fine-fine saja. Sekarang media tidak seperti dulu. Kejadian kecil di pelosok bisa kita tahu dengan cepat. Ada internet, TV kabel, dan segudang media global lain yang bisa diakses dengan mudah. Lalu barulah kita kaget. Ternyata dunia tak seindah yang kita kira dulu.
- Jaman orde baru rata-rata lulusan SMA sudah bisa kerja karena kebutuhannya memang tidak terlalu tinggi. Jaman sekarang, lulusan SMA berlimpah sementara lapangannya membutuhkan tenaga yang kualitasnya lebih tinggi dari lulusan SMA. Pertumbuhan ekonomi jauh lebih kecil dibanding pertumbuhan tenaga kerja, jadi angka pengangguran terus membesar.
Pertanyaan saya, sampai kapan kita mau hidup di masa lalu? Sekarang sudah tahun 2006, brur! Orde baru sudah jadi masa lalu. Kita punya tantangan bukan di masa lalu, tapi di masa depan. Hari ini akan segera jadi masa lalu, masa depan akan menjadi hari ini. Jadi janganlah hidup untuk hari ini, apalagi hidup untuk masa lalu.
Sebagai orang Indonesia, dibutuhkan sikap ksatria. Kenapa kalau negara susah kita menyalahkan kondisi, menyalahkan pemerintah, memuja masa lalu dan menyalahkan hari ini? Sementara di waktu aman/damai/jaya, kita lengah terbuai dengan stabilitas, harga murah, dan semua yang memanjakan. Sadarkah bahwa itu semua menuntut harga yang harus dibayar mahal? Harga itu adalah nilai kemanusiaan. Berapa juta nyawa manusia yang jadi korban stabilitas? Sementara kita lebih membela beberapa puluh ribu rupiah subsidi ketimbang jutaaan nyawa manusia dan puluhan juta harga diri manusia yang harus dikorbankan.
Bayangkan kalau nyawa manusia itu adalah bapak kita, ibu kita, kakak/adik kita, putra/putri kita yang harus jadi korban kekuasaan yang korup hanya karena mereka (mati) lebih membela kepala mereka ketimbang membela isi perut mereka. Siapkah kita menyaksikan mereka dibantai, diseret dari tempat tidur jam 3 pagi kemudian dibunuh di depan keluarganya, mayat-mayat mereka menjadi pupuk tanaman rawa-rawa. Dengan memakan subsidi ala orde baru, sama saja kita menjalankan pesugihan, pengorbanan manusia demi kekayaan. Sebuah perjanjian dengan setan.
Pilihannya, silahkan terus mengeluh, hidup di masa lalu dan bermimpi, dan jadi sekutu setan. Atau hidup untuk Indonesia di masa depan, menghadapi realita, jangan mengeluh, dan membela jati diri kita sebagai manusia.
Emansipate yourself from mental slavery
Technorati Tags: orde baru