Archives by Subject

Arsip March 2006

How to catch a polar bear

Polar Bear

Go up north and find a frozen lake or pond.

Cut a large hole in the ice.

Open a can of green peas, and place the peas around the edge of the hole single file.

Hide behind a nearby rock.

When the bear comes up to take a pea, kick him in the ice-hole!

Selamat Jalan Pak Winardi

Dikutip dari http://www.psik-itb.org/forum/showthread.php?t=55

Telah meninggal dunia salah seorang tokoh astronomi Indonesia dan dunia Dr. Winardi pada hari jumat tanggal 10 Maret 2006 pukul 21.30 WIB. Semoga arwah dan amal beliau terhadap ilmu pengetahuan diterima di sisiNya.amin.

Dari debu menjadi debu.
Dari tanah menjadi tanah.

Semoga beliau selalu menjadi debu-debu terbaik di jagat raya yang mengisi ruang-ruang hampa dalam pikiran murid-muridnya, termasuk kita.

Selamat Jalan Pak Winardi.

Empat Detik

Tanpa makan, manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari.
Tanpa minum, manusia bisa bertahan hidup selama 4 hari.
Tanpa bernafas, manusia bisa bertahan hidup selama 4 menit.
Tanpa harapan, manusia hanya bertahan hidup selama 4 detik.

Karena 4 detik kemudian adalah … BANG !!!

Jika kamu menemukan orang yang sedang kesusahan, isilah waktu empat detik pertama itu dan kamu menyelamatkan satu nyawa.

Perjanjian dengan Setan

Seringkali saya mendengar orang mengeluh tentang keadaan negara sekarang dan membandingkan dengan keadaan waktu Orde Baru dan Soeharto berkuasa. Biasanya berkaitan dengan kondisi sekarang seperti kenaikan BBM, harga-harga yang mahal, dll.

  • Jaman Pak Harto, harga-harga ngga mahal. Jaman sekarang harga BBM mahal, listrik mahal, sekolah mahal.
  • Sekarang liat berita, banyak orang bunuh-bunuhan. Jaman dulu ngga ada yang kayak gitu.
  • Jaman Pak Harto, ngga ada kasus pemboman, separatis.
  • Lebih enak jaman dulu (orde baru), kerjaan banyak. Ngga kayak sekarang.
  • dll.

Sekilas keluhan seperti itu nampak ada benarnya. Siapapun tahu kalau sekarang memang kondisi serba sulit. Efek yang terasa langsung bagi kita memang seperti kata-kata di atas.

Namun, coba pikir masak-masak. Apakah memang betul? Berikut pendapat saya:

  1. Harga-harga bisa murah di jaman orde baru karena subsidi pemerintah untuk BBM, listrik, air, dll memang banyak. Subsidi itu kan pakai uang. Uangnya dari mana? Di era 1970-an waktu booming minyak, itu memang masuk akal. Tapi sejak 1990-an, pemerintah banyak ngutang. Orang yang terbiasa dengan harga murah jadi terbuai, malah cenderung tidak siap dengan kondisi yang sebenarnya jika tidak ada subsidi.
  2. Sejak Repoblik Indonesia berdiri, banyak yang tidak puas dengan pemerintah. Kebanyakan memang diam. Tapi ada juga yang “edan”. Ada seorang tokoh yang cukup ditakuti pemerintah pernah merakit bom plastik dan meledakkannya di kantor sebuah bank. Dirinya ikut terluka dan tertangkap. Semua orang tahu siapa dan mengapa. Namun tidak satupun media apalagi media pemerintah yang mengangkatnya. Kasus tanjung priok, kasus Tasikmalaya, dan banyak kasus-kasus lain yang tidak pernah terungkap. Korbannya tergeletak di depan mata, mayatnya tercecer di depan rumah-rumah penduduk. Rumah sakit yang menampungnya juga masih ada. Dokter dan susternya juga masih hidup. Ulama dan tokoh masyarakat yang ketiban pulungnya juga masih segar bugar. Apakah itu semua tidak nyata? Jelas nyata. Tapi media kan dibungkam! Jadi banyak orang lain yang tidak tahu dan merasa fine-fine saja. Sekarang media tidak seperti dulu. Kejadian kecil di pelosok bisa kita tahu dengan cepat. Ada internet, TV kabel, dan segudang media global lain yang bisa diakses dengan mudah. Lalu barulah kita kaget. Ternyata dunia tak seindah yang kita kira dulu.
  3. Jaman orde baru rata-rata lulusan SMA sudah bisa kerja karena kebutuhannya memang tidak terlalu tinggi. Jaman sekarang, lulusan SMA berlimpah sementara lapangannya membutuhkan tenaga yang kualitasnya lebih tinggi dari lulusan SMA. Pertumbuhan ekonomi jauh lebih kecil dibanding pertumbuhan tenaga kerja, jadi angka pengangguran terus membesar.

Pertanyaan saya, sampai kapan kita mau hidup di masa lalu? Sekarang sudah tahun 2006, brur! Orde baru sudah jadi masa lalu. Kita punya tantangan bukan di masa lalu, tapi di masa depan. Hari ini akan segera jadi masa lalu, masa depan akan menjadi hari ini. Jadi janganlah hidup untuk hari ini, apalagi hidup untuk masa lalu.

Sebagai orang Indonesia, dibutuhkan sikap ksatria. Kenapa kalau negara susah kita menyalahkan kondisi, menyalahkan pemerintah, memuja masa lalu dan menyalahkan hari ini? Sementara di waktu aman/damai/jaya, kita lengah terbuai dengan stabilitas, harga murah, dan semua yang memanjakan. Sadarkah bahwa itu semua menuntut harga yang harus dibayar mahal? Harga itu adalah nilai kemanusiaan. Berapa juta nyawa manusia yang jadi korban stabilitas? Sementara kita lebih membela beberapa puluh ribu rupiah subsidi ketimbang jutaaan nyawa manusia dan puluhan juta harga diri manusia yang harus dikorbankan.

Bayangkan kalau nyawa manusia itu adalah bapak kita, ibu kita, kakak/adik kita, putra/putri kita yang harus jadi korban kekuasaan yang korup hanya karena mereka (mati) lebih membela kepala mereka ketimbang membela isi perut mereka. Siapkah kita menyaksikan mereka dibantai, diseret dari tempat tidur jam 3 pagi kemudian dibunuh di depan keluarganya, mayat-mayat mereka menjadi pupuk tanaman rawa-rawa. Dengan memakan subsidi ala orde baru, sama saja kita menjalankan pesugihan, pengorbanan manusia demi kekayaan. Sebuah perjanjian dengan setan.

Pilihannya, silahkan terus mengeluh, hidup di masa lalu dan bermimpi, dan jadi sekutu setan. Atau hidup untuk Indonesia di masa depan, menghadapi realita, jangan mengeluh, dan membela jati diri kita sebagai manusia.

Emansipate yourself from mental slavery

Technorati Tags:

Mahluk Malang

Malam itu sekitar pukul 2.00 dini hari, saya terganggu oleh suara-suara berisik di luar kamar. Bunyi kantung plastik yang seperti diremas-remas membuat saya terbangun dan kesal karena terganggu.

Mata saya masih lima watt dan otak saya belum selesai loading ketika menangkap sebuah objek berekor dan memiliki panjang sekitar 20cm di balik kantung plastik. Tanpa pembuktian lebih lanjut, tangan kiri saya segera mencengkeram objek bergerak tersebut. Dengan hati kesal dan kesadaran yang belum selesai diload ke dalam memori otak saya, tangan saya makin kuat menggenggam mahluk itu. Suaranya mendecit seperti minta dilepaskan dan badannya terus berontak sekuat tenaga namun tangan saya justru makin bernafsu untuk meremukkan seluruh tulang-tulangnya.

Mulutnya penuh dengan sisa-sisa makanan (entah apa) dan dia tidak bisa bernafas karena belum selesai menelan semua makanan di mulutnya. Sekitar 2 menit kejadian itu berlangsung. Saya mulai sadar, kesadaran saya sudah selesai loading, dan mata saya mulai serius memperhatikan kedua mata kecil hitam yang menampilkan ekspresi tersiksa. Moncongnya tidak bisa menutup, dan mulai mengendorkan perlawanannya. Saya mulai iba. Mungkin dia lapar sekali hingga harus mencuri ke tempat ini.

Baiklah, mahluk kecil, saya lepaskan kamu tapi jangan kemari lagi ya. Akhirnya saya lepaskan dengan melemparnya dengan pelan ke lantai. Bluk! Dia tidak bergerak. Tapi kelihatan masih bernafas. Saya towel-towel perut dan kakinya, tetap tidak mau lari. Matanya sudah pasrah. Mulutnya masih menganga.

Ah, masak sih ! Kok segitu aja udah lemes? Eh, ayo lari! Mau gua panggil kucing gw nih?

Tidak ada gerakan lagi. Dia sudah tidak bernafas. Saya perhatikan sekali lagi. Ya, mahluk itu sudah tidak bernyawa lagi. Ow my God! Saya telah membunuhnya. Dan konyolnya, muncul perasaan bersalah. Ayolah, itu kan cuma seekor tikus. Ah, tidak…. bagaimanapun tangan saya sudah dikotori….

Oh Tuhan, ampunilah hambaMu ini… Jangan sampai dia menuntut balas di akhirat…