Johari Window
ebonk General 18 April 2006 7:34 pmTau link ini dari laras dan gita. Dan inilah hasilnya:
http://kevan.org/johari?view=ebonk
isinya di sini:
http://kevan.org/johari?name=ebonk
Lebih jauh tentang Johari Window:
http://kevan.org/johari
Tau link ini dari laras dan gita. Dan inilah hasilnya:
http://kevan.org/johari?view=ebonk
isinya di sini:
http://kevan.org/johari?name=ebonk
Lebih jauh tentang Johari Window:
http://kevan.org/johari
Sepuluh tahun lagi, mungkin di Indonesia akan banyak dibangun pusat pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar nuklir. Semoga cita-cita mulia demi membangun bangsa penghasil energi terbesar di muka bumi ini tidak kandas digerogoti regulasi dan monopoli.
Bukan tidak mungkin akan ada banyak reaktor-reaktor mini yang dijual untuk pengguna rumahan. Kendaraan umum seperti bus, monorail, maglev, shuttle, subway, kapal ferry akan mengganti mesinnya atau sumber energinya dari nuklir. Berbagai perusahaan pembuat reaktor mini dan penjual bahan bakarnya akan berlomba-lomba untuk mengikat hati konsumennya. Copywriter jempolan yang mengerti trend jaman itu akan sangat dibutuhkan, mengingat tidak semua slogan bisa cocok. Nuklir bukan barang mainan anak kecil yang bisa dijual dengan merayu sang ibu atau sang anak agar memilikinya. Bukan juga seperti deterjen yang bisa di”demo”kan di hadapan ibu-ibu komplek dan ditayangkan di tivi.
Selain itu, citranya sebagai energi yang ramah manusia dan lingkungan harus dibangun dalam waktu lama dan akan menelan investasi yang tidak sedikit. Kira-kira, seperti apa ya bentuk iklannya? Mungkin seperti ini kali ya..
Pakai Nuklir, lupakan yang lain.
Yang lebih bagus dari Nuklir? Yang lebih mahal banyak.
Orang pintar pakai tenaga Nuklir.
Sembilan dari 10 perempuan di Indonesia memakai Nuklir.
Pakai nuklir, sudah tradisiii….
Ngay juga pake…
Saya pakai dua…
Nuklir *****, nuklir buat kita-kita (modelnya abg)
Buang sampah nuklir ke tempatnya.
(Pemprov X)
Selamatkan bumi
(Aktifis Lingkungan)
Iklan Layanan Masyarakat ini disampaikan oleh Badan Tenaga Atom Nasional bekerja sama dengan Dirjen Tenaga Atom Departemen Pertambangan dan Energi Republik Indonesia dan IAEA.
Heheheh… 10 tahun lagi ya…
–Mahatma Gandhi
Taken from http://www.doctorhugo.org/gandhi.html
Ternyata bukan Philip Morris yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang dan keracunan nikotin pada anak-anak. Ternyata bukan Tricon Global Restaurants yang menjual makanan tidak sehat melalui Taco Bell, KFC, dan Pizza Hut (anak-anak perusahaannya). Bukan pula Exxon Mobil yang bertanggung jawab atas global-warming.
Silahkan liat http://www.badcorp.org . Baru saja saya baca website ini, taunya dari plugins StumbleUpon di Firefox. Plugins yang hebat.
Berikut pesan moral dari mereka:
What do multinational corporations do once their dirty record gets around and people start seeing them for what they are?
They change their names, of course.
http://www.badcorp.com/articles.cfm?article=6
Philip Morris, Tricon Global Restaurants dan Exxon Mobil hanya beberapa nama dalam daftar ‘favourite’ nya. Setelah citra kompeni menjadi buruk, entah karena kasus pencemaran lingkungan, pelanggaran HAM, dan segudang dosa-dosa bisnis maupun pulitik lainnya, biasanya pola yang dilakukan kompeni-kompeni itu mirip. Habiskan jutaan, atau miliaran dolar dengan mengganti nama, brand dan membangun citra baru. Termasuk mengganti logo.
New names, new brands, new faces, with same old sh*t.
Ingatan anda cukup bagus?
Soal ganti logo Pertamina yang diributkan beberapa waktu lalu, itu cukup masuk akal tapi tetap tanggung alias ’setengah jalan’. Masuk akal, karena Pertamina memang perlu di-branding ulang. Citranya sebagai BUMN sudah kurang layak jual. Inilah ’sapi-perahan’ sejak jaman orde baru yang kini makin kurus, kurang gizi, dan kurang kekebalan tubuh. Jadi banyak virus dan racun yang bersarang. Tapi branding ulang dengan logo tidak akan membantu, karena akar permasalahannya bukan di logo (tentu saja). Akar permasalahannya tetap tak terjamah. Itu yang saya sebut ‘tanggung’ atau ’setengah jalan’.
Meniru langkah sukses yang dilakukan MNC-MNC tersebut, mungkin sebaiknya Pertamina ganti nama saja menjadi nama baru misalnya:
Selain itu juga bisa dipecah menjadi beberapa perusahaan kecil atau membentuk anak perusahaan baru, misalnya:
Dengan demikian, bukan cuma citra atau mukanya saja yang diperbaiki. Isinya juga berbeda, orang yang berbeda, sistem yang berbeda, pola operasi yang berbeda dan hasil yang berbeda.
Kenapa jadi bahas Pertamina?
Buat temen gua yang sedang berkarir di sana: Piss, ya… piisss ! :p