Alga pernah bercerita kepada saya. Suatu pagi yang cerah di sarang Biner Indonesia di Bandung. Alga merasakan lapar yang amat sangat dan Ia mulai memusatkan keinginannya pada makanan terbaik yang akan diinjeksi ke dalam lambungnya pagi itu: SOTO AYAM.

Tiap pagi ada pedagang nasi soto ayam dengan gerobaknya yang selalu berkeliling di depan sarang kami. Alga membuat rencana sederhana, sebuah transaksi dengan pedagang nasi soto ayam. Ia menunggu pedagang tersebut lewat. Beberapa menit berselang, terdengar ketukan piring yang khas dari kejauhan. Alga melongokkan kepalanya ke arah sumber suara di luar rumah. Aha, pucuk di cinta, ulam tiba. Pedagang soto ayam sedang bergerak lurus beraturan dengan kecepatan konstan ke arahnya. Efek Doppler yang ditimbulkan oleh gerak sumber suara itu memicu produksi asam lambung menjadi makin banyak.

Ketika sumber suara dan sekaligus sumber nutrisi itu memasuki zona jarak pandang optimal, mereka pun saling berpandangan. Mereka mupeng satu sama lain. Saling mengirimkan sinyal-sinyal pertanda transaksi akan segera dimulai. Anda mulai bisa menebak plot cerita ini? Tunggu dulu!

Sebuah sinyal yang lain datang!

HP Alga berdering. Sebuah panggilan suara. Ternyata dari rekan bisnis. Tanpa babibu, Alga merogoh HP di saku celananya dan menerima panggilan tersebut. Sebuah percakapan yang biasa-biasa saja tapi penting. Kurang dari satu menit berlangsung, percakapan telepon berakhir. Sebelum Ia menyadari sesuatu, pedagang soto ayam tadi telah menghilang dari zona jarak pandang maksimal. Ia mencoba memperluas zona jarak pandangnya dengan melangkah keluar rumah, tengok kiri dan kanan. Hanya satu kata penuh arti yang keluar dari mulutnya, “Yaaaah…”

Tapi harapannya tidak langsung pupus sama sekali sebab pedagang itu biasanya lewat lebih dari sekali, bolak-balik. Alga memilih untuk menunggu. Kali ini waktu berjalan amat lambat dan terasa lebih lama. Asam lambung akibat Efek Doppler tadi sudah membanjiri rongga-rongga lambungnya. Semangatnya naik-turun.

Kok gua yang nulis jadi lapar begini?

Tidak lama, fenomena alam tadi berlangsung kembali. Efek Doppler itu muncul lagi. Alga mulai mengumpulkan semangat. Tapi, kali ini Efek Doppler tersebut muncul dari sumber yang berbeda dan tentu saja dengan frekuensi dan warna nada yang berbeda. Bukan suara piring tapi suara kentongan. Tukang Mie Ayam bergerak lurus beraturan mendekati objek pendengar. Otaknya bertanya pada hati, apakah mie ayam ok? Hatinya mengkonfirmasi dengan acknowledgement, “yeaa..embat aja brur”.

Transaksi berlangsung, mie ayam diracik. Belum selesai tukang mie ayam menyelesaikan pekerjaannya, Efek Doppler yang sempat lewat tadi muncul lagi. Tukang nasi soto ayam tadi mendekat dari arah yang berlawanan. Apakah bergerak lurus beraturan dengan kecepatan konstan, penutur cerita tidak menyebutkan dengan jelas (karena ia memang tidak pernah menyebutkannya).

Benar saja. Mereka kembali saling berpandangan. Mupeng satu sama lain. Tapi kali ini ditambah perasaan bersalah yang tolol dan penyesalan. (konyol amat, apaan sih?)

Begitulah, Alga tidak mendapatkan yang ia mau dari tukang nasi soto ayam. Tukang nasi soto ayam juga tidak mendapatkan yang ia mau dari Alga. Bukankah ini luar biasa? (Jangan ngeledek, *njis!) Suatu kejadian yang sangat tidak luar biasa, yang biasanya dianggap remeh oleh mahluk berbasis karbon seperti kita, tetap tidak bisa kita kontrol secara absolut. Sebuah pertanda inferioritas manusia di muka bumi (baca: ancaman terhadap superioritas manusia). Dan ini baru urusan makan pagi, sodara-sodara!

Atas kehendak siapa? Atas kemauan siapa? Bukankah Alga dan tukang nasi soto ayam telah begitu dekat dan menemukan kecocokan satu sama lain? Bayangkan bagaimana mupengnya!

Soal Efek Doppler, cari aja di buku-buku teks Fisika atau cari di Google dan Wikipedia.

Moral cerita ini versi saya:
Alga menceritakan kejadian tersebut dengan apa adanya dan Saya menceritakannya kembali dengan seenak udelnya.
Bagaimana dengan versi Anda?

powered by performancing firefox