Image 01 Image 02

Fatamorgana Lagi

Posted on 19th September 2006 by ebonk
1

Okay, folks. Lama tidak menulis. Saya tersesat lagi rupanya. Where am I, now?

Inget waktu dulu pernah bikin diklat pasus di tengah malam yang gelap, di sebuah daerah dekat goa Belanda, di mana peserta yang kesasar dihukum push-up menghadap sebuah tong sampah besar bertuliskan “GUOBLOKK!! SALAH JALAN! PUSH-UP 20X”. Tidak ada panitia yang menjaga, hanya ada satu orang yang memantau dari kejauhan dan mengambil foto setiap peserta yang kesasar. Memang untuk menjadi pasus diperlukan mental ksatria. Tanpa komando, setiap peserta melakukan push-up 20x.

Nah, andaikata hidup ini adalah sebuah diklat yang besar berarti saya pantas menerima hukuman serupa. Bedanya, tidak ada foto. Tapi memorinya lebih dalam dari mengingat sebuah foto. Andaikata kesalahan cukup dibayar dengan push-up, akan saya lakukan. Namun tentu saja TIDAK, djenderraalll…

Dalam episode revolusi kali ini, saya mendapati diri saya telah berjalan ke arah yang salah. Sebuah tujuan yang saya anggap nyata, ternyata hanya sebuah fatamorgana. Tipuan mata. Semu semata. Ini membuat saya sangat terluka.

Dalam sebuah perumpamaan, jika siang saya mengandalkan akal. Jika malam gelap, saya mengandalkan hati. Keduanya adalah alat navigasi bagi saya dan sepertinya masih berfungsi dengan baik. Tapi mengapa masih tersesat?

What’s betraying me, my mind? my heart?

Kata Bung Karno, “lumrah! lumrah dalam suatu revolusi…” Mungkin saja. I’m not sure. Tapi melakukan hal yang sama terus menerus dengan mengharapkan hasil yang berbeda adalah sebuah ketololan, bukan?

Melakukan semua kegiatan, mengumpulkan kekayaan, mengejar kedudukan, ternyata hasilnya tetap semu. Pun, jika tidak mengumpulkan kekayaan, tidak mengejar kedudukan, hasilnya tetap semu. Saya tidak bahagia. Justru saya mulai berpikir, jangan-jangan betul kata teman-teman, saya sudah gila. Ke Grogol, kitah…?

Dalam sebuah kegiatan, saya pernah dibantu untuk menemukan kembali secuil kemanusiaan yang hilang dari diri saya. Sebagai bentuk accelerated process, itu cukup efektif membantu. Tapi memang belum cukup untuk membebaskan saya dari ‘gravitasi’ yang menjadikan jiwa saya sebagai tawanannya.

Melihat kondisi akal dan hati saya, sepertinya mereka cukup kelelahan. Bahkan sering tak terkontrol. Meledak-ledak seperti mengalami gejala overheated. Saya tahu dan saya dengar mereka mulai menderita. Tapi saya tetap acuh.

Rupanya sikap acuh itu harus dibayar mahal. Dan saya sangat menyesal. Mengapa saya tidak mendengarkan. Mengapa saya tidak mempedulikan. O my God!

Dalam keterasingan dan kebuntuan seperti ini, saya hanya menemukan sebuah peryataan sadar dan ingin mempertahankannya: Ini bukan lagi saatnya berjanji! Namun, kelelahan karena salah jalan ini rupanya telah merasuki seluruh jiwa dan raga.

Sepertinya saya harus ke dokter.

Ooops.. sudah adzan rupanya.

powered by performancing firefox

Popularity: 14% [?]

 Kirim updatenya ke Email saya dong!

Tulisan lainnya



1
Response to.. Fatamorgana Lagi

1
oskar posted on September 28th 2006

wah bong..bener kata loe..dulu pas lagi kuliah…kalo gw salah ada yg benerin…diantaranya eloe..dedy sama tmn2 PSIK…
tapi kalo udah kerja gileeeee, yang marahin ga kira2..ga ngebenerin coy..malah bikin dahsyat masalah..udah gitu cuek lagi ga ngasih tau yang bener…pgn nangis malu…y udah kepaksa begadang baca buku…gw yakin pasti bisa…
gw ga curhat siy cm pgn ngasih pesen, jangan sia2 in “belajar” di kampus…bagaimana pak ebonk…?



Leave a reply...