Babak Belur Menjelang Ramadhan
Posted on 24th September 2006 by ebonkDo Not Take This Personally. You have been warned!
Bagi saya dan kawan-kawan kita yang bisa dibilang “baru” dalam terjun ke dunia usaha dan sebagian para profesional, sudah selayaknya kita ikhlas untuk prihatin menjelang Ramadhan kali ini. Pasalnya, disadari atau tidak hampir semua lapisan masyarakat merasakan dampak ekonomi yang macet di negeri ini. Bedanya, ikhlas atau tidak ikhlas untuk bersikap prihatin.
Jika gerundelan, cacian, makian, hujatan yang ditujukan kepada siapapun sering menjadi bagian aktifitas keseharian kita, boleh jadi kita belum ikhlas menantang perubahan. Kemudian kita jadi lebih sering menyalahkan orang lain. Kemudian kita berkhayal jarum jam berbalik arah kembali ke jaman Pak Harto berkuasa. Kemudian kita mengambil kembali watak-watak rejim lama, bagaikan menjilat muntah yang sudah mengering.
Please, Stop It! Look forward! Hadapi kenyataanmu, teman.
Berhenti mengeluh. Sudah terlalu banyak komplainer. Kita butuh lebih banyak orang yang punya inisiatif dan mau menerima kenyataan. Jika kau sibuk mengeluh, kapan kau sempat melakukan sesuatu? Saya sering ketawa geli lihat kalian, para komplainer, mengeluh sepanjang waktu sambil memainkan solitaire, malas melakukan apa-apa. Sampai setahun berikutnya, masih melakukan hal yang sama. Sampai bertahun-tahun berikutnya. You keep complaining all the time. Tapi, lucunya kok ga pindah pekerjaan? Kok bisa betah bertahun-tahun membusuk di ruang kerja yang sama? Kok ga mau ambil resiko, pindah dari jok mobilmu yang nyaman?
Coba lihat sekeliling. Buka mata lo! Lihat masinis kereta api, sopir busway, sopir taksi, polisi lalu lintas, awak kapal dan para marinir, sampai raja factory outlet di Bandung, pengelola diskotik, semua kena pukulan yang sama. Sama-sama babak belur akibat ekonomi yang terseok-seok. Hey, emang lo doang yang susah? Mau kembali ke jaman Pak Harto? Minta kerjaan sana sama Pak Harto.Sudah begitu panjang kita berjalan. Kamu mentahkan lagi dengan balik ke jaman Pak Harto?
Ucapkan salam kepada Ramadhan. Bukankah ini bulan penuh berkah? Berkah dari Yang Maha Kaya? Kalau kamu sampe ngga kebagian berkah, kamu betul-betul keterlaluan namanya. Bisa saja terjadi, mungkin saat Yang Maha Kaya sedang menyebarkan berkahnya, kamu sedang sibuk mengeluh di ruang kerjamu yang pengap…pas nama kamu dipanggil, ngga kedengeran deh.. hahaha…
Saya ngga bisa menebak secara absolut. Namun pada umumnya, ekonomi bisa bergerak lebih bergairah karena lonjakan di sektor konsumsi, biasanya di minggu ketiga Ramadhan. Ya, jangan mengeluhkan bangsa kita yang konsumtif ini, karena kamu termasuk di dalamnya! Tak perlu pembuktian lebih lanjut, bukan?
Berharaplah, fear factor yang jadi biang instabilitas harga minyak dunia bisa dijauhkan selama Ramadhan. Berharaplah, semoga harga-harga di pasar tetap stabil dan para pedagang ngga “tonjok-tonjokan” atau “banting-bantingan”. Berharaplah, semoga barang-barang bekas (juga mobil) tetap banyak diminati menjelang Ramadhan. Berharaplah, sifat norak para penimbun barang-barang bisa dijauhkan. Berharaplah kita semua sehat walafiat dan jauh dari rumah sakit. Berharaplah jika ajal kita ada di bulan ini, terjadi dalam waktu sekejap biar ngga nyusahin orang yang masih hidup.
Marhaban Ya Ramadhan. Walaupun kami remuk redam babak belur, masuklah dalam ruang-ruang batin kami yang kosong dan kehausan.
Untuk semua yang berlebih-lebihan dan tidak pada tempatnya, saya mohon dimaafkan dari lahir dan bathin.
Popularity: 13% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!



