Image 01 Image 02

Ketika Pasokan Listrik Terancam

Posted on 9th October 2006 by ebonk
1

Tidak hanya pasokan pangan, pasokan energi khususnya listrik sangat berpengaruh bagi kegiatan ekonomi kami para pengusaha kelas teri. Padamnya listrik selama setengah jam saja sudah cukup untuk bikin kepala pusing. Bayangkan jika terjadi pada jam tertentu dimana terjadi transaksi dalam jumlah cukup banyak harus dihentikan karena listriknya jepret. Kalau cuma mengandalkan UPS, paling juga 5-15 menit, abis itu UPS akan menjerit sekeras-kerasnya. Mana bisa berkarya kalau listriknya BYARR…PETT begitu.

Tanpa publikasi yang digembar-gemborkan, beberapa kota sudah mengalami pemadaman listrik secara bergilir. Tentu saja sebelum latah menyalahkan PLN, sebaiknya kita tengok beberapa isu-isu terkait. Karena pekerjaan menyalahkan ini udah ga laku, apalagi menyalahkan pelaku monopoli.

Jatiluhur

Menurut sumber yang seorang environmentalis, rupanya pembangkit di Waduk Jatiluhur dengan kapasitas 187MW itu debit airnya berkurang secara signifikan. Ngga tau ya angka eksaknya berapa, tapi yang jelas celetukan teman saya itu cukup masuk akal. Tanpa debitnya berkurang saja, tiap tahun kapasitas pembangkit akan meluruh sehingga efisiensinya berkurang. Sekali lagi jangan tanya angkanya berapa ya, saya taunya dari beberapa kawan yang bekerja di sana saja. Pasokan air yang berkurang ini ditengarai akibat cadangan air yang berkurang akibat penebangan hutan yang keluar kendali. Nah, kalau sudah begini.. baru deh pada ngeh soal penebangan hutan.

Geothermal

Jawa Barat cukup beruntung memiliki sumber cadangan panas bumi alias Geothermal yang cukup besar. Sebagai alternatif, panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan. Mohon maaf kalau dibilang alternatif, karena belum bisa mengalahkan PLTA. Sebut saja Wayang Windu, Cipamatuh, Papandayan, Kamojang dan lain-lain. Kapasitas minimal yang pernah saya tahu sekitar 20 MW. Dengan sambungan interkoneksi PLN, listrik dari panas bumi sudah cukup membantu dalam melayani kebutuhan listrik se Jawa-Bali. Rata-rata, pembangkit ini sudah mengabdi kepada Republik ini sejak 1987. Kalau salah saya mohon maaf dan mohon ditindak lanjuti dengan menengok ke sana langsung.

Lain-Lain

Tentu kita juga punya pembangkit lain yang ditenagai oleh diesel, angin, mikrohidro, dll. Tapi kapasitasnya sangat sedikit. Sementara kebutuhan listrik terus tumbuh dari tahun ke-tahun. Apalagi di Pulau Jawa.

Tahun lalu pernah muncul ide untuk membuat pembangkit tenaga surya, dalam bahasa inggrisnya: solar cell atau photovoltaics. Awalnya, gara-gara Pak Wilson, dosen di jurusan saya itu berhasil dalam membangun photovoltaics dengan kapasitas yang besar. Saya mulai kasak-kusuk sana-sini. Cari bahan studi, belajar bikin bisnisplen, ngobrol dengan senior-senior. Rata-rata memang tertarik, tapi juga ragu-ragu. Karena photovoltaics belum punya “portofolio” yang cukup menarik di Republik ini. Ironis, bukan? Di daerah dengan curah sinar matahari terbesar sepanjang tahun sepanjang hari justru tidak punya portofolio photovoltaics.

Bagaimana dengan Nuklir? Asiiikkkk… sampai juga ke topik favorit saya :D

Denger desas-desus dan pernah baca di majalah SWA, Medco Energi sedang mempelajari implementasi energi nuklir di Indonesia. Rencananya tahun 2008. Wow, lebih cepat dari perkiraan saya. Ini berita bagus, buat saya lho :p. Masak punya jurusan Fisika yang punya lab nuklir dan Jurusan Teknik Nuklir kok ngga bisa bikin nuklir dalam skala massal.

Jangan takut sama Amerikanya Bush. Orang mau maju kok dihambat-hambat, dilarang-larang. Dituduh terorislah, bikin bom nuklirlah. Lha sendirinya bikin bom nuklir di Los Alamos ga ada yang larang.

Dengan sumber energi ini, ketergantungan kita akan bahan bakar fosil akan berkurang. Dengan sendirinya, kebutuhan impor BBM juga akan menurun. Dengan begitu, politik dunia tidak hanya didominasi oleh minyak. Kapasitas satu pembangkit bisa melayani kebutuhan listrik se-Jawa Bali selama ratusan tahun. Jadi, di masa depan kita ngga akan menemukan problem pemadaman listrik karena debit airnya berkurang.

Bayangkan saja, dunia sudah masuk babak nuklir sejak 1943. Masuk ke babak antariksa sejak 1960-an. Indonesia terletak di ekuator, jadi jarak ke orbit geostasioner juga lebih pendek. Lebih gampang meluncurkan satelit dan shuttle. Indonesia punya cadangan minyak dan gas terbesar (dulu), kandungan belerangnya kecil, harganya tinggi. Tapi kok BUMN yang menguasainya malah kurang gizi? Idiihhh…

Mudah-mudahan saja, pembesar-pembesar di sana membuat terobosan baru. Jadi pada saat nuklir kita mulai beroperasi, perusahaannya ga sakit lepra atau kekurangan gizi karena dipalakin sama preman-preman di pemda itu.

Mau malak? Gw nuklir luh!
Ayo buat nuklir ramai-ramai!

powered by performancing firefox

Popularity: 13% [?]

 Kirim updatenya ke Email saya dong!

Tulisan lainnya



1
Response to.. Ketika Pasokan Listrik Terancam

1
FADLIKA posted on July 27th 2007

Sebagai mahasiswa yang cita lingkungan saya pribadi lebih mendukung pengembangan sel surya, kenapa ? kaena denga memanfaatkan sel surya selain lebih efisisen (jangan tanya berapa besar efisiensinya), juga ramah lingkungan. Nah ramah lingkungan ini yang belum saya yakini dapat dilakukan oleh nuklir.



Leave a reply...