The Road To Hell Is Paved With Good Intentions
Posted on 11th October 2006 by ebonkTentang niat, sering kita diajarkan bahwa:
- Niat adalah setengah dari kebaikan
- Jika anda hamba allah yang berniat buruk, tidak akan dicatat
- hingga perbuatan buruk itu dilaksanakan. Tapi jika niatnya baik, langsung dicatat sebagai satu kebaikan.
Kebaikan di sini sering dikaitkan dengan pahala, atau lebih sempit lagi -> pamrih.
Dengan penafsirannya, orang Indonesia akhirnya sering kali banyak berniat tapi tidak sampai tuntas mengerjakannya. Terutama orang muslimnya. Padahal ajaran Jawa kuno itu “sepi ing pamrih, rame ing gawe”.
Ini jadi lucu sebab maksud dari kedua dalil di atas tentu saja bukan untuk mengajarkan “sepi ing gawe, rame ing pamrih”. Justru untuk mendorong supaya “catatan hidupnya” tidak dipenuhi dengan niat yang kosong belaka tanpa realisasinya.
Apa ngga malu kalau membayangkan bahwa sepanjang dua puluh tahunan ini, sejak masih ngempeng – trus akhirnya bisa nyium dan dicium anak orang – kok rapotnya cuma berisi niat, tapi realisasinya bolong-bolong? hayooo
Trus, dalam kehidupan sosial-budaya-ekonomi-politik di Indonesia ini penuh di warnai dengan ketidakpastian. Uncertainty di Indonesia, juga sangat ditakuti bahkan dikeluhkan oleh orang-orang mancanegara.
Menurut salah seorang ulama, ini karena orang Indonesia terutama muslimnya seringkali bilang “INSYA ALLAH” untuk hampir segala macam urusan. Akhirnya, untuk urusan yang sebetulnya sederhana dan gampang saja mesti Allah by Himself yang menunjukkan jalan, memberikan petunjuk. Padahal, itu cuma butuh scheduling, atau jadwal ulang, atur siasat, istilah yang berbau islamnya sih: TAWAKAL.
“INSYA ALLAH” kini tidak bermakna sebagai “Atas ijin Gusti Pangeran, Saya pasti bisa” tapi seringkali untuk menutup pembicaraan lawan bicara dengan pesan singkat: “NGGA JANJI YAAA”. Kalau sering nagih utang, pasti sering ketemu wajah Allah yang satu ini dalam mulut orang yang pengen mangkir, hehehe…
Yang menarik, dalam budaya orang Eropa dikenal peribahasa: “The Road To Hell Is Paved With Good Intentions” yang arti harfiahnya:“Jalan ke neraka dipenuhi oleh hamparan niat-niat baik”. Mungkin inilah letak bedanya sehingga orang diajarkan bahwa, kalau cuma niat saja ya belum ada bedanya dengan penjahat yang masuk neraka sampai niat itu dibuktikan.
“Bagaimana dengan kamu sendiri, ebonk?” You asked Me.
Gw sendiri ngga bagus-bagus amat sih, tapi ya tau teorinya lah. Bukan mau menakut-nakuti teman-teman dengan neraka atau memberikan iming-iming mimpi sorga. Itu bukan hak gw, karena gw ngga punya saham di kedua tempat itu. Gw juga ngga punya saham dalam hidup teman–teman.
Lagipula ini bukan tentang sorga dan neraka yang notabene adalah milik orang-orang yang sudah mati. Ini tentang sebuah nilai yang menjadi milik orang-orang yang masih hidup. Sejak masih ngempeng sampe bisa nyium dan dicium anak orang itu. Nilai
sebuah momentum dalam hidup, jika kita mengabaikannya maka hidup kita tidak akan memiliki nilai yang berarti.
Let’s get the things done.
powered by performancing firefox
Popularity: 17% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!



