Image 01 Image 02

Rukyat, antara Mistis dan Saintifik

Posted on 24th October 2006 by ebonk
7

Menghadapi dan menjalani perbedaan soal 1 Syawal 1427H ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun pemerintah dengan enteng menyatakan bahwa perbedaan soal ini tidak usah diperdebatkan. Namun, rasa tidak nyaman itu masih ada walaupun berusaha ditutup-tutupi dengan segala macam pernyataan politis.

Mengapa?

Seolah-olah persoalan berlebaran adalah murni urusan manusia dengan pencipta yang mana masing-masing boleh memiliki perbedaan cara pandang, metode maupun aksinya. Jika memang begitu, maka rasa tidak nyaman itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Namun pada prakteknya, urusan berlebaran lebih dipenuhi dengan dimensi sosial (hablum minannaas) ketimbang dimensi vertikal dengan Sang Pencipta (hablum minallah). Ada rasa kebersamaan, persaudaraan, merajut silaturahmi, menyempurnakan hubungan sesama manusia.

Rukyat, Mistis atau Saintifik?

Saya awam soal hisab rukyat maupun itsbat. Ada ahlinya dan dia tentu lebih kredibel untuk bicara soal ini. Saya hanya menemukan bahwa hisab rukyat maupun metode itsbat lebih kental nuansa spiritual dan mistik ketimbang sifatnya yang (menurut saya sebetulnya) saintifik dan empirikal. Dengan demikian, hasil perhitungannya enggan diperdebatkan secara terbuka dan rasional. Berbeda jika kita bicara tentang sesuatu yang sudah mafhum dianggap saintifik, orang tidak ragu untuk memperdebatkan, karena memang wajar dalam tradisi sains.

Akhirnya, budaya kita dalam menyikapi rukyat tidak berkembang maju. Mentok di situ-situ aja. Sering dalam masyarakat bagaikan ‘terbelah’ antara Lebarannya Muhammadiyah dan Lebarannya NU. Saya yakin semua orang pasti dalam hati kecilnya muncul keresahan, termasuk saya yang sering dibilang sekuler. Jika tidak, kenapa pemerintah harus mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti yang sering kita lihat?

SBY: Terima Perbedaan 1 Syawal Sebagai Suatu Kewajaran
Lebaran Dirumah Din
Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1427 H Jatuh Pada 24 Oktober

(detik)

Kemudian jika kita coba merunut ulang, melihat persoalan lebih jernih, memperdebatkan secara rasional dan argumentatif seringkali ‘dibunuh’ tanpa alasan yang masuk akal. Dituduh provokator lah, memecah belah persatuan ummat lah, ngompor-ngomporin orang lah, yeyyyy…

Hal yang saya pahami sedikit adalah yang namanya hisab rukyat maupun metode itsbat adalah empirikal dan memiliki sifat berkembang terus. Ada faktor kemajuan teknologi, kemajuan dalam ilmu astronomi, kemajuan dalam ilmu antariksa. Thus, domain sains bisa diterima dalam agama (Islam).

Waktu saya praktikum Fisika Dasar Tahap Persiapan Bersama di ITB, modul pertama yang dipelajari semua praktikan adalah “Ketidakpastian Dalam Pengukuran”. Setiap pengukuran memiliki ketidakpastian. Ada faktor paralaks, ada faktor ketelitian (resolusi) alat ukur, belum lagi jika kita libatkan Teori Relativitas bahwa kerangka acuan pengamat juga mempengaruhi. Selayaknya, angka ketidak pastian seharusnya tidak melebihi interval -5% s/d +5% terhadap Order of Magnitude. Singkatnya, kita harus mempertanggungjawabkan hasil pengamatan itu dengan argumentasi yang bisa diterima dan tidak melebihi batas toleransi.

Toleransi ini yang sebetulnya susah dimengerti. Dalam kehidupan sosial di Indonesia, toleransi sudah jamak dipandang sebagai “Lu ya Lu, Gue ya Gue”. Jika ukurannya adalah pengukuran, perbedaan satu hari jauh melebihi rentang ketidakpastian karena sudah 100%. Memang tidak ada satuan persen dalam menyebut bilangan harian. Anehnya, nilai toleransi ini bukan bergeser menjadi lebih masuk akal, justru makin susah dipelajari dan dipahami.

Akhirnya, memang sulit mencari pilihan lain ketimbang menyerahkannya pada keputusan politik. Demi menjunjung demokrasi, dipilih suara terbanyak. Hisab rukyat kini menjadi persoalan perjuangan demokratisasi. Sebuah proses yang menjadi prioritas tertinggi di negeri ini.

Di titik ini, saya merasakan getir. Ternyata ga enak jadi minoritas. Lebaran duluan tapi orang lain masih puasa. Padahal pengen ngelancong silaturahmi, tapi terpaksa ditunda esok harinya.

Ikut Emak

Terlalu jauh dan irrelevant jika menggunakan domain sains, sosial budaya maupun politik. Di keluarga saya sempat ada perbedaan pendapat. Setelah berbincang-bincang, sungguh tidak arif dan juga tidak enak kalau orang tua lebaran hari senin, anaknya masih puasa dan lebaran hari selasa. Trus, masak ngga sungkeman? Ngga lucu dong!!! Ridho Allah kan tergantung ridho orang tua bukan?
Akhirnya, nurutlah saya apa kata emak. Buat apa ngotot pegang alasan-alasan itu semua kalau ujung-ujungnya ngga dimaapin sama emak? Ya ngga?!! Udah banyak dosa sama orang tua masih ngajak debat soal lebaran pula.

Sepulang sholat Idul Fitri di hari senin di masjid yang agak jauh, saya bertemu mata dengan orang-orang di jalan dan di pasar. Rata-rata pasang muka aneh, lucu, dan penuh tanda tanya. Walaupun sekilas. Itu satu dari ngga enaknya jadi minoritas dari mayoritas. Tapi, ngga apalah yang penting sungkeman.

Jadi persoalan udah dianggap selesai?

Nampaknya sih begitu. Sampai saya bertanya lagi. Jadi tahun depan kita Ramadhannya duluan ya? Atau jangan jauh-jauh, Idul Adha dan Muharamnya duluan dong. Kenapa yang beda Lebaran Idul Fitri doang ya, tapi lebaran haji dan Muharam sama?

Nah, mulai lagi deh. Nanti aja kita bahas lagi. Mau sungkem dulu ke rumah nenek nih.
Untuk Anda semua, saya mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Untuk semuanya, Selamat Hari Saya Idul Fitri 1427 Hijriyah. Mohon Maaf Lahir & Bathin

powered by performancing firefox

Popularity: 18% [?]

 Kirim updatenya ke Email saya dong!

Tulisan lainnya



7
Responses to.. Rukyat, antara Mistis dan Saintifik

1

Kalo lebaran haji/Idul Adha kan tanggal 10, jadi perhitungannya udah pasti duluan…



2

Emang lebih enak memandang dari sisi sains daripada dari sisi mistik.



3

Saya pernah liat lukisan kuno, tentang orang2 yg rame2 melihat hilal di langit di Arab. Saya lupa nama pelukisnya. jadi perbedaan itu dari dulu juga ada. Dan nggak ada masalah.

Kesimpulan Mistik darimana? Kalo emang berpendapat sains lebih bisa diterima, yah sebaiknya riset dulu sedikit tentang istilah2 diatas, baru diakhir tulisan kasih komentar. Kalo belum riset udah memberi pendapat, itu namanya bukan saintifik dong. Cuma pepesan kosong aja yang menjadikan dikotomi antara umat makin besar.

Kalo dibilang Islam lebih bisa nerima sains yah nggak tepat juga. Islam aja turunnya dari wahyu, anggep aja wangsit. Kita juga seneng denger kisah2 mukjizat para nabi. Juga surga dan neraka yang serba konsep di awang2.

Intinya, Islam itu lengkap. Mistik, Spiritual, Sains, ada tempatnya masing2. Itu Rahmat Alam Semesta yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia. Kedekatan kita kepada sains selayaknya tidak menjadikan kita lupa.

Istilah yg disebutkan sebagai Mistik, Spiritualisme, Sains, semua itu hanya sebuah makna kata yg menjelaskan keterbatasan kita, kecilnya kita dimata Tuhan.

Wallahu Alam.



4

Pada prinsipnya memang sains bisa diterima oleh agama walaupun pada faktanya memang kurang diterima dalam masyarakat , tentunya khusus untuk masyarakat yang mistik.

Pada kondisi tertentu ada sebuah titik di mana sumbu spiritual, sumbu mistik, sumbu filsafat, sumbu sains dan sumbu sosial saling berhadap-hadapan. Entah bagaimana proses di dalamnya, tahu-tahu sintesanya adalah toleransi.

Lalu, mahluk macam apakah toleransi ini?

Apakah Ia sebuah jawaban atau alat bantu untuk melihat hal yang lain? Dengan kata lain, apakah ia muara final dari semua persoalan, atau hulu dari proses pencarian yang baru?

Thx for your great comments :)



5

Kalo gw mah setuju dengan suara terbanyak, karena biasanya untuk mendapat hasil yang dianggap paling benar pada suatu praktikum, dilakukan dengan mengambil nilai rata2 dari percobaan yang dilakukan secara berulang. Jadi untuk menentukan kapan lebaran, hasil pengukuran dari seluruh pengamat dikumpulkan, diumumkan, terus dirata-ratakan, baru diambil keputusan.

Bonk tukeran link yuks……



6
syamsi posted on November 7th 2006

Seorang engineer biasanya kalo mau mengambil keputusan melakukan perhitungan terlebih dahulu (hisab) untuk membuat prediksi awal. Perhitungan dilakukan dari berbagai segi dan menggunakan bermacam metoda agar prediksinya tidak terlalu jauh dari kondisi nyatanya (rukyat). Setelah dilakukan pengujian2 dan evaluasi, barulah keputusan dibuat. Jadi keputusannya itu cenderung berdasarkan ‘rukyat’ yang dia lakukan.
Kalo hanya mengandalkan perhitungan (hisab), jujur saja tidak ada perhitungan astronomi yg berhubungan dg kasus ini yg sifatnya eksak, masih ada asumsi-asumsi dan pendekatan dlm setiap metoda perhitungan. Makanya dari banyak metoda yg ada, seringkali muncul perbedaan. Sunnah Rasulullah juga dg sangat jelas menunjukkan bhw pengambilan keputusan diutamakan menggunakan rukyat (melihat/menyaksikan hilal). Jika hilal terlihat maka berlebaran, kalo nggak yaa puasanya dilanjutkan. Mudah aja khan? Jadi gak ada yg sifatnya mistis. Tapi kalo metoda2 perhitungan tsb mau dibahas satu per satu lalu masing2 dibandingkan juga sah2 saja. Ilmuwan memang suka yg njelimet2, bukan? :)



7

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
(Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)



Leave a reply...