Image 01 Image 02

Ngga kapok juga?

Posted on 26th October 2006 by ebonk
1

Sampai hari ini gue baru sadar ternyata udah lebih dari 4 (empat) tahun we stand on the business. Jatuh bangun. Dibanting berkali-kali. Bubar-gabung berkali-kali. Bikin lagi. Bubar lagi. Bikin lagi. Jatuh lagi. Naik lagi. Dibanting lagi. Oww, capek juga ..

Nah, gue udah dibilangin ribuan kali. Dibujuk berkali-kali. Udah lah, ngapain repot-repot. Lowongan banyak tuh. Masukin CV gih.. Yang penting kan ada pemasukan bulanan. Relatif lebih aman. Dari pada gini… sekarang ada…besok belom tentu.

Tergoda? Ya tentu dong!

Masalahnya, kalau mengingat bahwa fundamental ekonomi kita yang terganggu, apa ada pekerjaan yang aman? Kalau sektor riil kita macet, apa ada jaminan bakal aman? Kalau tingkat inflasi melebihi ambang normal, apa ada tabungan/investasi yang aman? Kalau Undang-Undang Tenaga Kerja masih susah diterapkan, apa hak-hak kita terlindungi? Kalau nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing masih rendah, apa ada gaji yang memuaskan?

Sori kalau terprovokasi.

Empat tahun (efektif) bisa dianggap waktu yang cukup lama. Udah pernah nyicipin jaman Gus Dur, jaman Megawati sampe kenyang (eneg malah), sampe jaman SBY (mulai jeprut nih). Tiga kabinet !!!

Belom itung-itung soal modal yang udah keluar. Kalau selama empat taun dikumpulin trus dibeliin abu gosok, bisa nyuci piring tujuh puluh turunan kitah. :p

Apa cuma start-up kayak gue aja yang kena gempur kayak gini? Ah, ngga juga. Liat aja sendiri. Semua kena gempur, ngga pandang bulu. Repoblik ini ekonominya disetir oleh konsumsi. Selama puluhan tahun, Orde Baru telah berhasil membentuk rakyat kita menjadi konsumerisme maniak. Great Job, Pak Harto!

Sekarang, hari ini, bukanlah soal salah siapa. Hari ini adalah saatnya memetik bibit yang kita tanam kemarin, bahkan dahulu! Inilah buah yang kita tanam itu.

Adapun hari esok, tergantung dari apa yang kita tanam di hari ini. Apa kita menanam berkah, atau justru petaka? What You Sent Is What You Get (WYSIWYG). Biar lebih afdol, tercatat dalam Al-Quran :

“Siapapun yang menanam kebaikan sebesar biji atom akan menuai kebaikan. Siapapun yang menanam keburukan sebesar biji atom akan menuai keburukan.” (Surah ke-99: Al Zalzalah:7-8)

Itulah yang gue alami dan rasakan di Repoblik of Indonesia. You get what you paid for.

Kenapa ga pindah?

Oh, enaknya kalau bisa pindah ke Singapore. Atau ke Aussie. Atau ke Swiss. Kayaknya disono lebih enak bikin bisnis. Pajak rendah, korupsi ngga ada, birokrasi sehat, iklim usaha yang kondusif, ekonomi yang stabil, hukum yang adil, … owww indahnya…. gitu kira-kira mimpi gue. HIJRAH !!!

Mungkin itu impian tersembunyi dalam mayoritas kepala orang Indonesia. Buktinya, masih inget kasus sekte yang ngajak hijrah trus hilang entah kemana?

Kalau mentah-mentah kita memahami hijrah ya begitu. Kalau hanya segitu yang kita nggap hijrah, ya begitu. Terus terang, kalau gue mampu hijrah, gue udah hijrah ke negara tetangga. Kalau bisa memilih, gw pilih hijrah. Problemnya, gw belum mampu thus bukan jadi pilihan.

Problem ini memaksa gw menemukan hikmah, pelajaran penting tentang apa yang sebetulnya gue inginkan. Bahwa Hijrah adalah soal transformasi. The most fundamental dari yang gue inginkan, sebuah perubahan mendasar dan pokok. Pajak yang rendah, korupsi ngga ada, birokrasi yang sehat, iklim usaha yang kondusif, ekonomi yang stabil, hukum yang adil, TIDAK MEMBAWA HASIL, kalau secara fundamental belum ada perbaikan. Yeaa, fungsi-fungsi kompleks tersebut akan bekerja pada variabel yang TIDAK NOL. Jika variabel bebasnya tetap NOL, maka hasilnya juga NOL.

Betul! Gue belom ada apa-apanya. Itulah yang paling fundamental. Belum saatnya puas dengan hasil yang ada sekarang. Kalau mau puas dengan hasil yang ada sekarang, ya monggo, silakan saja. Tapi kalo gue pilih maju sekali lagi. Jika memungkinkan yang lebih baik, maka baik saja tidaklah cukup!

Oleh karena itu, harapan gue masih berkibar dengan kencangnya. Lebih dari itu, gue jadi tahu ke mana gue harus menggantungkan harapan itu. Bukan kepada birokrasi, bukan kepada undang-undang, bukan kepada aparat penegak hukum, tapi kepada gue sendiri. Rebut kendali nasib ke tangan kita sendiri. Jangan mengharapkan belas kasihan birokrasi. Jangan mengharapkan memori para eksekutif dan legislatif.

TO BE MORE SMARTER, STRONGER, FASTER, BIGGER, WISER…

Jadi… kapok ngga?

Entah gue ngotot atau bebal, jawaban gue: NGGA!

Karena ngga ada pilihan lain dan gue ngga mau putar balik lewat jalan yang sama! Kalau bubar lagi, ya bikin lagi dari awal. Kalau dibanting lagi, ya bangun lagi. Kalau bangkrut, ya nyicil lagi. Urusan hasil, itu tergantung pemahaman kita tentang takdir.

Maju terus, kawan-kawan! Lakukan perubahan sedini mungkin di level yang paling mendasar! Masuk ke semua sektor dari sosial-budaya sampai politik. Bentuk simpul jaringan dan jalankan program. Bergaul dengan semua orang dari tukang sapu di stasiun sampai presiden. Perbaiki respek dan apresiasi kepada kaum intelektual.

Kemenangan hanya milik mereka yang meyakininya, mereka yang meyakininya paling lama! <- Itu kata Jenderal James Doolittle.

MERRRRDHEKHAAAAA!!!!

powered by performancing firefox

Popularity: 17% [?]

 Kirim updatenya ke Email saya dong!

Tulisan lainnya



1
Response to.. Ngga kapok juga?

1
jalu posted on December 22nd 2006

good ideology,
good luck & GBU prend



Leave a reply...