Archives by Subject

Arsip April 2007

Selamat tinggal, Singcat!

Situs ebonk.org sedang saya backup ke hardisk untuk dipindahkan ke server hosting yang baru. Mungkin butuh sekitar 1 hari untuk memastikan semua data tersimpan dengan utuh.
Setelah itu, semua situs saya di Singcat akan segera dipindahkan satu persatu.

Kenapa dipindahkan?

Payah! Singcat tidak sebagus dulu lagi. Masak tiap hari langganan down atau timeout terus. Memang murah sih. Tapi bukan itu masalahnya. Ada juga yang murah, tapi layanannya bagus.

Sekarang saya sudah dapat server hosting yang bagus. Servernya disimpan di GSD. Jadi bisa diakses lebih cepat dari Indonesia. Murah lagi.

Sementara ini masih numpang/hosting di server orang, sambil menunggu waktu untuk dedicated server sendiri.

Selamat tinggal, Singcat!

Powered by ScribeFire.

Linksys WRT54G dan Motorola SB5101

Bagi rekan-rekan yang pusing dengan wireless router Linksys WRT54G dan modem kabel tipe docsis merek Motorola SB5101, saya punya tipsnya. Tips ini diambil dari kisah nyata.

Situasi

  • Anda sudah membeli router Linksys WRT54G.
  • Anda sudah membeli modem kabel docsis Motorola SB5101.
  • Anda sudah berlangganan pay-tv Kabelvision.
  • Anda sudah berlangganan internet ke salah satu ISP yang menyediakan koneksi kabel.
  • Semua hal diatas dibayar lunas.

Kondisi

  • Router Linksys WRT54G bekerja dengan normal. Power, kabel, wireless, dll.
  • Modem Motorola SB5101 bekerja dengan normal. Sinyal, LED, kabel, dll.
  • Router bisa terkoneksi dengan modem.
  • Modem berhasil terkoneksi dengan ISP dan memperoleh IP dari DHCP milik ISP.

Masalah

  • PC di jaringan lokal tidak bisa konek ke internet. Ping, traceroute, dll.

Analisa

  • Cek routing-table di router Linksys WRT54G.
  • Cek ping dan traceroute dari router Linksys WRT54G.

Setelah itu, coba baca mengenai ‘clear host’ di beberapa thread berikut:

Solusi

Jika Anda sudah melakukan semua prosedur yang ada dalam manual masing-masing, Anda tidak perlu melakukan request ‘clear host’ ke Kabelvision maupun ISP.

Anda cukup menunggu, paling tidak 30 menit. YA ! Menunggu. Proses memperoleh IP address bisa begitu lama (bahkan ada yang 3 jam) dan routing berjalan normal. Ini kisah nyata!

Sangat jauh dari teknis!

BAH!

Technorati Tags: , , ,

Powered by ScribeFire.

Ampun ngilunya

“Yak, ternyata normal. Thrombosite normal, Erithrosite normal, Laju Endapan Darah (LED) normal, yang lain juga. Kenapa saya minta test yang ini, karena tadi ada keluhan ke arah liver, ternyata engga. Tadi juga ada indikasi TBC atau paru, ternyata ngga.” Begitu kata dokter di UGD RSAL Dr. Mintohardjo kepada saya.

Phew, lega tapi rasa ngilu akibat jarum suntik untuk mengambil darah di tangan kanan saya masih tersisa. Ketika darah saya diambil untuk dites oleh petugas laboratorium, saya pelototin tuh jarum suntik sampai dia puas nyedot darah saya. Saya menolak untuk kehilangan satu detik pun, takut ada yang netes. Tusukan pertama gagal, tusukan kedua di vena yang lebih besar. Sakit sekali tapi lancar. Ya iya laahhh, gede gitu uratnya. Bekas tusukan pertama jadi bentol dan ditutup kapas yang dibasahi alkohol.

Percaya atau tidak, selama lebih dari 20 tahun saya tidak pernah disuntik. Sebelumnya saya cuma disuntik dua kali. Pertama waktu bayi, imunisasi cacar. Yang kedua waktu kelas satu SD tahun 1985, istilahnya dikuris. Hayoo, masih ingat?

Setelah itu, tidak pernah. Saya tidak pernah suka jarum suntik, bahkan untuk isi ulang tinta printer. Menurut saya jarum suntik adalah ide bodoh untuk menyembuhkan orang, apalagi untuk isi ulang tinta printer.

Saya harus rela benda itu menusuk vena saya karena perintah dokter, untuk cek darah. Dan saya harus lihat. Ampun ngilunya, dia gesek-gesek pula jarum itu di tangan saya. Mengalirlah cairan berwarna kehitaman, kok kaya tinta printer ya?

Setelah satu jam, hasil tes darah saya ambil dan serahkan ke dokter. Saya bersyukur ternyata keluhan saya, muntah dan ada darahnya, tidak begitu buruk.

“Sepertinya ada gejala ke arah gastritis, saya buatkan resepnya.. mau disuntik ya?” Lanjut pak dokter.

Disuntik? Lagi? Dua kali dalam waktu kurang dari 2 jam? Ini rekor sepanjang hidup saya. Sebetulnya saya tidak mau, tapi … gengsi dong…ntar dibilang takut…

“okeh…” saya jawab.

Kemudian saya disuruh berbaring. Kali ini seorang perawat yang akan melakukannya. Karena tangan kanan sudah ada perbannya, akhirnya dari tangan kiri. Saya disuruh mengepal sementara siku diikat.

Tusukan pertama di vena yang kecil…Awwww…. gagal. Katanya tangan terlalu tegang. Apah?? Okelah, saya akui saya agak tegang.

Tusukan kedua di vena yang agak besar… Adowwww…..berhasil masuk setengah…tapi gagal lagi…Buset!!! Udah ngilunya dobel, masih belom juga?

Tusukan ketiga di ujung siku, di vena yang paling besar, Iyaawwwww…… mau teriak tapi maluu… jadi cuma bisa merem….dudududududuu….

“Nanti kalau sudah mendingan, ambil obatnya di apotek Yanmasum.” kata perawat.

“Jadi sudah selesai, mbak”, saya tanya.

“Sudah selesai, sudah boleh pulang”, jawab perawat.

FINALLY! Sudah boleh pulang. Hampir 2 jam di UGD, saya mulai merasakan tidak nyaman. Untung sudah boleh pulang.

Saya tidak menunda sampai merasa baikan. Saya ambil resep dan melangkah keluar ruangan menuju apotek. Tangan rasanya tidak bisa diluruskan, ngilunya itu lho. Buka pintu pun dorong pakai bahu. Sampai apotek, saya serahkan resep dan obat saya bawa pulang.

Sampai di basecamp di Benhil, rasanya tidak bisa dilupakan. Bagaimana logam itu mengesek vena saya. 5 tusukan dalam 2 jam. Kenapa begitu susah, padahal saya kan kurus. Vena bisa ditemukan dengan mudah.

Ampunn ngilunya!

Powered by ScribeFire.