Archives by Subject

Arsip July 2007

Memang Aneh

Bapak-bapak yang saya hormati,

adalah aneh kalau mengatakan hal seperti aneh,

menciptakan kegiatan yang tidak perlu adalah bukan aneh bagi birokrasi. Semangat ini memang lahir sejak 1950 dalam peraturan kepegawaian dimana pegawai negeri memang di disain untuk menyerap tenaga kerja. Jadi itu lah misinya yang terus dilestarikan.

Air bisa dikuasai oleh swasta itu juga aneh, karena melanggar UUD
BUMN dijual itu juga aneh arena melanggar UUD
PTBHP itu juga aneh karena semangatnya bertentangan dengan UUD untuk mewujudkan cita-cita proklamasi

MA dalam kasus Meruya itu juga aneh
Depdiknas yang ngotot setelah putusan pengadilan itu juga aneh
Mengurus negara dengan menganggap rakyat bukan pusat pemikiran juga aneh.
Suap-menyuap, palak-memalak, uang rakyat itu juga aneh

Tidak ada yang aneh di negeri ini

Yang aneh adalah mereka yang masih mempunyai integritas moral dan
mencintai bangsa dan negeri ini.

Terima kasih untuk pak As (as[at]jmn.net.id) yang telah mengizinkan saya untuk mencomot postingnya di milis Telematika.

Techie = Magician ?

What the eye see and the ears hear, the mind believes.
Harry Houdini, Hungarian-born American stage magician.

Siapa yang tidak kenal dengan Harry Houdini yang saya quote di atas, atau David Copperfield? Kita tentu senang menonton pertunjukan sulapnya baik secara langsung maupun lewat layar televisi. Kita pun tahu bahwa para pesulap melakukan tipuan-tipuan, atau trick, agar terlihat ajaib. Kita bahkan sadar akan ilusi itu sebelum acara dimulai. Tapi kita senang dengan tipuan-tipuan itu. Ya, karena kita senang ditipu, kita menyukai ilusi. :)

Apa yang terjadi saat mereka membongkar trik sulapnya? In the making of magic, ilusi diciptakan sedemikian mungkin tanpa melanggar believing system kita, namun mengeksploitasinya. Distraction, pengalih perhatian, adalah unsur penting dalam menciptakan ilusi selain unsur-unsur lainnya.

Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar soal sulap atau magic, karena bukan ahlinya. Saya justru mau membahas soal IT. Lebih tepatnya anggapan masyarakat (yang salah) terhadap pekerja IT.

Seringkali di antara anggota masyarakat kita yang menganggap bahwa pekerja IT tidak lebih dari seorang tukang sulap. Mulai dari hal sederhana, memberikan tenggat waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan target tertentu. “Bisa ngga softwarenya jadi dalam sehari?”, emang gue Bandung Bondowoso? Microsoft saja butuh waktu lebih dari 2 tahun untuk merilis versi baru Windows.

Hingga melakukan hal-hal yang hanya bisa terjadi dalam film Hacker ataupun sejenisnya. Dengan layar monitor penuh gambar 3D atau penuh karakter aneh seperti Matrix, dengan efek suara yang genit, warna dominan item-ijo, dengan font terminal ala Starwars atau sejenisnya.

Sedemikian dahsyat ilusi yang ditanamkan lewat film-film maupun media kepada masyarakat sehingga para techie, atau geek tidak ubahnya para dukun atau penyihir di abad 21. Sedahsyat ilusi hantu yang diciptakan kepada kita sejak kecil lewat cerita maupun ajaran orang tua.

Sangat berlebihan! Sehingga tidak mengherankan jika ada orang yang menganggap orang IT bisa melakukan hal-hal seperti dalam film. Kalau tidak bisa, dianggap masih hijau.

Saya sendiri tidak percaya dengan ilusi-ilusi tersebut. Saya belum pernah melihatnya, belum pernah mempelajarinya, belum pernah menemukan hipotesa seperti itu. Karena saya cuma seorang engineer biasa. Kecepatan mengetik saya juga rata-rata. Kecepatan menghitung juga biasa-biasa saja.

Sekali lagi, Saya tidak mengatakan itu tidak mungkin. Mungkin saja ada orang yang bisa mengetik lebih dari 100 word per second, melakukan proses aritmatika dengan kecepatan 100 instruction per second. Saya katakan, sangat berlebihan dan terlalu didramatisir. Ya, perlu didramatisir, sebab jika tidak para penonton film hanya akan menyaksikan adegan yang membosankan, menyaksikan orang yang sedang menulis kode dan mendebug pasti sangat membosankan bagi orang lain.

Namun yang menyakitkan adalah apresiasi yang di luar batas, misalnya orang IT harus bisa melakukan cracking, mencuri uang di bank, melakukan deface, dll. Hal itu sama saja mendudukkan pekerjaan IT sama dengan pekerjaan mencuri. Artinya techie sama dengan kriminal!

Hey, di dunia ini banyak ladang commerce maupun e-commerce yang bisa menghasilkan uang banyak tanpa harus mencuri atau merugikan orang lain.

Tentu beda konteks jika dilakukan dalam koridor pertahanan negara atau untuk penyidikan.

Tapi hal ini juga tidak lepas dari karakter orang IT itu sendiri. Kita pasti sering menemukan bahwa kebanyakan orang IT adalah sekumpulan manusia aneh. Aneh dalam berpakaian, aneh dalam berkomunikasi, aneh dalam hobby, aneh dalam hampir semua kesehariannya. Techie yang bisa kelihatan seperti ‘manusia normal’ sangat sedikit jumlahnya. Menurut saya itu juga mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap techie maupun saintis.

Ah, cape deh.

Mulai sekarang, jangan cari tukang sulap di sini ya! Cari aja di Hollywood!

Technorati Tags:

Konfirmasi

Sore tadi saya telah berbicara langsung lewat telepon dengan Pak Prayitno dari pihak Goechi. Saya disambut baik. Setelah saya perkenalkan diri, saya utarakan maksud saya untuk konfirmasi apakah PT. IMS adalah reseller mereka.

Ternyata bukan. PT. Insan Mandiri Solusindo (IMS) memang pernah membeli produk Goechi namun bukan reseller. Tadinya, jika PT. IMS reseller Goechi, saya mau minta tolong agar menegur PT. IMS karena konten website saya dijiplak oleh PT. IMS.

Saya jelaskan pula, bahwa PT. IMS menjual software buatan Goechi, oleh sebab itu saya berpikir PT. IMS reseller Goechi. Dengan demikian, saya simpulkan Goechi tidak tahu kalau produknya dibajak oleh PT. IMS.

Dengan berbekal informasi ini, saya yakin bahwa situasi akan bisa diatasi dengan mudah.

Kita lihat saja nanti.
:)

Technorati Tags: ,

Menegur

Menjelang tengah malam saya coba mengadakan kontak kembali lewat YM dengan AG dari pihak IMS. Percuma lewat nomor telepon, karena tidak dijawab.

Kali ini ada balasan. Saya ingin konfirmasi apakah halaman website ini adalah milik Insan Mandiri Solusindo (IMS) dan dibuat oleh pihak IMS. Ternyata benar.

Saya juga konfirmasi apakah AG sendiri yang membuatnya. Ternyata benar. Saya konfirmasi lebih lanjut apakah AG sendiri yang melakukan copy-paste dari situs Voucha. Ternyata benar. Saya tanya kenapa dia melakukannya. Menurutnya karena websitenya juga sering dijiplak orang lain. Kemudian saya tanya, apa dengan demikian dia punya legitimasi untuk menjiplak website kami. Jawabnya: IYA. Oh maigat!!!

Saya langsung utarakan, bahwa saya minta bagian yang dijiplak untuk dihapus atau cantumkan sumbernya. Tapi dijawab bahwa blog saya telah menjelek-jelekkan IMS. Saya kira ini hanya alasan untuk mengalihkan. Yang jelas, pihak IMS yang menjiplak kemudian saya tulis di blog.

Saya konfirmasi apakah IMS adalah salah satu reseller Goechi. Tidak dijawab. Sebab saya kenal dengan orang Goechi, dan kebetulan satu almamater. Lama tidak dijawab akhirnya yang bersangkutan signout.

Akhiranya saya kirim pesan offline, saya akan beri waktu 24 jam untuk menghapus halaman web yang saya maksud.

Kita lihat saja nanti.
:)

Attachment:
chat dengan AG

Technorati Tags: ,

Dijiplak Lagi

Saya ngga habis pikir, jika perusahaan IT, pembuat software, yang notabene baginya mudah untuk membuat sebuah halaman HTML, masih harus menjiplak isi website orang lain. Untuk bikin website saja ngga becus, bagaimana bisa bikin software? Sungguh menyedihkan.

Ih Malu dong…

Coba liat ceritanya di sini: Copy Paste

Technorati Tags: