Techie = Magician ?
Posted on 23rd July 2007 by ebonkWhat the eye see and the ears hear, the mind believes.
Harry Houdini, Hungarian-born American stage magician.
Siapa yang tidak kenal dengan Harry Houdini yang saya quote di atas, atau David Copperfield? Kita tentu senang menonton pertunjukan sulapnya baik secara langsung maupun lewat layar televisi. Kita pun tahu bahwa para pesulap melakukan tipuan-tipuan, atau trick, agar terlihat ajaib. Kita bahkan sadar akan ilusi itu sebelum acara dimulai. Tapi kita senang dengan tipuan-tipuan itu. Ya, karena kita senang ditipu, kita menyukai ilusi.
Apa yang terjadi saat mereka membongkar trik sulapnya? In the making of magic, ilusi diciptakan sedemikian mungkin tanpa melanggar believing system kita, namun mengeksploitasinya. Distraction, pengalih perhatian, adalah unsur penting dalam menciptakan ilusi selain unsur-unsur lainnya.
Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar soal sulap atau magic, karena bukan ahlinya. Saya justru mau membahas soal IT. Lebih tepatnya anggapan masyarakat (yang salah) terhadap pekerja IT.
Seringkali di antara anggota masyarakat kita yang menganggap bahwa pekerja IT tidak lebih dari seorang tukang sulap. Mulai dari hal sederhana, memberikan tenggat waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan target tertentu. “Bisa ngga softwarenya jadi dalam sehari?”, emang gue Bandung Bondowoso? Microsoft saja butuh waktu lebih dari 2 tahun untuk merilis versi baru Windows.
Hingga melakukan hal-hal yang hanya bisa terjadi dalam film Hacker ataupun sejenisnya. Dengan layar monitor penuh gambar 3D atau penuh karakter aneh seperti Matrix, dengan efek suara yang genit, warna dominan item-ijo, dengan font terminal ala Starwars atau sejenisnya.
Sedemikian dahsyat ilusi yang ditanamkan lewat film-film maupun media kepada masyarakat sehingga para techie, atau geek tidak ubahnya para dukun atau penyihir di abad 21. Sedahsyat ilusi hantu yang diciptakan kepada kita sejak kecil lewat cerita maupun ajaran orang tua.
Sangat berlebihan! Sehingga tidak mengherankan jika ada orang yang menganggap orang IT bisa melakukan hal-hal seperti dalam film. Kalau tidak bisa, dianggap masih hijau.
Saya sendiri tidak percaya dengan ilusi-ilusi tersebut. Saya belum pernah melihatnya, belum pernah mempelajarinya, belum pernah menemukan hipotesa seperti itu. Karena saya cuma seorang engineer biasa. Kecepatan mengetik saya juga rata-rata. Kecepatan menghitung juga biasa-biasa saja.
Sekali lagi, Saya tidak mengatakan itu tidak mungkin. Mungkin saja ada orang yang bisa mengetik lebih dari 100 word per second, melakukan proses aritmatika dengan kecepatan 100 instruction per second. Saya katakan, sangat berlebihan dan terlalu didramatisir. Ya, perlu didramatisir, sebab jika tidak para penonton film hanya akan menyaksikan adegan yang membosankan, menyaksikan orang yang sedang menulis kode dan mendebug pasti sangat membosankan bagi orang lain.
Namun yang menyakitkan adalah apresiasi yang di luar batas, misalnya orang IT harus bisa melakukan cracking, mencuri uang di bank, melakukan deface, dll. Hal itu sama saja mendudukkan pekerjaan IT sama dengan pekerjaan mencuri. Artinya techie sama dengan kriminal!
Hey, di dunia ini banyak ladang commerce maupun e-commerce yang bisa menghasilkan uang banyak tanpa harus mencuri atau merugikan orang lain.
Tentu beda konteks jika dilakukan dalam koridor pertahanan negara atau untuk penyidikan.
Tapi hal ini juga tidak lepas dari karakter orang IT itu sendiri. Kita pasti sering menemukan bahwa kebanyakan orang IT adalah sekumpulan manusia aneh. Aneh dalam berpakaian, aneh dalam berkomunikasi, aneh dalam hobby, aneh dalam hampir semua kesehariannya. Techie yang bisa kelihatan seperti ‘manusia normal’ sangat sedikit jumlahnya. Menurut saya itu juga mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap techie maupun saintis.
Ah, cape deh.
Mulai sekarang, jangan cari tukang sulap di sini ya! Cari aja di Hollywood!
Technorati Tags: hacking
Popularity: 18% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!
Tulisan lainnya
mang siapa yang nyari tukang sulap, orang gw mo nyari badut pesta, :p



