Arogansi Alumni ITB
Posted on 15th August 2007 by ebonkAlumni ITB memang terkenal jago-jago dan terpandang. Ada faktor sejarah, budaya di kampus, dan sistem pengajaran di ITB yang membentuknya. Selain prestasi dan pencapaian-pencapaian intelektualnya. Itu harus diakui.
Namun memang ada alumni ITB yang dengan pengetahuannya yang masih terbatas sudah mampu memandang rendah rakyat kebanyakan. Akses yang lebih baik ke sumber daya informasi, kesempatan yang lebih baik dibandingkan rakyat kebanyakan, rupanya membuatnya silau.
Dikit-dikit bawa nama rakyat, padahal cuma modal nonton TV atau baca koran. Lalu bisa kasih judgement: rakyat itu bodoh, rakyat itu tidak logis, rakyat itu pikun.
Kalau para alumni ITB cuma berpegang dengan apa yang mereka baca dan liat di media nasional yang notabene cuma memegang sekitar 10 persen informasi, ya kasian amat kawan ini. Sekitar 90 persen informasi left unsaid. Tapi dikit-dikit bawa rakyat. Apa ngga diketawain orang?
Hiihihi..
Btw, udah sering kita lihat anak ITB underestimate pada rakyat. Rakyat itu ngga logislah, cupu lah, ga punya sikap lah, dan sebagainya. Berlagak lebih pandai dari rakyat. Itu omong kosong, dan salah besar!
Dia yang merasa lebih superior dari rakyat kebanyakan itu sebenarnya ga mengerti pikiran dan logika rakyat. Dan superioritas itu hanya untuk menutupi ketidakberdayaannya menghadapi rakyat, menghadapi realitas yang dialami rakyat.
Ia hanya bisa bersembunyi di balik kemegahan peradaban barat untuk menghadapi kemiskinan. Ia hanya bisa berlindung di balik emansipasi ala barat untuk menghadapi penindasan gender. Ia hanya mampu mengulang atau menjadi pembeo dari buku-buku sosialisme dan kapitalisme. Ia hanya mampu menjadi pengutip ayat-ayat suci.
Tapi percayalah, itu besar lagaknya aja. Buktinya, untuk menghadapi rakyatnya sendiri harus pakai teori-teori dan pemikiran dari barat. Ya begitulah, tidak mampu make a deal dengan rakyat, kemudian lari ke perpustakaan atau ke kamarnya, ke buku-buku sosialisme, kapitalisme, yang sudah ditinggalkan oleh bangsa barat sendiri. Kemudian dengan pengetahuan itu, merasa lebih unggul dari rakyat. Padahal dalam ekosistem kapitalisme kita, nasibnya bahkan masa depannya tidak lebih baik dari tukang sapu di terminal Kampung Rambutan.
Bahwa rakyat harus dididik, semua orang di Indonesia ini harus dididik supaya berpikiran sehat sebagaimana manusia sewajarnya. Baik rakyat maupun pejabatnya, supaya tidak menjadi serigala jadi-jadian.
Ok deh.
Be home before night, and pray for dawn!
ebonk
Alumni ITB juga.
Technorati Tags: itb
Catatan:
Ini adalah tanggapan dari email di mailinglist IA ITB Jakarta:
http://groups.yahoo.com/group/iaitbjakarta/message/6443
Posting aslinya:
http://groups.yahoo.com/group/iaitbjakarta/message/6491
Popularity: 18% [?]
Kirim updatenya ke Email saya dong!
Tulisan lainnya
Heran deh, masak hare gene masih ada yang bangga2in almamater, apalagi dah lulus? Kalok menurut saya yang awam, itu cuma nunjukin kekerdilin mereka, jadi berlindung dibalik komunitasnya gitu loh.
Trus heran berikutnya, kok alumni itb merasa superior yak? heran dech ich. Kutipan :
“Alumni ITB memang terkenal jago-jago dan terpandang. Ada faktor sejarah, budaya di kampus, dan sistem pengajaran di ITB yang membentuknya. Selain prestasi dan pencapaian-pencapaian intelektualnya. Itu harus diakui”
Jago-jago apa ya kk? trus prestasi dan pencapaiannya apa yak kk? Setau saya lulusan itb banyak jadi birokrat deh waktu jaman orba. Nah, bukannya mereka2 ini yang bikin Indonesia mo bangkut? ![]()
Trus yang ini :
“…kemudian lari ke perpustakaan atau ke kamarnya, ke buku-buku sosialisme, kapitalisme, yang sudah ditinggalkan oleh bangsa barat sendiri”.
Baik sebagai pemikiran maupun praksis, kapitalisme dan sosialisme tidak pernah ditinggalkan. Ilmu2 sosial(termasuk ekonomi) gak akan pernah lepas dari kedua pemikiran besar itu kk. Coba deh baca2 lagi bukunya kk. Meninggalkan kedua pemikiran besar tersebut dalam kancah pemikiran sosial-politik adalah kesalahan fatal! Ini ibarat mo blajar komputer tapi gak belajar sistem operasi, belajar programming tapi gak blajar algoritma
Gitu kk, semoga berkenan..
ya… gw aga stuju…
elit-elit itu cuma berdandan rapih doang, pke jargon-jargon yang normatif dan nyaris ga berisi, dan akhirnya masyarakat kebanyakan indonesia menganggapnya sebagai pencapaian yang hebat, berbudaya, cerdas, dsb
stelah smua tertampung di internet, memang perlu ya ITB? sosialisasi yang hebat pun bisa dibangun tanpa ITB. bahkan saat ini tidak ada kejelasan di ITB yang sudah hanya berorientasi absen dan IPK, ITB tetap sedikit diisi dosen-dosen hebat, pakar, atau pun aktivis pendidikan. seperti hanya diisi oleh profesor yang minim interaksi dengan mahasiswanya, atau pun dosen proyekan. apakah IPK mahasiswa nantinya merepresentasikan kualitasnya?
diinternet telah tersedia banyak silabus, materi mata kuliahnya, hanya tinggal tunggu bagaimana itu bisa diterima luas. dan banyak berita data yang melibatkan kekritisan pembacanya, setelah itu apa jadinya gaya-gaya selebritas omong kosong yang dipraktekan selama ini?
Kata-kata ini:
“Alumni x memang terkenal jago-jago dan terpandang. Ada faktor sejarah, budaya di kampus, dan sistem pengajaran di x yang membentuknya. Selain prestasi dan pencapaian-pencapaian intelektualnya. Itu harus diakui.”
juga diucapkan oleh alumni UI, UGM, Harvard, MIT, Berkeley, dst….
Jadi apa esensinya?
Seperti katak dalam tempurung.
Yang ngrasa bodo aja kali yang kesindiran tuch
maksudnya tuh ADA kan? bukan semua?
bikin ngeleper2 aja
Bonk.. masih kritis juga maneh yah.. tetep jaga idealisme kawan.
Tahu isu2 soal pemilu ketua IA-ITB?? adakah pengawas independennya..
perlu dicermati adanya “money politics” loh… ini saya tahu sendiri.
entah itu dilakukan atas inisiatif tim sukses ato disuruh kandidatnya…
motifnya.. ya biasa lah, krn lokasi pemilihan di kota2 besar semisal jkt n bdg maka alumni2 yg bekerja di site diberikan ongkos pesawat PP utk memilih dengan catatan harus milih yg ngasih ongkos tsb. dan ini nyata benar terjadi… memang memalukan sekali kandidat tsb? alumni ITB, putra terbaik bangsa? jadi public figure? melakukan praktek menyuap hanya agar terpilih jadi ketua IA-ITB?? gimana klo dia mo jadi presiden?? pantas saja bangsa ini tingkat korupsinya tinggi.. lha putra2 terbaiknya saja begitu… tidak bermoral!!! coba dengar lagu “HIO”-nya SWAMI.. yg wajar2 saja lah.. klo memang merasa mampu ya bertarung secara fair, jgn krn punya modal banyak main sogok saja..
masih arogan ato bangga sbg alumni ITB?
kang ebonk yang tampan, tapi tetep masih lebih tampan gw
bisa aja nih tulisannya……
jadi solusinya apa nih??
baru ada urusan dikit dengan per-itb-an. note – IA. kesimpulannya….
yaaa… gitu dech….
woi dasar dari mana tuh ??
jangan2 kau curhat aja membicarakan kau sendiri,,
dasar anak sok idealis merasa lebih hebat pemikirannya dari yg lain,,sopanlah kaw bawa2 nama institusi,,
mentang2 lulus ip rendah ga dapat kerja ya gitulah klo stres
ah ga bisa masuk ITB sih makanya mencaci maki….hahaha…
Halo ebong anak bekasi…masih ngenalin gue kaga, btw lo dah jadi Bupati Bekasi belon??? he he he gimana kabarnya CS kite Arnold?????
nih No. HP gw 021-94699811
kenapa ya kalo ada alumnus ITB yg mengkritik institusinya sendiri atau mengkritik rekan2 sesama alumni ITB, langsung deh banyak orang non-ITB yg ikutan mengkritik?…seakan2 dendam atau dengki haha peace ah…salam buat ebonk…
katak dalam tempurung???? cuma besar lagak????
itb itu nomor 90 dunia di bidang teknologi…. masa dibilang besar lagak????
besar kemampuan sih iya…hehehe..
aq akui, sebagian anak itb emang arogan, tp gak jarang itb dibenci karena kesirikan orang…( uda saya alami sewktu kerja praktek )
saat saya bisa memberi solusi untuk proyek tsb, mreka bilang ” wajarla…anak itb…klo ga tau mah parah..”
tapi waktu saya ga bisa ” katanya itb???? masa ga bisa?? ” padahal satu kantor itu ( tak satupun alumni itb ) tak ada yg bisa ngasi masukan….
banyak yg tdk mengakui kehebatan itb, tetapi dia sendiri jauh lebih buruk!!



