Kumpulan video kampanye Hengki Triharyo di Youtube
Popularity: 12% [?]
Sepuluh tahun yang lalu gw masih nongkrong2 bareng si Arnold Henry You, Gultom, Danang. Mainnya di Lap basket. Kalau ngga di ruang 1201, ya GKU, tapi akhirnya ke Lap Basket lagi. Gw ga bisa maen basket. Cuma seneng liatin yang main basket. Akhirnya tau Arvin yang jago basket.
Trus ada yang rambutnya pendek ga karuan..botak ngga…cepak ngga, kalau jalan..ampun lambatnya dan celananya kedodoran. Kenalan, namanya Amrizal Ardiansyah. Suka minta rokok. Kirain waktu SMA jadi tukang palak. Ga taunya jago main gitar, waktu itu suka main lagunya Suede, “Picnic By The Motorway”.
Ada juga yang kurus, waktu itu hampir botak. Dari bangku atas R.1201 gaya jalannya mirip Jet Li. Namanya Amalfi Omang. Dari TPB sampai lulus masih pake jaket/sweater warna ijo. Lengkap dengan rantai di pinggang. Suka ngulik Metallica. Bolak-balik Cibolerang-Kampus pake Honda Bebek 70 ceper warna merah.
Trus, waktu kuliah di 9009/LFM, ada yang nongkrong sambil nyanyi dangdut. Kulit putih, paras menawan. Rajin belajar dan jarang kumpul. Namanya Hendi Wahyu. Nama Jawa, tapi dari Lampung. Ngga taunya pindah ke Arsitek tahun 1998.
Ada juga yang sering berbagi Marlboro, kuliah juga di Unpar. Namanya Ivan Armando. Suatu hari gw pernah nyeletuk “Dasar Cina” di depan si Ivan dan Arnold. Dan kami pun terdiam seribu bahasa. Sori, Van. Setelah Ivan ngga ada, si Arnold ngeplak kepala gua “Bilang apa lu tadi..anj*ng… gua juga denger…” Wah, ga enak banget sama si Ivan. Waktu itu kan sensitif ya. Sekarang, client2 gw kebanyakan Cina dan santai aja ngomong gitu. Paling dibalas: “Betawi gila lu!”
Entah ada apa, suatu hari ribut-ribut ada anak Fisika 97 yang dipanggil Pak Satria. Kasus pelecehan. Tersangka diketahui bernama Reza Ferial Ginandjar (10297052) dan Emil Sumirat (10297063). Dari tampangnya memang kelihatan anak bandel ya. Dua anak ini akhirnya sering muncul bolak-balik kantor Pak Satria. Yang lain kasak-kusuk,”Ah, masa sih”, “Ih, kok gitu ya”, “gile tu orang”, “eh gimana gimana”, banyak deh. Belakangan kasusnya masuk peti es, dianggap selesai. Namanya dibersihkan. Entah karena simpati atau penasaran, akhirnya jadi dekat sama mereka.
Kita juga pernah tanding basket lawan SR’97 di lapangan basket. Ada yang lagi jadi bintang juga, pake tutup kepala apa itu namanya… Namanya Dadang Suryana alias Poltus. Dari TPB sampe lulus pulang balik Soreang-Bandung. Anak juragan sembako di Soreang. Punya kembaran, namanya Diding. Ganteng nan rupawan, tapi takut sama cewek. Hahah…
Ada juga yang tampangnya tua banget. Badannya gede. Perawakannya keras, tapi hatinya lembut. Asli dari Ngawi. Kalau ngomong, kayak sepur. Namanya Bambang Joko Suroto. Punya logat khas jawa timuran. Kalau di kelas cukup aktif, terutama kuliah Kewiraan.
Yang lain, lanjutin dong. Udah kepanjangan nih.
Oya, ada yang masih ingat nama asli si Tile?
Happy anniversary teman-teman.
Popularity: 14% [?]
Tulisan ini dibuat untuk mengenang Sigit Haryoto, (EL’82, STEMA) yang telah meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi kami. Wasiat dari seorang sahabat.
Hengki, Sigit dan Saya
Oleh: Sujiwo Tejo, Matematika ‘80 dan Sipil ‘81
Ingat Sigit Haryoto, elektro ’82, ingat caranya ketawa.
Tapi saya lebih teringat sapaan pertamanya setiap kepergok saya di kampus Ganesha. “Perjuangan, Jo, Perjuangan,” salamnya sambil terkekeh-kekeh. Biasanya sembari ia kepalkan tangannya yang kanan.
….Lalu ia meninggal terserang jantung ….lalu, pas lagi rembukan soal visi-misi Hengki Trihario selaku calon Ketua Ikatan Alumni ITB….
Kini saya jadi pengin mengenang salam perjuangannya itu. Dulu saya sering bertanya, maksud Sigit apa ya dengan sapaan khas itu. Mungkin, bahwa hidup ini seyogyanya keras. Jangan cuma senang di tampuk kemapanan. Memang, waktu itu saya tidak mapan. Saya mendirikan Ludruk ITB tahun 83, antara lain bersama Nirwan Dewanto, Geologi ‘80, yang kini jadi sastrawan. Sigit aktif di unit yang sudah ada sebelumnya, Studi Teater Mahasiswa (Stema) ITB. Dua duanya unit yang tidak mapan. Dua-duanya unit kegiatan yang melarat.
Gemuk banget deh ketika itu Sigit. Sukanya baju hitam. Celana hitam pula. Pas mengacungkan kepalan tangannya, seraya terkekeh-kekeh dengan kumis dan kacamatanya, badan gemuk itu jadi tampak jenaka. Maka itu salam Sigit sama sekali tak terlalu saya anggap serius.
Belakangan ketika saya sering tandang ke kontrakannya di kawasan Bagusrangin (kini sudah jadi taman dekat gedung Telkom), saya baru sadar ada kemungkinan Sigit serius dengan salam perjuangannya. Buku-bukunya banyak banget. Kontrakannya jadi kayak perpustakaan. Lebih penting dari sekadar banyak, bukunya serem-serem. Kebanyakan tentang perjuangan, atau setidaknya tentang pikiran-pikiran yang sanggup menyulut daya juang.
Saya lantas mulai sering ke kontrakannya. Bahkan kerap menginap. Ya, sambil baca buku-bukunya. Sekali-sekali ngebantuin dia bikin drama. Sigit juga yang ngebantu saya bikin teater Belok Kiri Jalan Terus, tahun 1989, di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Ini teater khusus buat mas kawin pernikahan saya. Saya tidak punya duit sepeserpun buat mas kawin. Sigit, dengan dibantu teman temannya di Stema ITB, Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK) ITB serta dari Universitas Padjadjaran, bikin pementasan itu semuanya gratis.
Ini susah saya lupakan. Termasuk saya susah melupakan tabiat pejuangnya. Begini. Gedung pertunjukan waktu itu, entah karena apa, diisi oleh banyak tentara tiduran. Bedil-bedil tergeletak di lantai juga. Sampai ke gang dan teras-terasnya. Sigit tiba-tiba datang dengan sepeda motor Honda bebek merah, menerjang itu semua. Tanpa permisi. Prinsipnya, hari itu gedung sudah jadi hak pemakai, yaitu pihak Belok Kiri Jalan Terus. Saya sudah deg-degan dia bakal digampar tentara. Untung, peristiwa itu gak terjadi.
Setelah itu saya lama tak jumpa Sigit, kecuali pernah saya main ke rumahnya yang kuno dan bercat hijau kebiruan di Malang. Saya dengar dia sudah mundur sebagai wartawan majalah Tempo. Lalu saya dengar dia bikin majalah Ummat. Selesai lagi dengan Ummat-nya. Sigit lantas memimpin Metavisi, sebuah production house auidovisual di kawasan Pancoran.
Seperti saya duga, kiprahnya di Metavisi lantas tidak saya dengar lagi. Saya duga Sigit sudah berhenti. Saya hafal karakternya. Arek Malang itu kalau sudah punya prinsip, akan kokoh menggenggamnya. Dia pasti akan berantem, atau mundur dari lembaga yang tak mampu menampung prinsipnya.
Terakhir saya dengar dia pindah ke kawasan Bogor, bikin biro penelitian teknik dan sosial. Pernah nelepon saya minta gambar Arjuna sedang memanah. Belum sempat saya turuti permintaannya, dia sudah meninggal. Mungkin karena itu saya ingin menjalankan wasiatnya yang lain, yaitu Ikatan Alumni ITB jangan dipimpin oleh birokrat.
Menurut penelitiannya, birokrat selama ini terbukti tak mampu menjalankan roda Ikatan Alumni ITB. Setelah terpilih, biasanya birokrat cuma memakai Ikatan Alumni ITB buat kendaraan politik.
Wasiatnya yang lain, orang-orang ITB harus bergerak di sektor riil. Wah, saya cocok banget. Karena sudah banyak pakar ekonomi bilang bahwa tumpuan yang paling konkret seharusnya adalah sektor riil, bukan moneter.
Oke Git, sebagai sahabat, aku akan jalani wasiatmu. Aku melihat Hengki Trihario Susilo yang memimpin Rekayasa Industri memenuhi kriteria itu. Juga kriteria dari aku sendiri, yakni Merah-Putih yang mengutamakan anak bangsa serta local content lainnya. Aku gak terlalu kenal Hengki,tapi aku kenal bapaknya, Jenderal Soesilo Soedarman. Beliau pernah membuka pementasan wayangku di Jakarta. Almarhum pecinta local content. Berkat Pak Soes pula, menurut mantan bawahannya Joop Ave, pekan lalu, kini gamelan tetap tumbuh marak di tanah air termasuk Festival Gamelan Yogyakarta.
Sektor riil orang ITB pasti tak harus pabrik dan semacamnya. Produk kesenian sah pula jadi sektor riil anak-anak Ganesha, karena teknologi, ilmu pengetahuan dan kesenian, seyogyanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi para alumni ITB, yang kampusnya punya fakultas kesenian.
Dikutip dari Majalah Triharyo untuk Ketua Alumni IA-ITB
http://blog.triharyo.com/2007/10/30/download-majalah/
Popularity: 26% [?]
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Popularity: 18% [?]
Ya…
Ini memang tidak mudah
Ya…
Ini memang perlu kesabaran
Ya…
Ini memang perjuangan
Ya..
Gua ini memang panjang
Ya…
Aku harus kembali
Ya…
Aku harus keluar
Ya…
Aku mau keluar
Ya !
Aku mau jalan terus
Ya !
Rumahku di sana, bukan di sini
Ya !
Aku mau pulang
Popularity: 13% [?]
Langkahmu perlahan, tapi pasti
Menelusuri lintasan pulang dan pergi
Lurus atau berkelok, menurun atau mendaki
Tetap kau jalani
Rombonganmu selalu dinanti-nanti
Merayap di atas batang-batang besi
Walau bukan berlari
Kau gentarkan semua yang menghalangi
Ketel tua dari Jawa
Pudar warna karena usia
Tungku baja merah membara
Bersahaja dan penuh romantika
Meninggalkan jejak bukan nostalgia
Melintasi padang bukan tamasnya
Untuk gadis kecil di seberang sana
Yang menantikan kembang gula di hari raya
Insya Allah tahun depan gw jalan-jalan ke tempat ketel-ketel tua ini. Doakan ya
Popularity: 14% [?]



