Sujiwo Tejo: Hengki, Sigit dan Saya
Posted on 30th October 2007 by ebonkTulisan ini dibuat untuk mengenang Sigit Haryoto, (EL’82, STEMA) yang telah meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi kami. Wasiat dari seorang sahabat.
Hengki, Sigit dan Saya
Oleh: Sujiwo Tejo, Matematika ‘80 dan Sipil ‘81
Ingat Sigit Haryoto, elektro ’82, ingat caranya ketawa.
Tapi saya lebih teringat sapaan pertamanya setiap kepergok saya di kampus Ganesha. “Perjuangan, Jo, Perjuangan,” salamnya sambil terkekeh-kekeh. Biasanya sembari ia kepalkan tangannya yang kanan.
….Lalu ia meninggal terserang jantung ….lalu, pas lagi rembukan soal visi-misi Hengki Trihario selaku calon Ketua Ikatan Alumni ITB….
Kini saya jadi pengin mengenang salam perjuangannya itu. Dulu saya sering bertanya, maksud Sigit apa ya dengan sapaan khas itu. Mungkin, bahwa hidup ini seyogyanya keras. Jangan cuma senang di tampuk kemapanan. Memang, waktu itu saya tidak mapan. Saya mendirikan Ludruk ITB tahun 83, antara lain bersama Nirwan Dewanto, Geologi ‘80, yang kini jadi sastrawan. Sigit aktif di unit yang sudah ada sebelumnya, Studi Teater Mahasiswa (Stema) ITB. Dua duanya unit yang tidak mapan. Dua-duanya unit kegiatan yang melarat.
Gemuk banget deh ketika itu Sigit. Sukanya baju hitam. Celana hitam pula. Pas mengacungkan kepalan tangannya, seraya terkekeh-kekeh dengan kumis dan kacamatanya, badan gemuk itu jadi tampak jenaka. Maka itu salam Sigit sama sekali tak terlalu saya anggap serius.
Belakangan ketika saya sering tandang ke kontrakannya di kawasan Bagusrangin (kini sudah jadi taman dekat gedung Telkom), saya baru sadar ada kemungkinan Sigit serius dengan salam perjuangannya. Buku-bukunya banyak banget. Kontrakannya jadi kayak perpustakaan. Lebih penting dari sekadar banyak, bukunya serem-serem. Kebanyakan tentang perjuangan, atau setidaknya tentang pikiran-pikiran yang sanggup menyulut daya juang.
Saya lantas mulai sering ke kontrakannya. Bahkan kerap menginap. Ya, sambil baca buku-bukunya. Sekali-sekali ngebantuin dia bikin drama. Sigit juga yang ngebantu saya bikin teater Belok Kiri Jalan Terus, tahun 1989, di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Ini teater khusus buat mas kawin pernikahan saya. Saya tidak punya duit sepeserpun buat mas kawin. Sigit, dengan dibantu teman temannya di Stema ITB, Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK) ITB serta dari Universitas Padjadjaran, bikin pementasan itu semuanya gratis.
Ini susah saya lupakan. Termasuk saya susah melupakan tabiat pejuangnya. Begini. Gedung pertunjukan waktu itu, entah karena apa, diisi oleh banyak tentara tiduran. Bedil-bedil tergeletak di lantai juga. Sampai ke gang dan teras-terasnya. Sigit tiba-tiba datang dengan sepeda motor Honda bebek merah, menerjang itu semua. Tanpa permisi. Prinsipnya, hari itu gedung sudah jadi hak pemakai, yaitu pihak Belok Kiri Jalan Terus. Saya sudah deg-degan dia bakal digampar tentara. Untung, peristiwa itu gak terjadi.
Setelah itu saya lama tak jumpa Sigit, kecuali pernah saya main ke rumahnya yang kuno dan bercat hijau kebiruan di Malang. Saya dengar dia sudah mundur sebagai wartawan majalah Tempo. Lalu saya dengar dia bikin majalah Ummat. Selesai lagi dengan Ummat-nya. Sigit lantas memimpin Metavisi, sebuah production house auidovisual di kawasan Pancoran.
Seperti saya duga, kiprahnya di Metavisi lantas tidak saya dengar lagi. Saya duga Sigit sudah berhenti. Saya hafal karakternya. Arek Malang itu kalau sudah punya prinsip, akan kokoh menggenggamnya. Dia pasti akan berantem, atau mundur dari lembaga yang tak mampu menampung prinsipnya.
Terakhir saya dengar dia pindah ke kawasan Bogor, bikin biro penelitian teknik dan sosial. Pernah nelepon saya minta gambar Arjuna sedang memanah. Belum sempat saya turuti permintaannya, dia sudah meninggal. Mungkin karena itu saya ingin menjalankan wasiatnya yang lain, yaitu Ikatan Alumni ITB jangan dipimpin oleh birokrat.
Menurut penelitiannya, birokrat selama ini terbukti tak mampu menjalankan roda Ikatan Alumni ITB. Setelah terpilih, biasanya birokrat cuma memakai Ikatan Alumni ITB buat kendaraan politik.
Wasiatnya yang lain, orang-orang ITB harus bergerak di sektor riil. Wah, saya cocok banget. Karena sudah banyak pakar ekonomi bilang bahwa tumpuan yang paling konkret seharusnya adalah sektor riil, bukan moneter.
Oke Git, sebagai sahabat, aku akan jalani wasiatmu. Aku melihat Hengki Trihario Susilo yang memimpin Rekayasa Industri memenuhi kriteria itu. Juga kriteria dari aku sendiri, yakni Merah-Putih yang mengutamakan anak bangsa serta local content lainnya. Aku gak terlalu kenal Hengki,tapi aku kenal bapaknya, Jenderal Soesilo Soedarman. Beliau pernah membuka pementasan wayangku di Jakarta. Almarhum pecinta local content. Berkat Pak Soes pula, menurut mantan bawahannya Joop Ave, pekan lalu, kini gamelan tetap tumbuh marak di tanah air termasuk Festival Gamelan Yogyakarta.
Sektor riil orang ITB pasti tak harus pabrik dan semacamnya. Produk kesenian sah pula jadi sektor riil anak-anak Ganesha, karena teknologi, ilmu pengetahuan dan kesenian, seyogyanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi para alumni ITB, yang kampusnya punya fakultas kesenian.
Dikutip dari Majalah Triharyo untuk Ketua Alumni IA-ITB
http://blog.triharyo.com/2007/10/30/download-majalah/
Popularity: 26% [?]
Inna lillahi wa inna lillahi rojiun. Sigit Haryato adiknya Sigit Haryadi telah meninggal dunia.
Sama Tejo, aku juga belon pernah kenal Hengki, cuman pernah ketemu Bapaknya. Waktu itu dapat undangan nonton wayang di Jakarta. duduknya jejeran beliau
saya membaca majalah kampanye pak hengky ini waktu acara hearing di balikpapan kemaren. saya sedikit tertegun membayangkan bagaimana beliau meninggal di tengah2 kawan2 yang menyayanginya. apalagi ada cerita bahwa sebetulnya beliau sdg dalam kondisi yg kurang baik karena beberapa hari sebelumnya sempat pingsan.
tapi semangat pak sigit utk bersama teman2nya menggagas IA ITB mengalahkan kondisi fisiknya, dan dia mungkin sadar resikonya. bahwa fisiknya yang lemah mungkin akan menggagalkan semangatnya.
kematian itu dekat dan pasti.
selamat jalan pak, semoga bisa lebih berkreasi dan berjuang di alam sana. amin!
Sebegitu indahnyakah perjuangan yg dilakukan Mas Sigit? Hingga nama itu terus bergaung di hati teman-temannya…
meski jasad tak lagi bersua??
Aku jadi merasa berbangga diri.. Sempat tahu bahwa sosok itu ada. Sempat tahu bahwa STEMA punya manusia hebat. Yah….
Innalillahi, salam hormat kepada sigit haryoto.
saya curiga ada apa-apa dengan sigit waktu baca puisi karangan nirwan dewanto di kompas yang ditujukan untuk sigit. saya search di altavista dan buka situs ini.
saya kawan di stema saat sigit jadi ketuanya. kawan yang tulus kesan saya.
Selamat jalan kawan.
innalilahi wa inna ilaihi rojiun.
saya mengenal sigit haryoto ketika saya jadi anggota STEMA-ITB dan beliau
adalah senior mantan ketua STEMA.
Saya tidak sempat banyak bicara dengan beliau, karena jauhnya jarak angkatan. Tapi saya tetap salut sampai hari ini. Beliau selalu
membuat pementasan drama menjadi sangat kuat baik “isi maupun kemasan”
(ini ungkapan yang sering beliau ulang dalam beberapa diskusi”
selamat jalan senior.


