Hari ini di Benhil lagi ngobrolin ‘kapan mulai puasa’. Atau kapan jatuhnya tanggal 1 Ramadhan 1429H (H untuk hijriyah, bukan Hexadecimal). Nah, ceritanya teman saya itu yakin kalau 1 Ramadhan jatuh tanggal 1 September 2008, seperti perkiraan banyak orang.
Saya: “Tahun kemaren kan lu lebarannya duluan, kok sekarang puasanya bareng?”
Teman: “????”
Dia lebarannya duluan, tapi mulai puasanya bareng. Lebaran haji juga bareng. Tahun baru 1 Muharam juga bareng. Bisa gitu ya?
Sekaligus mau kirim-kirim pesan buat broer & zus:
- Marhaban wahai Ramadhan.
- Mohon maaf lahir & bathin.
- Semoga sehat dan ibadahnya lancar.
Popularity: 99% [?]
Seorang teman bercerita di suatu daerah di Jawa Barat masih banyak anak putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan pendidikan di sekolah.
Saya: “Lho, kan di sana ada sekolah gratis?”
Teman: “Iya, tapi gurunya ga ada yang mau ngajar di sana”
Saya: “Namanya juga gratis”
Apakah sekolah gratis benar-benar ada?
*dan apakah UFO benar-benar ada?* :p
Popularity: 95% [?]
Kita dipisahkan oleh politik sehingga kita berseberangan. Tapi kita disatukan oleh bisnis sehingga kita berdampingan.
Ada juga yang dipisahkan oleh bisnis tapi disatukan oleh persaudaraan. Tapi ada juga yang dipisahkan oleh persaudaraan tapi disatukan oleh bisnis.
Menemukan sesuatu yang bisa mempersatukan sungguh menyenangkan dan patut disyukuri sebagai anugrah dan nikmat sosial.
Sungguh malang orang-orang yang tidak pernah dipersatukan oleh apapun. Makanya jangan terlalu serius kalipun!
Popularity: 89% [?]
Ketika mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta menutup pidatonya dengan kalimat:
…atas nama bangsa Indonesia, Soekarno - Hatta
Dari manakah mandat atas nama bangsa Indonesia itu?
Popularity: 100% [?]
AKU ADALAH ARSITEK
AKU ADALAH PIONIR
AKAN KURANCANG DUNIA
MENJADIKANNYA DIRIKU
(Koil - Mendekati Surga)
Saya membeli buku karangan Eric Sink yang judulnya Eric Sink on The Business of Software. Salah satu bab di buku itu berjudul “Know Thy Self” dan isinya adalah pengalaman si penulis dalam memahami karakter dirinya sendiri. Eric menceritakan tentang indikator MBTI (Myers-Brigss Type Indicator) sebagai salah satu tools untuk mengetahui karakter seseorang.
Senin, 18 Agustus 2008 kemarin saya jalan ke Mangga Dua mall mau cari laptop baru. Pas lewat eskalator di lantai 3, ada toko buku clickbookshop. Saya mampir. Ternyata koleksinya bagus, dia punya buku-buku IT yang jarang ditemukan di tempat lain, kecuali Amazon
Saya menemukan buku Professional Software Development karangan Steve McConell. Bukan buku baru, tapi cukup terkenal. Karena bagus, saya beli buku tersebut.
Di salah-satu bab tersebut, Steve McConell menjelaskan sedikit lebih banyak tentang Myers-Brigss Type Indicator. Saya jadi terheran-heran. Sudah dua penulis buku software yang membahas tentang MBTI.
Karena penasaran, saya cari di Google dan masuk ke Wikipedia. Kemudian ikut salah satu test di Humanmetrics.
Dari kuesioner tersebut, saya punya tipe INTP (Introverted, Intuitive, Thinking, Perceiving) kemudian saya baca ulasan mengenai INTP di Keirsey.com. Inilah hasilnya:
Architects need not be thought of as only interested in drawing blueprints for buildings or roads or bridges. They are the master designers of all kinds of theoretical systems, including school curricula, corporate strategies, and new technologies. For Architects, the world exists primarily to be analyzed, understood, explained - and re-designed. External reality in itself is unimportant, little more than raw material to be organized into structural models. What is important for Architects is that they grasp fundamental principles and natural laws, and that their designs are elegant, that is, efficient and coherent.
Architects are rare - maybe one percent of the population - and show the greatest precision in thought and speech of all the types. They tend to see distinctions and inconsistencies instantaneously, and can detect contradictions no matter when or where they were made. It is difficult for an Architect to listen to nonsense, even in a casual conversation, without pointing out the speaker’s error. And in any serious discussion or debate Architects are devastating, their skill in framing arguments giving them an enormous advantage. Architects regard all discussions as a search for understanding, and believe their function is to eliminate inconsistencies, which can make communication with them an uncomfortable experience for many.
Gue banget ya :p
Sudah tau kan bagaimana keras kepalanya saya? Ini penjelasannya:
Ruthless pragmatists about ideas, and insatiably curious, Architects are driven to find the most efficient means to their ends, and they will learn in any manner and degree they can. They will listen to amateurs if their ideas are useful, and will ignore the experts if theirs are not. Authority derived from office, credential, or celebrity does not impress them. Architects are interested only in what make sense, and thus only statements that are consistent and coherent carry any weight with them.
Architects often seem difficult to know. They are inclined to be shy except with close friends, and their reserve is difficult to penetrate. Able to concentrate better than any other type, they prefer to work quietly at their computers or drafting tables, and often alone. Architects also become obsessed with analysis, and this can seem to shut others out. Once caught up in a thought process, Architects close off and persevere until they comprehend the issue in all its complexity. Architects prize intelligence, and with their grand desire to grasp the structure of the universe, they can seem arrogant and may show impatience with others who have less ability, or who are less driven.
Menurut Dr David Keirsey, tokoh-tokoh umat manusia yang setipe dengan saya: George Soros, Charles Darwin, Adam Smith, Thomas Jefferson, Albert Einstein dan Dr. David Keirsey sendiri. Hi, Doc! Senang bergabung dengan klub Anda
Sepertinya ini jauh berbeda dengan beberapa tahun silam. Dulu Saya orang yang nyablak (ngomong blak-blakan), suka dengan event-event, gemar berkumpul dengan teman-teman…
Tapi saya ingat, dua tahun lalu saya memang mendeklarasikan diri sebagai software architect, bukan software designer. Padahal sebetulnya belum punya pengetahuan yang cukup untuk mendalami bidang tersebut, hanya modal pikiran saja. Tapi hari ini ternyata sudah jauh berbeda.
Karakter manusia memang dinamis dan bisa berubah. Semuanya berasal dari pikiran. Oleh karena itu saya akan mendeklarasikan diri lagi untuk 2 tahun ke depan maunya jadi apa.
Kamu tertarik? Sudah tau indikator MBTI kamu?
Lebih lanjut:
- Wikipedia: Myers-Briggs Type Indicator
- HumanMetrics: Jung - Typology Test
- Keirsey.com - Rational Portrait of the Architect (INTP)
Popularity: 89% [?]
Siapa yang ngga pernah kena virus, trojan atau threat lainnya? Pasti semua orang yang pakai komputer pernah mengalaminya. Tapi pernah terpikir ngga, satu virus yang sama tapi efek yang ditimbulkan bisa berbeda-beda. Ada yang cuma rugi waktu, karena waktunya terbuang percuma untuk membersihkan virus dan menginstal ulang. Tapi, ada juga yang kerugiannya bisa meningkat secara eksponensial.
Hari ini, saya membatalkan pengiriman file installer ke customer karena file binary hasil kompilasi tersebut dihapus oleh Symantec Antivirus 10 karena terinfeksi Win32.Almanahe.B!inf. Pasalnya, laptop yang saya pinjam ternyata sudah terinfeksi virus tersebut. Saya curiga karena tidak biasanya koneksi ke jaringan jadi lambat, buka Google sering gagal, dan pada saat coding muncul pesan-pesan aneh.
Apa jadinya jika sistem yang diinfeksi adalah sistem milik perusahaan pembuat software? Proses konstruksi program berhenti, tambah kerjaan baru (membersihkan komputer dari virus), dan proses pengiriman deliverable ke customer (time to market) jadi terganggu. Jika program yang terinfeksi tersebut terlanjur didownload oleh customer, diinstall di servernya, dan virus tersebut menyebar di jaringan, berapa kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak?
Teman-teman harus camkan itu baik-baik!
Popularity: 82% [?]
Mencari SDM yang bisa diandalkan tidak gampang. Hampir 2 tahun saya belum menemukan jawaban, kebingungan menyusun sistem kerja, tidak ada jawaban yang pasti. Programmer yang skillnya canggih dan berpengalaman di perusahaan besar sekalipun, bukan jawabannya.
Akhirnya saya menemukan kunci jawabannya di sebuah artikel yang ditulis Eric Sink, seorang programmer yang pindah haluan menjadi entrepreneur, mendirikan sebuah ISV, dan mendevelop produk untuk dijual secara massal (gue banget kan?). Judulnya: Small ISVs: You need Developers, not Programmers
For the purpose of this article, a “programmer” is someone who does nothing but code new features and [if you're lucky] fix bugs. They don’t write specs. They don’t write automated test cases. They don’t help keep the automated build system up to date. They don’t help customers work out tough problems. They don’t help write documentation. They don’t help with testing. They don’t even read code. All they do is write new code. In a small ISV, you don’t want any of these people in your company.
Instead of “programmers” (people that specialize in writing code), what you need are “developers” (people who will contribute in multiple ways to make the product successful).
Saya keliru. Saya pikir dengan mempekerjakan programmer berpengalaman, dari lulusan PT yang punya reputasi, bisa menjawab permasalahan. Ternyata itu tidak benar. Ini bukan perkara kredibilitas atau integritas seseorang. Ini perkara CIRCUMTANCES yang berbeda.
Ternyata yang saya butuhkan adalah orang yang bisa diandalkan untuk membuat produk. Bukan sekedar menulis kode. Ya, ada perbedaan yang mendasar antara membuat produk dan menulis kode. Dan saya menemukan, ada orang yang expert soal coding dengan bahasa yang dikuasainya, namun tidak bisa membuat produk. Dan saya menemukan ada orang yang tidak begitu expert soal coding tapi bisa membuat produk. Contohnya saya dan kompetitor saya
Terus terang saya tidak memandang skill coding saya bagus-bagus amat, buktinya banyak junior2 yang lebih jago. Tapi kalau bikin produk, wah udah banyak. Apalagi kalau produk gagal ikut dihitung :p Begitu juga kompetitor saya. Saya lihat, skill coding bukan nilai tambah mereka dan juga bukan nilai tambah saya.
Dari poin tersebut, saya setuju dengan Eric Sink. Untuk circumtances seperti di perusahaan saya, developerlah yang dibutuhkan. Bukan programmer. Tulisan itu juga memberikan efek lain. Rasanya kesalahan saya masih bisa dimaafkan dan diperbaiki. Mungkin karena Eric dengan SourceGearnya pun melakukan kesalahan yang sama. Wah, di sini sama aja dengan di sono. Kita bisa melakukan kesalahan yang serupa.
Bagi Anda yang juga pernah melakukan Hiring Mistakes seperti saya, saya anjurkan membaca artikel tersebut dan juga bukunya.
Popularity: 82% [?]



