Archives by Subject

Arsip kategori 'opini'

Techie = Magician ?

What the eye see and the ears hear, the mind believes.
Harry Houdini, Hungarian-born American stage magician.

Siapa yang tidak kenal dengan Harry Houdini yang saya quote di atas, atau David Copperfield? Kita tentu senang menonton pertunjukan sulapnya baik secara langsung maupun lewat layar televisi. Kita pun tahu bahwa para pesulap melakukan tipuan-tipuan, atau trick, agar terlihat ajaib. Kita bahkan sadar akan ilusi itu sebelum acara dimulai. Tapi kita senang dengan tipuan-tipuan itu. Ya, karena kita senang ditipu, kita menyukai ilusi. :)

Apa yang terjadi saat mereka membongkar trik sulapnya? In the making of magic, ilusi diciptakan sedemikian mungkin tanpa melanggar believing system kita, namun mengeksploitasinya. Distraction, pengalih perhatian, adalah unsur penting dalam menciptakan ilusi selain unsur-unsur lainnya.

Tapi saya tidak akan bicara panjang lebar soal sulap atau magic, karena bukan ahlinya. Saya justru mau membahas soal IT. Lebih tepatnya anggapan masyarakat (yang salah) terhadap pekerja IT.

Seringkali di antara anggota masyarakat kita yang menganggap bahwa pekerja IT tidak lebih dari seorang tukang sulap. Mulai dari hal sederhana, memberikan tenggat waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan target tertentu. “Bisa ngga softwarenya jadi dalam sehari?”, emang gue Bandung Bondowoso? Microsoft saja butuh waktu lebih dari 2 tahun untuk merilis versi baru Windows.

Hingga melakukan hal-hal yang hanya bisa terjadi dalam film Hacker ataupun sejenisnya. Dengan layar monitor penuh gambar 3D atau penuh karakter aneh seperti Matrix, dengan efek suara yang genit, warna dominan item-ijo, dengan font terminal ala Starwars atau sejenisnya.

Sedemikian dahsyat ilusi yang ditanamkan lewat film-film maupun media kepada masyarakat sehingga para techie, atau geek tidak ubahnya para dukun atau penyihir di abad 21. Sedahsyat ilusi hantu yang diciptakan kepada kita sejak kecil lewat cerita maupun ajaran orang tua.

Sangat berlebihan! Sehingga tidak mengherankan jika ada orang yang menganggap orang IT bisa melakukan hal-hal seperti dalam film. Kalau tidak bisa, dianggap masih hijau.

Saya sendiri tidak percaya dengan ilusi-ilusi tersebut. Saya belum pernah melihatnya, belum pernah mempelajarinya, belum pernah menemukan hipotesa seperti itu. Karena saya cuma seorang engineer biasa. Kecepatan mengetik saya juga rata-rata. Kecepatan menghitung juga biasa-biasa saja.

Sekali lagi, Saya tidak mengatakan itu tidak mungkin. Mungkin saja ada orang yang bisa mengetik lebih dari 100 word per second, melakukan proses aritmatika dengan kecepatan 100 instruction per second. Saya katakan, sangat berlebihan dan terlalu didramatisir. Ya, perlu didramatisir, sebab jika tidak para penonton film hanya akan menyaksikan adegan yang membosankan, menyaksikan orang yang sedang menulis kode dan mendebug pasti sangat membosankan bagi orang lain.

Namun yang menyakitkan adalah apresiasi yang di luar batas, misalnya orang IT harus bisa melakukan cracking, mencuri uang di bank, melakukan deface, dll. Hal itu sama saja mendudukkan pekerjaan IT sama dengan pekerjaan mencuri. Artinya techie sama dengan kriminal!

Hey, di dunia ini banyak ladang commerce maupun e-commerce yang bisa menghasilkan uang banyak tanpa harus mencuri atau merugikan orang lain.

Tentu beda konteks jika dilakukan dalam koridor pertahanan negara atau untuk penyidikan.

Tapi hal ini juga tidak lepas dari karakter orang IT itu sendiri. Kita pasti sering menemukan bahwa kebanyakan orang IT adalah sekumpulan manusia aneh. Aneh dalam berpakaian, aneh dalam berkomunikasi, aneh dalam hobby, aneh dalam hampir semua kesehariannya. Techie yang bisa kelihatan seperti ‘manusia normal’ sangat sedikit jumlahnya. Menurut saya itu juga mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap techie maupun saintis.

Ah, cape deh.

Mulai sekarang, jangan cari tukang sulap di sini ya! Cari aja di Hollywood!

Technorati Tags:

Soal peringkat kampus terbaik

Well done is better than well said.(Benjamin Franklin)

Ketika saya masih kuliah, ketika itu tahun 1999, para kolega ramai membicarakan soal peringkat ITB di Asia versi Asiaweek. Seingat saya, karena saya tidak menyimpan majalahnya, ITB menduduki peringkat ke-19.

Good news or Bad news? Well, Yes and No.

Kabar buruk bagi beberapa orang (karena mungkin ekspektasi mereka terlalu tinggi). Mungkin berharap bisa lebih unggul dari Nanyang University, Beijing University, New Delhi Institute of Technology, dan sebagainya. How come? Kita tahu bahwa kampus New Delhi (secara fisik) tidak lebih baik dari sekolah dasar di Cimahi, namun peringkatnya lebih baik. Bahkan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia pun kalah. Kita juga tahu, bahwa pada jaman Orde Lama, mereka berguru di ITB. Sungguh mereka adalah murid yang berbakti kepada bangsa dan ilmu pengetahuan.

Wajar jika ketika itu kami tidak puas. Mengapa untuk masuk peringkat ke-10 besar saja masih kalah dengan mereka? Dimana letak masalahnya? What is going wrong? Should we kick someone’s ass for this shame? Begitu mungkin yang ada dalam benak pikiran orang.

Diskusi digelar. Forum-forum kecil muncul di mana-mana. Tulisan berisi komentar, opini, analisa, cacian dan makian, semua ada. Bahkan orang tua dan saudara saya yang jauh dari Bandung pun bertanya hal yang sama. Bah!

Kami di PSIK juga menggelar diskusi serupa. Tidak begitu formal namun fokus. Kami tidak mengkaji mengapa bisa demikian. Kami mengkaji APA artinya ini? Situasi apa yang sedang berkembang? Apa tujuannya? Kemana arahnya? Apa efeknya? Apa untung dan ruginya?

Sangat sederhana dan pragmatis, bukan? Begitulah watak saya dan kawan-kawan di sana.

Kita tahu para pakar menggunakan pendekatan rasional dengan alat ukur seperti: rasio dosen vs mahasiswa, expenses tahunan untuk riset, jumlah lulusan yang diterima oleh MNC, dan lain sebagainya. Kami tidak! Menggunakan alat ukur demikian tidak memberikan manfaat apa-apa jika hasilnya akan sama. Kami tidak menginginkan output yang sama.

Kami menemukan hal yang menarik. Seorang teman, Lutfi, memiliki pendapat yang berbeda. Dia mengatakan, hasilnya sangat sederhana bagi dunia usaha. Standar gaji lulusan ITB akan lebih rendah dari pada lulusan terbaik lainnya di Asia. Pertanyaannya, adakah sebuah konspirasi di belakangnya? Everything is possible.

Kabar baik atau kabar buruk? Ya dan tidak.

Kabar buruk, punya gaji rendah itu mimpi buruk bagi lulusan ITB yang merasakan bahwa masuknya susah, kuliahnya susah, lulusnya juga susah (kayak saya ini). Lulus sarjana, digaji rendah. Bah! Itu kalau kita berpikir pendek dan dangkal.

Kabar baiknya: untuk bersaing dengan lulusan Singapore, India, Korea, bahkan Eropa dan Amerika, kita punya keunggulan yaitu bayarannya murah tapi kualitasnya bisa lebih baik. Pernah saya temukan gaji lulusan India bisa 7 kali lebih tinggi dari lulusan ITB. Apalagi untuk gaji bule di perusahaan minyak. Bisa belasan kali lebih tinggi.

Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh lulusan China. Lulusan China jago-jago, sangat produktif, fokus pada hasil, bisa dipercaya, dan gajinya murah. Alhasil, mereka banyak diminati di mancanegara. Pun India, setiap tahunnya sekitar 2 juta lulusan India hijrah ke luar negeri. Tadinya itu sebuah kerugian bagi India. Bagaimana tidak, tiap tahun mereka kehilangan investasi dari subsidi pendidikan yang kabur ke luar negeri. Tapi sekarang, hal itu tidak berlaku. Investasi dari subsidi itu kembali ke India dengan deras dari arus transfer uang lulusan India di mancanegara ke negara India.

Teman saya mengingatkan, kalau saya ada di pihak perusahaan, buat apa saya gaji bule atau India? Toh di Indonesia juga banyak dan gajinya pakai rupiah. Bisa diperiksa, berapa prosentase karyawan asing di perusahaan oil & gas di Indonesia.

Saya pikir, betul juga. Jika kita terpancing untuk melakukan tindakan berdasarkan pemikiran yang pendek dan dangkal seperti gaji, popularitas, kemewahan fasilitas, sumbangan finansial, kita akan tenggelam dalam keglamoran intelektual. Hal itu mengarah pada kehancuran yang nyata.

Menurut saya, semua harus diukur dari output. Kita diperbolehkan untuk puas dengan hasil kerja kita di ITB, sebab itu penting untuk munculnya energi dan motivasi baru. Namun sepatutnyalah kita melakukan introspeksi dan tidak bisa puas diri dengan adanya peringkat kampus terbaik versi Asiaweek.

Bapak Sun-Tzu mengajarkan bahwa jika kita menggunakan aturan lawan, kita akan kalah perang. Sudah semestinya kita menggunakan aturan dan strategi perang kita sendiri. Kita harus fokus pada tujuan-tujuan jangka panjang dan konsisten dengan cita-cita tersebut. Menjalankan semua tahap-tahap yang logis dan melakukan evaluasi terus menerus supaya terjadi percepatan/improvement.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap peringkat tersebut? Menurut saya, introspeksi dan terus berambisi untuk bekerja lebih baik. Klasik dan slogan banget ya?

Okelah, bagaimana kalau begini?

We dont f#ck#in care!
Itu urusan Asiaweek. Hahahahahaha…

Technorati Tags:

Ngga kapok juga?

Sampai hari ini gue baru sadar ternyata udah lebih dari 4 (empat) tahun we stand on the business. Jatuh bangun. Dibanting berkali-kali. Bubar-gabung berkali-kali. Bikin lagi. Bubar lagi. Bikin lagi. Jatuh lagi. Naik lagi. Dibanting lagi. Oww, capek juga ..

Nah, gue udah dibilangin ribuan kali. Dibujuk berkali-kali. Udah lah, ngapain repot-repot. Lowongan banyak tuh. Masukin CV gih.. Yang penting kan ada pemasukan bulanan. Relatif lebih aman. Dari pada gini… sekarang ada…besok belom tentu.

Tergoda? Ya tentu dong!

Masalahnya, kalau mengingat bahwa fundamental ekonomi kita yang terganggu, apa ada pekerjaan yang aman? Kalau sektor riil kita macet, apa ada jaminan bakal aman? Kalau tingkat inflasi melebihi ambang normal, apa ada tabungan/investasi yang aman? Kalau Undang-Undang Tenaga Kerja masih susah diterapkan, apa hak-hak kita terlindungi? Kalau nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing masih rendah, apa ada gaji yang memuaskan?

selengkapnya »

Ketika Pasokan Listrik Terancam

Tidak hanya pasokan pangan, pasokan energi khususnya listrik sangat berpengaruh bagi kegiatan ekonomi kami para pengusaha kelas teri. Padamnya listrik selama setengah jam saja sudah cukup untuk bikin kepala pusing. Bayangkan jika terjadi pada jam tertentu dimana terjadi transaksi dalam jumlah cukup banyak harus dihentikan karena listriknya jepret. Kalau cuma mengandalkan UPS, paling juga 5-15 menit, abis itu UPS akan menjerit sekeras-kerasnya. Mana bisa berkarya kalau listriknya BYARR…PETT begitu.

Tanpa publikasi yang digembar-gemborkan, beberapa kota sudah mengalami pemadaman listrik secara bergilir. Tentu saja sebelum latah menyalahkan PLN, sebaiknya kita tengok beberapa isu-isu terkait. Karena pekerjaan menyalahkan ini udah ga laku, apalagi menyalahkan pelaku monopoli.

selengkapnya »

Masa Depan Nuklir di Indonesia

Sepuluh tahun lagi, mungkin di Indonesia akan banyak dibangun pusat pembangkit tenaga listrik dengan bahan bakar nuklir. Semoga cita-cita mulia demi membangun bangsa penghasil energi terbesar di muka bumi ini tidak kandas digerogoti regulasi dan monopoli.

Bukan tidak mungkin akan ada banyak reaktor-reaktor mini yang dijual untuk pengguna rumahan. Kendaraan umum seperti bus, monorail, maglev, shuttle, subway, kapal ferry akan mengganti mesinnya atau sumber energinya dari nuklir. Berbagai perusahaan pembuat reaktor mini dan penjual bahan bakarnya akan berlomba-lomba untuk mengikat hati konsumennya. Copywriter jempolan yang mengerti trend jaman itu akan sangat dibutuhkan, mengingat tidak semua slogan bisa cocok. Nuklir bukan barang mainan anak kecil yang bisa dijual dengan merayu sang ibu atau sang anak agar memilikinya. Bukan juga seperti deterjen yang bisa di”demo”kan di hadapan ibu-ibu komplek dan ditayangkan di tivi.

Selain itu, citranya sebagai energi yang ramah manusia dan lingkungan harus dibangun dalam waktu lama dan akan menelan investasi yang tidak sedikit. Kira-kira, seperti apa ya bentuk iklannya? Mungkin seperti ini kali ya..

Pakai Nuklir, lupakan yang lain.

Yang lebih bagus dari Nuklir? Yang lebih mahal banyak.

Orang pintar pakai tenaga Nuklir.

Sembilan dari 10 perempuan di Indonesia memakai Nuklir.

Pakai nuklir, sudah tradisiii….

Ngay juga pake…

Saya pakai dua…

Nuklir *****, nuklir buat kita-kita (modelnya abg)

Buang sampah nuklir ke tempatnya.
(Pemprov X)

Selamatkan bumi
(Aktifis Lingkungan)

Iklan Layanan Masyarakat ini disampaikan oleh Badan Tenaga Atom Nasional bekerja sama dengan Dirjen Tenaga Atom Departemen Pertambangan dan Energi Republik Indonesia dan IAEA.

Heheheh… 10 tahun lagi ya…