Archives by Subject

Arsip kategori 'personal'

Nasib Baik

Sekepal nasib baik jauh lebih nikmat dari satu truk kata-kata bijaksana dan segudang mimpi indah.

Memang Aneh

Bapak-bapak yang saya hormati,

adalah aneh kalau mengatakan hal seperti aneh,

menciptakan kegiatan yang tidak perlu adalah bukan aneh bagi birokrasi. Semangat ini memang lahir sejak 1950 dalam peraturan kepegawaian dimana pegawai negeri memang di disain untuk menyerap tenaga kerja. Jadi itu lah misinya yang terus dilestarikan.

Air bisa dikuasai oleh swasta itu juga aneh, karena melanggar UUD
BUMN dijual itu juga aneh arena melanggar UUD
PTBHP itu juga aneh karena semangatnya bertentangan dengan UUD untuk mewujudkan cita-cita proklamasi

MA dalam kasus Meruya itu juga aneh
Depdiknas yang ngotot setelah putusan pengadilan itu juga aneh
Mengurus negara dengan menganggap rakyat bukan pusat pemikiran juga aneh.
Suap-menyuap, palak-memalak, uang rakyat itu juga aneh

Tidak ada yang aneh di negeri ini

Yang aneh adalah mereka yang masih mempunyai integritas moral dan
mencintai bangsa dan negeri ini.

Terima kasih untuk pak As (as[at]jmn.net.id) yang telah mengizinkan saya untuk mencomot postingnya di milis Telematika.

Ampun ngilunya

“Yak, ternyata normal. Thrombosite normal, Erithrosite normal, Laju Endapan Darah (LED) normal, yang lain juga. Kenapa saya minta test yang ini, karena tadi ada keluhan ke arah liver, ternyata engga. Tadi juga ada indikasi TBC atau paru, ternyata ngga.” Begitu kata dokter di UGD RSAL Dr. Mintohardjo kepada saya.

Phew, lega tapi rasa ngilu akibat jarum suntik untuk mengambil darah di tangan kanan saya masih tersisa. Ketika darah saya diambil untuk dites oleh petugas laboratorium, saya pelototin tuh jarum suntik sampai dia puas nyedot darah saya. Saya menolak untuk kehilangan satu detik pun, takut ada yang netes. Tusukan pertama gagal, tusukan kedua di vena yang lebih besar. Sakit sekali tapi lancar. Ya iya laahhh, gede gitu uratnya. Bekas tusukan pertama jadi bentol dan ditutup kapas yang dibasahi alkohol.

Percaya atau tidak, selama lebih dari 20 tahun saya tidak pernah disuntik. Sebelumnya saya cuma disuntik dua kali. Pertama waktu bayi, imunisasi cacar. Yang kedua waktu kelas satu SD tahun 1985, istilahnya dikuris. Hayoo, masih ingat?

Setelah itu, tidak pernah. Saya tidak pernah suka jarum suntik, bahkan untuk isi ulang tinta printer. Menurut saya jarum suntik adalah ide bodoh untuk menyembuhkan orang, apalagi untuk isi ulang tinta printer.

Saya harus rela benda itu menusuk vena saya karena perintah dokter, untuk cek darah. Dan saya harus lihat. Ampun ngilunya, dia gesek-gesek pula jarum itu di tangan saya. Mengalirlah cairan berwarna kehitaman, kok kaya tinta printer ya?

Setelah satu jam, hasil tes darah saya ambil dan serahkan ke dokter. Saya bersyukur ternyata keluhan saya, muntah dan ada darahnya, tidak begitu buruk.

“Sepertinya ada gejala ke arah gastritis, saya buatkan resepnya.. mau disuntik ya?” Lanjut pak dokter.

Disuntik? Lagi? Dua kali dalam waktu kurang dari 2 jam? Ini rekor sepanjang hidup saya. Sebetulnya saya tidak mau, tapi … gengsi dong…ntar dibilang takut…

“okeh…” saya jawab.

Kemudian saya disuruh berbaring. Kali ini seorang perawat yang akan melakukannya. Karena tangan kanan sudah ada perbannya, akhirnya dari tangan kiri. Saya disuruh mengepal sementara siku diikat.

Tusukan pertama di vena yang kecil…Awwww…. gagal. Katanya tangan terlalu tegang. Apah?? Okelah, saya akui saya agak tegang.

Tusukan kedua di vena yang agak besar… Adowwww…..berhasil masuk setengah…tapi gagal lagi…Buset!!! Udah ngilunya dobel, masih belom juga?

Tusukan ketiga di ujung siku, di vena yang paling besar, Iyaawwwww…… mau teriak tapi maluu… jadi cuma bisa merem….dudududududuu….

“Nanti kalau sudah mendingan, ambil obatnya di apotek Yanmasum.” kata perawat.

“Jadi sudah selesai, mbak”, saya tanya.

“Sudah selesai, sudah boleh pulang”, jawab perawat.

FINALLY! Sudah boleh pulang. Hampir 2 jam di UGD, saya mulai merasakan tidak nyaman. Untung sudah boleh pulang.

Saya tidak menunda sampai merasa baikan. Saya ambil resep dan melangkah keluar ruangan menuju apotek. Tangan rasanya tidak bisa diluruskan, ngilunya itu lho. Buka pintu pun dorong pakai bahu. Sampai apotek, saya serahkan resep dan obat saya bawa pulang.

Sampai di basecamp di Benhil, rasanya tidak bisa dilupakan. Bagaimana logam itu mengesek vena saya. 5 tusukan dalam 2 jam. Kenapa begitu susah, padahal saya kan kurus. Vena bisa ditemukan dengan mudah.

Ampunn ngilunya!

Powered by ScribeFire.

Marching

Wahai Tuhan kami, pemilik revolusi dalam hidup kami.

Kami merasakan situasi yang sulit akan tiba dalam waktu dekat ini.
Kami melihat sesuatu di kejauhan sana.
Sebuah situasi yang akan meremas kuat jantung kami.
Sebuah kenyataan yang akan memeras adrenalin kami.
Sebuah kondisi di mana kami akan menjadi galau dan bingung.
Sebuah pertaruhan di mana nasib kami berada di tanganMu.
Sebuah titik di mana kami harus bersiap menghadapi takdirMu.

Kami bertanya-tanya.
Apakah yang harus kami lakukan?
Keputusan apakah yang harus kami ambil?
Siapakah yang harus kami percayai di dunia ini selain Engkau?
Tanda-tanda apakah yang telah Engkau tunjukkan dan kami tidak menyadarinya?
Kesalahan apakah yang telah kami lakukan dan kami belum memperbaikinya?

Kami memohon dalam sujud kami kepada Mu, Sang Revolusi.
Persiapkanlah mental dan fisik kami.
Tuntunlah dan tunjukkanlah dengan terang, seterang-terangnya.
Bekali kami dengan ilmu dan iman.
Persenjatai kami dengan hati dan pikiran yang bersih.
Jagalah kekuatan finansial dan politik kami.

Sehingga saat Engkau menjatuhkan takdir Mu di masa krisis itu.
Kami ada di pihak yang benar dan menang.
Bukan di pihak yang kalah dan zalim.
Dalam melawan musuh kami, yang ada dalam diri kami, maupun di luar diri kami.

Sehingga saat Engkau menentukan mana yang menang dan kalah.
Mana yang benar dan salah.
Mana yang alim dan zalim.
Kami selalu berada dalam lindungan Mu.

Jauhkanlah kami dari sifat yang malas dan lalai. Arogan dan gila hormat.
Sebab itu akan menutupi mata hati kami dari segala informasi yang ditujukan kepada kami.
Jauhkanlah kami dari kesalahan para leluhur kami, para pendahulu kami, para senior kami, para guru kami.

Sehingga saat Engkau jatuhkan takdir Mu itu
Kami tetap dalam kondisi menguasai diri, kesadaran, akal sehat dan perasaan kami.
Sehingga walaupun Engkau renggut semua hak Mu dari kami,
Harta, kekuasaan, popularitas, kepercayaan orang, investasi, sahabat, dan semua orang yang kami cintai
Kami tidak menyimpan benci dan dendam.
Kami tidak akan kehilangan kontak dengan Mu.

Saksikanlah butir kristal air yang meleleh dari mata dan hidung kami.
Sungguh kami merasakan ketakutan yang amat sangat.
Dan kami tahu harus kemana jika kami merasa takut.
Dan kami datang kepada Mu.
Sebab hanya Engkau yang tidak pernah tuli.
Sebab hanya Engkau yang mampu menolong kami.
Sebab hanya Engkau yang kami percayai.
Sebab hanya Engkau yang tidak pernah lupa.
Sebab hanya Engkau yang selalu menepati janji kepada kami.

Bukan mereka.
Bukan sistem manajemen kami.
Bukan strategi perang kami.
Bukan buku-buku kami.
Bukan finansial kami.
Bukan relasi-relasi kami.
Bukan sistem komputasi kami.

Karena hanya Engkau yang nyata dan mampu terhindar dari ilusi ciptaan kami sendiri.

Kuasailah pikiran kami, perasaan kami, kesadaran batin kami.
Perangilah dalam diri kami semua hal yang bisa menjadi sekutu bagi Mu.
Fokuskan, dan arahkan panca indera kami.
Bersihkan benci, dendam, iri, dengki, serakah, bodoh dari dalam diri kami.

Iringi setiap langkah kami.
Amin.

Powered by ScribeFire.

Oleh-oleh Tour

Pulang jalan-jalan dari Malang, Solo dan Jogja jadi punya oleh-oleh hasil ngelamun di bordes kereta.

Tiga Unsur Penting

Dalam sebuah tim, setidaknya harus punya orang-orang dengan tipikal Explorer (penjelajah), Hunter (pemburu), dan Farmer (petani).

Sang Penjelajah cukup memiliki keberanian to explore the unknown. Ketajaman untuk membaca arah tujuan biasanya bisa dilatih dengan proses. Menemukan “peta-peta baru” dan memberikannya pada si pemburu. Dalam melakukan hal ini, dia harus mampu melakukannya sendirian.

Sang Pemburu melacak objek sasaran, menentukan posisi target dan memutuskan kapan harus menarik pelatuk senapannya.

Sang Petani mengumpulkan hasil buruan dan mengolahnya dalam sistem yang berkesinambungan. Detil dan seksama. Rapi terorganisir.

Mengingat raport saya dalam hal yang terakhir masih merah, semoga Tuhan bermurah hati untuk mengajarkan saya untuk lebih berdisiplin.

Jika ketiga unsur itu masih belum memungkinkan untuk diload dalam satu container, semoga Tuhan bermurah hati untuk memberikan saya partner yang bisa menggantikannya.

Jika tidak, cukuplah raport-raport saya yang masih merah bisa diperbaiki sejak saat ini.

powered by performancing firefox