Well done is better than well said.(Benjamin Franklin)

Ketika saya masih kuliah, ketika itu tahun 1999, para kolega ramai membicarakan soal peringkat ITB di Asia versi Asiaweek. Seingat saya, karena saya tidak menyimpan majalahnya, ITB menduduki peringkat ke-19.

Good news or Bad news? Well, Yes and No.

Kabar buruk bagi beberapa orang (karena mungkin ekspektasi mereka terlalu tinggi). Mungkin berharap bisa lebih unggul dari Nanyang University, Beijing University, New Delhi Institute of Technology, dan sebagainya. How come? Kita tahu bahwa kampus New Delhi (secara fisik) tidak lebih baik dari sekolah dasar di Cimahi, namun peringkatnya lebih baik. Bahkan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia pun kalah. Kita juga tahu, bahwa pada jaman Orde Lama, mereka berguru di ITB. Sungguh mereka adalah murid yang berbakti kepada bangsa dan ilmu pengetahuan.

Wajar jika ketika itu kami tidak puas. Mengapa untuk masuk peringkat ke-10 besar saja masih kalah dengan mereka? Dimana letak masalahnya? What is going wrong? Should we kick someone’s ass for this shame? Begitu mungkin yang ada dalam benak pikiran orang.

Diskusi digelar. Forum-forum kecil muncul di mana-mana. Tulisan berisi komentar, opini, analisa, cacian dan makian, semua ada. Bahkan orang tua dan saudara saya yang jauh dari Bandung pun bertanya hal yang sama. Bah!

Kami di PSIK juga menggelar diskusi serupa. Tidak begitu formal namun fokus. Kami tidak mengkaji mengapa bisa demikian. Kami mengkaji APA artinya ini? Situasi apa yang sedang berkembang? Apa tujuannya? Kemana arahnya? Apa efeknya? Apa untung dan ruginya?

Sangat sederhana dan pragmatis, bukan? Begitulah watak saya dan kawan-kawan di sana.

Kita tahu para pakar menggunakan pendekatan rasional dengan alat ukur seperti: rasio dosen vs mahasiswa, expenses tahunan untuk riset, jumlah lulusan yang diterima oleh MNC, dan lain sebagainya. Kami tidak! Menggunakan alat ukur demikian tidak memberikan manfaat apa-apa jika hasilnya akan sama. Kami tidak menginginkan output yang sama.

Kami menemukan hal yang menarik. Seorang teman, Lutfi, memiliki pendapat yang berbeda. Dia mengatakan, hasilnya sangat sederhana bagi dunia usaha. Standar gaji lulusan ITB akan lebih rendah dari pada lulusan terbaik lainnya di Asia. Pertanyaannya, adakah sebuah konspirasi di belakangnya? Everything is possible.

Kabar baik atau kabar buruk? Ya dan tidak.

Kabar buruk, punya gaji rendah itu mimpi buruk bagi lulusan ITB yang merasakan bahwa masuknya susah, kuliahnya susah, lulusnya juga susah (kayak saya ini). Lulus sarjana, digaji rendah. Bah! Itu kalau kita berpikir pendek dan dangkal.

Kabar baiknya: untuk bersaing dengan lulusan Singapore, India, Korea, bahkan Eropa dan Amerika, kita punya keunggulan yaitu bayarannya murah tapi kualitasnya bisa lebih baik. Pernah saya temukan gaji lulusan India bisa 7 kali lebih tinggi dari lulusan ITB. Apalagi untuk gaji bule di perusahaan minyak. Bisa belasan kali lebih tinggi.

Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh lulusan China. Lulusan China jago-jago, sangat produktif, fokus pada hasil, bisa dipercaya, dan gajinya murah. Alhasil, mereka banyak diminati di mancanegara. Pun India, setiap tahunnya sekitar 2 juta lulusan India hijrah ke luar negeri. Tadinya itu sebuah kerugian bagi India. Bagaimana tidak, tiap tahun mereka kehilangan investasi dari subsidi pendidikan yang kabur ke luar negeri. Tapi sekarang, hal itu tidak berlaku. Investasi dari subsidi itu kembali ke India dengan deras dari arus transfer uang lulusan India di mancanegara ke negara India.

Teman saya mengingatkan, kalau saya ada di pihak perusahaan, buat apa saya gaji bule atau India? Toh di Indonesia juga banyak dan gajinya pakai rupiah. Bisa diperiksa, berapa prosentase karyawan asing di perusahaan oil & gas di Indonesia.

Saya pikir, betul juga. Jika kita terpancing untuk melakukan tindakan berdasarkan pemikiran yang pendek dan dangkal seperti gaji, popularitas, kemewahan fasilitas, sumbangan finansial, kita akan tenggelam dalam keglamoran intelektual. Hal itu mengarah pada kehancuran yang nyata.

Menurut saya, semua harus diukur dari output. Kita diperbolehkan untuk puas dengan hasil kerja kita di ITB, sebab itu penting untuk munculnya energi dan motivasi baru. Namun sepatutnyalah kita melakukan introspeksi dan tidak bisa puas diri dengan adanya peringkat kampus terbaik versi Asiaweek.

Bapak Sun-Tzu mengajarkan bahwa jika kita menggunakan aturan lawan, kita akan kalah perang. Sudah semestinya kita menggunakan aturan dan strategi perang kita sendiri. Kita harus fokus pada tujuan-tujuan jangka panjang dan konsisten dengan cita-cita tersebut. Menjalankan semua tahap-tahap yang logis dan melakukan evaluasi terus menerus supaya terjadi percepatan/improvement.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap peringkat tersebut? Menurut saya, introspeksi dan terus berambisi untuk bekerja lebih baik. Klasik dan slogan banget ya?

Okelah, bagaimana kalau begini?

We dont f#ck#in care!
Itu urusan Asiaweek. Hahahahahaha…

Technorati Tags: